
Jangan mudah percaya pada mulut manis dan tipu daya wanita, mungkin itulah yang dijadikan acuan oleh Devon agar tidak mudah percaya pada wanita lain selain istrinya.
Hari ini Devon ingin menjebak Lisa sendiri. "Aku bukan laki-laki bodoh yang bisa kau perdaya Lisa," gumam Devon.
Ia pun menghubungi Lisa agar wanita itu mau bertemu dengannya. Lisa tentu tidak menolak dengan permintaan Devon. "Ini kesempatan bagus bagiku untuk kembali merebut hatinya," gumam Lisa sambil menarik ujung bibirnya.
Setelah itu Lisa dan Devon bertemu di sebuah restoran yang mereka sepakati. "Sudah lama menunggu?" Tanya Lisa pada Devon yang lebih dulu datang.
Wanita itu meletakkan tas jinjingnya di atas meja lalu ia duduk di kursi yang ada di depan Devon.
"Tidak, aku juga baru saja sampai," jawab Devon.
"Kau ingin pesan apa?" Tanya Devon menawarkan menu makanan.
"Bagaimana kalau kita pesan sampaign, bukankah malam ini sangat romantis," kata Lisa dengan nada yang dibuat-buat.
Devon tersenyum sinis. Ia bisa menyimpulkan kalau Lisa pura-pura hamil. Mana mungkin wanita hamil meminum minuman keras, pikirnya.
"Baiklah, aku akan memesankan sampaign yang paling mahal untukmu," kata Devon dengan seringai liciknya.
Devon mengamati Lisa yang meminum sampaign yang ia pesan tanpa beban. "Emm rasanya benar-benar nikmat," kata Lisa mengomentari minuman yang ia minum.
"Ya ini memang minuman spesial tapi kadar alkoholnya tinggi, kalau kau tidak terbiasa meminumnya kau akan cepat mabuk," ungkap Devon.
"Mana mungkin? Aku sudah biasa meminum minuman beralkohol seperti ini. Bagiku minum sedikit saja tidak akan membuatku mabuk," kata Lisa sambil terkekeh.
Devon mengulas senyum. "Tapi bukankah kau sedang hamil?" Kata-kata Devon membuat Lisa ingat kalau dia sedang bersandiwara.
"Tak masalah, aku hanya minum sedikit tak akan berpengaruh," jawabnya dengan gugup.
"Baiklah, besok aku antar kau periksa ke dokter untuk memastikan kondisi bayimu benar-benar dalam keadaan baik-baik saja," kata Devon pura-pura memberi perhatian pada Lisa.
"Aku sangat tersentuh tapi aku sudah periksa kemaren, jadi tidak perlu lagi datang ke dokter," elak Lisa agar kebohongannya tidak ketahuan.
"Baiklah, aku hanya ingin memastikan saja sebagai bentuk rasa tanggung jawabku," kata Devon.
"Jika kau ingin bertanggung jawab padaku, nikahi aku secepatnya!" Lisa menekan Devon secara halus.
__ADS_1
"Baik, tapi setelah anak itu lahir dan terbukti kalau dia benar darah dagingku." Perkataan Devon sungguh mengejutkan Lisa.
"Omong kosong, orang-orang akan mencibirku, lalu mau kutaruh dimana mukaku," geram Lisa dengan keputusan Devon.
"Aku hanya tidak mau kau berbohong. Satu-satunya cara membuktikan kalau kau sedang mengandung anakku adalah dengan menunggunya sampai lahir lalu melakukan tes DNA."
Sungguh di luar dugaan. Lisa mengira kalau Devon akan memberikan keputusan untuk menikahinya. Namun, ternyata Devon memiliki cara lain untuk menolaknya secara halus.
"Aku sungguh kecewa Mas. Kukira kau laki-laki yang bertanggung jawab ternyata kau sama saja seperti laki-laki hidung belang di luar sana," cibir Lisa.
"Aku tidak keberatan kau mencibirku, aku hanya tidak ingin dibodohi oleh wanita licik sepertimu," kata Devon dengan penuh penegasan.
"Kau sudah lihat kan surat keterangan yang menyatakan aku positif hamil, lalu perlu bukti apa lagi hm?"
"Zaman sekarang semua bisa berjalan sesuai dengan keinginan jika ada uang bukan? Mungkin saja kau membeli surat keterangan palsu," tuduh Devon.
Lisa mengepalkan tangannya. Ia berusaha untuk tidak tersulut emosi. "Tega sekali kau menuduh wanita baik-baik sepertiku," ucapnya sambil terisak.
"Aku hanya melakukannya sekali denganmu, lalu kau menuduhku berbohong seolah aku hanya mengarang cerita?" Lisa menggeleng. "Sungguh picik pemikiranmu Mas?" imbuhnya kemudian. Devon tertawa terbahak mendengar cibiran Lisa.
Di sisi lain, Tommy geram melihat Devon yang sedang makan dengan seorang wanita. "Dia kan wanita yang waktu itu datang ke acara pernikahan Cindy? Kenapa dia bisa makan malam berdua dengan Devon? Dimana Cindy?" Tommy bertanya-tanya.
Irene yang baru tiba tampak cantik memakai dress selutut yang diberikan oleh Tommy. "Kamu cantik sekali," puji Tommy ketika ia melihat calon kekasihnya itu.
"Pak, saya tidak mengerti mengapa saya diajak ke sini," kata Irene polos.
"Duduk dulu, kamu mau pesan apa?" Tanya Tommy pada Irene.
Irene yang gugup mengedarkan pandangannya agar tidak menatap wajah Tommy yang tampan. Tapi ketika matanya tertuju pada dua orang yang makan tak jauh dari mejanya itu, mimik wajahnya berubah.
"Irene aku mengajakmu ke sini karena aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu," Tommy mulai mengutarakan maksud hatinya mengajak Irene makan malam. Ia mengucapkannya dengan posisi menunduk.
"Dasar tak tahu malu," umpat Irene.
Tommy terkejut dengan jawaban Irene.
"Ren, aku tulus mencintai kamu, hatiku tiba-tiba mengarah ke kamu."
__ADS_1
"Semua Laki-laki sama aja," Irene makin geram.
Tommy mengerutkan keningnya. Tommy pun melihat Irene dengan seksama. Ia melihat Irene tidak fokus padanya tapi memperhatikan Devon dan Lisa yang sedang makan malam berdua.
"Pantas saja dia selalu mengumpat ternyata dia melihat mereka," gumam Tommy kesal. Acara makan malam romantisnya berubah karena kehadiran Devon dan wanita itu.
"Eh mereka pergi," Irene hendak menyusul tapi Tommy menahannya.
"Biarkan mereka, itu bukan urusanmu," kata Tommy.
Irene pun kembali duduk. Ia tetap tidak bisa tenang. Oleh sebab itu ia menghubungi Cindy melalui pesan singkat yang ia kirimkan.
"Malam ini adalah malam yang penting bagi kita berdua," Tommy memegang kedua tangan Irene dan menggenggamnya dengan erat.
Jantung Irene seolah ingin lari dari tempatnya. "Pak, saya..." Tommy menutup mulut Irene dengan satu jarinya.
"Aku menyukaimu." Kata-kata Tommy sukses membuat Irene membelalakkan matanya. Ia tak menyangka seorang kaya raya seperti Tommy tertarik pada wanita cupu sekelas Irene.
...***...
Cindy melihat ponselnya bergetar. Ia meraih ponsel itu dan membaca pesan yang masuk. "Apa, Mas Devon sedang makan malam bersama wanita itu?" Geram Cindy ketika membaca pesan singkat dari sahabatnya.
"Aku tidak mau kalah dari wanita j@lang sialan itu," gumam Cindy.
Cindy sengaja menunggu kepulangan suaminya. Ia sudah mandi dan memakai parfum yang ia beli dari Paris.
Wanita dengan satu anak itu sengaja menggoda suaminya. "Baru pulang mas?" Tanya Cindy dengan suara yang mendayu-dayu.
Devon memperhatikan dandanan Cindy yang tak biasa. "Malam ini kamu terlihat cantik sayang," puji Devon ketika melihat bibir Cindy berhias gincu warna merah merona itu. Hasrat kelakian Devon seolah bangkit.
Ia menarik pinggang Cindy dengan posesif. "Aku menginginkanmu malam ini," kata Devon. Lalu ia mencium leher Cindy.
Cindy menarik ujung bibirnya. "Aku akan melayanimu Mas," bisik Cindy di telinga Devon.
Laki-laki itu menggendong tubuh istrinya lalu merebahkannya di atas sofa yang ada di ruang televisi.
Devon meraup bibir Cindy dengan rakus. Namun, tiba-tiba suara tangisan Cello terdengar kencang. Cindy berlalu meninggalkan Devon.
__ADS_1
Cindy tersenyum menyeringai ketika berhasi mengerjai suaminya. Sementara itu Devon memukul sofa karena kesal karena gagal bercinta dengan istrinya.