
Hallo para pembaca setiaku, terima kasih yang sudah membaca novel ini sampai part ini. Mohon dukungannya dengan memberikan like, vote dan poin ya. Jangan lupa klik favorit dan juga komen yang banyak.
...♥️♥️♥️...
Malam ini di saat anak-anaknya tidur Cindy memeriksa berkas pelamar kerja. Ia bahkan mengbaikan suaminya. "Kamu sedang apa?" Tanya Devon sambil memeluk Cindy dari belakang.
"Ini mas aku lagi menyeleksi pegawai baru untuk menggantikan Irene," jawab Cindy. Tangannya masih sibuk memilah kertas yang berisi biodata para pelamar kerja.
"Apa tidak bisa dikerjakan besok pagi saja, ini sudah malam sayang, kamu tidak tidur?" Tanya Devon.
"Aku harus dapat pengganti Irene secepatnya mas. Nanti tokoku tidak ada yang mengelola."
"Padahal aku sangat menginginkanmu sayang," Devon mengecup bahu Cindy yang terbuka. Ia juga mencium leher terakhir menggigit kecil telinga istrinya.
Cindy berbalik badan. "Jangan menggodaku!" Devon malah menyeringai ketika istrinya protes.
Setelah itu, Devon menangkup wajah Cindy dengan kedua telapak tangannya lalu menempelkan bibirnya ke bibir ranum Cindy sekilas.
"Ku mohon malam ini, aku sangat merindukanmu." Cindy mengangguk.
Malam ini pasangan suami istri itu menghabiskan malam panasnya tanpa gangguan. Anak-anak tidur di kamar terpisah sehingga mereka bisa bermesraan sepuas mereka.
Menjelang subuh, Cindy bangun terlebih dulu untuk melihat bayinya di kamar lain yang ditemani Sari, pengasuhnya. Ternyata Baby Daisy telah bangun maka Cindy pun memberikan ASInya.
Namun, ia membawa Daisy ke kamarnya. "Kamu pinter, bangun tapi nggak nangis" puji Cindy pada anaknya.
Hari sudah mulai pagi, Cindy harus membangunkan Cello dan Ruby untuk bersiap ke sekolah. Setelah itu ia juga harus menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Sebuah kegiatan yang biasa dilakukan oleh para istri di rumah. Kegiatan yang membuat para ibu yang selalu sibuk di pagi hari. Bayangkan jika tidak ada ibu, apakah ayah mampu menyiapkan segala sesuatu untuk anaknya?
Banyak orang yang sering menyelepekan peran ibu. Padahal ibu banyak bekerja keras di rumah. Othor sedih kalau ada yang bilang wanita yang menganggur itu tidak ada kerjaan sama sekali. Meski tidak bekerja di kantor atau tempat kerja lainnya, pekerjaan rumah tak pernah habis. Masih bisa bilang ibu hanya menganggur ketika di rumah?
"Ma, hari ini aku nggak mau sekolah," rengek Cello.
Cindy terkejut mendengarnya. "Lho kenapa sayang?" Ia menanyakan alasan Cello.
__ADS_1
"Pengen main sama Daisy," jawab Cello polos. Cindy menepuk jidatnya.
"Ya ampun Cello. Main sama adeknya selesai pulang sekolah kan bisa," geram Cindy. Cello malah menangis. Cindy pusing menyaksikan drama anaknya pagi-pagi.
"Ada apa ini?" Tanya Devon.
"Cello nggak mau sekolah, Pa." Cindy mengadu pada suaminya.
"Ya sudah biarin aja sih Ma. Sekali ini." Devon malah mendapat pelototan dari sang istri.
"Ma, aku berangkat dulu." Ruby meraih tangan Cindy dan Devon untuk berpamitan.
"Hati-hati sayang." Pesan Cindy pada anak angkatnya.
"Aku juga berangkat kerja dulu," pamit Devon setelahnya.
"Cello kamu nggak mau bareng papa nak berangkat ke sekolah?" Bujuk Cindy. Cello menggeleng. Dia masih bersikeras tidak mau berangkat ke sekolah.
"Ya sudah kamu di rumah ya sama mbak Sari jangan nakal. Mama harus ke toko sebentar."
"Anak baik di rumah saja ya, mama mau kerja," bujuk Cindy sehalus mungkin.
"Nggak mau," Cello malah menangis. Terpaksa Cindy mengajak anak laki-lakinya itu. "Tapi janji ya di sana kamu tidak boleh mengganggu mama," pesannya pada sang anak. Cello mengangguk cepat.
Setelah itu, Cindy menitipkan Daisy pada mbak Sari sebelum mereka berangkat. Hari ini Cindy harus menghubungi satu orang yang akan dijadikan pegawai di tokonya. Lalu ia memutuskan untuk menghubungi Lisa.
Lisa segera datang setelah mendapat pesan singkat dari Cindy. "Maaf apa kau sudah menunggu lama?" Tanya Lisa yang baru sampai.
"Apakah kamu mau bekerja di sini?" Tanya Cindy memastikan. Lisa mengangguk cepat.
"Baiklah, aku akan memberikan masa percobaan selama sebulan jika kamu bisa melewati masa percobaan yang aku tetapkan kamu sebagai pegawai tetap di sini."
Lisa menyetujui aturan yang diberikan Cindy. "Baiklah aku akan mengajari kamu untuk hari ini. Besok kamu bisa mulai bekerja sendiri."
Cello bermain sendirian selagi Cindy mengajari Lisa. Namun, ia berlari-lari di bagian dapur.
__ADS_1
"Dek, jangan masuk ke sini. Kamu keluar dulu ya," larang salah seorang pegawai yang sedang membuat roti.
"Nggak mau aku mau bantu," jawab Cello.
Pada saat salah seorang pegawai baru mengangkat roti dari oven, Cello tak sengaja menyenggolnya.
Prank
Nampan itu terjatuh. Cello terkena nampan yang panas itu. Tangannya memerah. Cindy yang mendengar suara bising dari dapur segera berlari ke arahnya.
"Ada apa ini?" Cindy melihat dapur berantakan. Lalu ia berjongkok ketika Cello menangis sambil memegangi tangannya yang memerah.
Para pegawai Cindy tertunduk karena takut. "Mbak Dian, coba jelaskan pada saya!"
"Tadi kami sudah melarang Mas Cello bermain di sini Bu tapi dia tidak mau keluar." Cindy melotot pada Cello.
"Ayo kita pulang lalu obati lukamu," ucapnya sambil menggendongnya.
"Lisa kamu stay di sini. Kalau tidak mengerti kamu bisa telepon aku," perintah Cindy pada Lisa sebagai pegawai barunya. Lisa mengangguk paham.
Setelah itu, Cindy membawa Cello pulang ke rumahnya. Selama di perjalanan Cindy tak berbicara sepatah kata pun pada Cello. Cello menyadari kemarahan ibunya. Ia hanya bisa tertunduk takut.
Sesampainya di rumah, Cindy mengambil obat oles untuk mengobati luka lebam karena kulit Cello yang memerah.
"Untung hanya merah kaya gini, bagaimana kalau kamu terkena api? Kenapa harus main di dapur sih Cello? Dapur kan berbahaya buat anak-anak," omel Cindy sambil mengobati luka Cello.
Cello menangis sesenggukan. Ia merasa bersalah tapi sekaligus takut pada ibunya. "Lain kali tidak boleh ikut mama bekerja, kamu bandel." Cindy masih mengomel karena kesal pada anaknya yang tidak mau menurut apa kata Cindy hingga tangannya sampai terluka.
Cello makin menjadi Cindy jadi bingung menenangkan anaknya. Di saat yang bersamaan Daisy menangis karena terganggu dengan tangisan Cello yang bising di telinganya. Cindy jadi frustasi karena kedua anaknya menangis bersamaan.
Rasanya ingin ikut menangis saja. Tapi itu bukan solusi. Cindy mencoba tenang menghadapi keduanya. Pertama ia memenangkan Daisy dengan memberinya ASI lalu setelah agak tenang ia menghampiri Cello.
"Mama minta maaf ya sayang, kalau mama membuat kamu takut. Mama janji tidak akan marah lagi sama Cello tapi Cello juga janji sama mama Cello akan menuruti perkataan mama," Cello mengangguk.
Tak ada ibu yang berniat menyakiti perasaan anaknya. Hanya saja terkadang caranya yang salah sehingga mereka harus berbuat kasar pada anaknya. Namun, ibu juga terpaksa melakukan itu jika kehabisan cara untuk membuat anaknya takluk.
__ADS_1
Othor harap para ibu di sini bisa menjadi ibu yang bijak ya 🙏