
Lisa masih dalam mode waspada. Ia bekerja sambil mengamati rekaman yang diperlihatkan oleh minispy yang dia pasang di vas bunga yang ia taruh dekat mesin kasir.
Selain bekerja sebagai kasir, Lisa juga keluar masuk ruangan jika sedang tidak ada pembeli untuk menulis pembukuan.
Di saat itulah kemungkinan dimanfaatkan oleh pelaku untuk mencuri uang yang ada di dalam mesin kasir. Tapi bagaimana bisa kalau kunci dipegang oleh Lisa.
Tak lama kemudian dia melihat laki-laki yang tak lain adalah Danu mendekati mesin kasir. Dia tampak mencurigakan. Danu menolak ke kanan kiri lalu membuka mesin kasir itu dengan kunci cadangan. Tak ada yang mengetahuinya karena semua karyawan sedang berada di belakang. Entah dari mana dia bisa mendapatkan kunci yang cocok.
Lisa mengepalkan tangan ketika dia mengetahui pelaku yang mencuri uang beberapa hari ini. "Kamu kira aku bodoh. Lihat saja aku akan memberikan bukti ini kepada polisi agar kamu ditangkap. Aku tahu kamu ingin membalasku karena kejadian waktu itu," gumam Lisa mengamati rekaman saat Danu membuka laci mesin kasir.
Tak lama kemudian Lisa beranjak dari tempat duduknya. Danu segera menjauh setelah mendapat apa yang dia inginkan.
"Kamu kira aku tidak tahu rencanamu?" Sindir Lisa ketika berpapasan dengan Danu.
Danu melirik wanita itu. "Apakah kamu sedang mengancamku?" Tanya Danu dengan nada dingin.
Lisa tersenyum menyeringai. Lalu tiba-tiba Cindy datang. Lisa terkejut akan kedatangan Cindy yang tiba-tiba tapi tidak dengan Danu. Laki-laki itu menjauh dan menyembunyikan uang hasil curiannya di tas Lisa ketika Lisa tengah menyambut Cindy.
"Aku datang karena ini hari terakhir masa percobaan yang aku berikan padamu," ucap Cindy pada Lisa.
"Aku ingin lihat pembukuan toko." Lisa bergegas mengambil buku toko yang diminta Cindy.
Lalu gugup berdiri di depan Cindy. Cindy memperhatikan Lisa. "Kamu kenapa?" Tanya Cindy pada Lisa.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu?" ungkap Lisa.
"Apa itu?" Tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Sudah beberapa hari ini toko kehilangan uang." Lisa berkata jujur.
"Aku sudah tahu karena ada salah seorang pegawai yang melapor kepadaku."
Lisa terkejut mendengar penuturan Cindy. "Apa kau mencurigai aku?"
Cindy menarik ujung bibirnya. "Aku tidak menyebut namamu tapi kalau kau mau mengaku aku akan memaafkanmu. Namun aku tidak bisa mempekerjakan kamu di sini lagi." Cindy masih menunggu jawaban Lisa.
"Bukan aku yang mencuri uang itu, aku punya buktinya." Lisa menyerahkan ponselnya pada Cindy. "Lihatlah rekaman yang aku simpan di ponsel ini," kata Lisa.
Danu yang mengawasi gerak-gerik Lisa langsung mendekat ke arah dua wanita tersebut. "Tunggu," Danu pura-pura menyenggol bahu Lisa hingga ponsel yang ia pegang terjatuh.
Ponsel Lisa pecah ia tidak bisa memberikan bukti pada Cindy. Danu tersenyum karena merasa menang. Lisa menatap tajam ke arah Danu. Dia tahu Danu ingin menghancurkan barang bukti agar dia tidak ketahuan mencuri uang tersebut.
"Dasar laki-laki baji**Ngan," umpat Lisa dalam hatinya.
"Maaf kalau saya menyela, bagaimana kalau kita periksa satu persatu tas para pegawai di sini agar kita tahu siapa yang mencuri uang toko." Usul Danu.
Cindy menerima usulan dari Danu. Dia pun mengumpulkan karyawannya dan tas mereka diperiksa satu persatu.
Cindy menemukan sejumlah uang di tas Lisa. "Apa ini?" Cindy mengangkat lembaran uang berwarna merah itu di hadapan Lisa.
"Kurang ajar rupanya dia menyembunyikan uang hasil curiannya di tasku. Dia berhasil memfitnah ku di depan Cindy." Gumam Lisa di dalam hatinya.
"Aku tidak tahu bagaimana uang itu bisa berada di dalam tasku." Lisa menyangkal karena dia memang tidak melakukan perbuatan yang bisa merusak kepercayaan Cindy padanya.
"Lalu apa ini Kamu sengaja membawa banyak uang di tasmu?" Geram Cindy. Dia merasa ditipu oleh Lisa.
__ADS_1
Entah bagaimana cara Lisa meyakinkan Cindy Cindy sudah hilang kepercayaan padanya. "Aku berniat memberitahumu siapa yang sebenarnya mencuri tapi handphone-ku pecah. Jadi aku tidak memiliki bukti itu." Ucap Lisa dengan frustasi. Matanya memerah menahan air matanya agar tidak tumpah.
Cindy mengerutkan keningnya dia tidak tahu maksud Lisa apa. Sedangkan Danu yang bebas dari tuduhan menjadi angkuh di depan Lisa.
Cindy menyuruh Lisa keluar dari tokonya dan saat itu juga dia memecat Lisa secara tidak hormat. Lisa tidak bisa membuktikan kalau dirinya tidak bersalah. Lisa menerima keputusan Cindy karena dia tidak bisa membela dirinya.
Lisa ingat dia masih menyimpan minispy yang dia letakkan di vas bunga di dekat mesin kasir. "Lihat saja nanti aku pasti bisa membuktikan kalau kamu yang sudah mencuri uang itu aku," gumam Lisa yang menujukan kata kamu untuk Danu.
Lisa pergi ke sebuah bar untuk minum-minum. Dia sangat kesal pada Cindy dan Danu. "Kenapa nasibku selalu tidak beruntung?" Racaunya.
"Jadi kamu belum bisa menangkap pencuri itu?" Tanya teman Lisa.
"Dia berhasil memfitnah aku. Uang yang dicuri malah ditaruh di tasku sehingga Cindy memecatku dengan tidak hormat." Lisa kembali meneguk minuman beralkohol yang terasa pahit tapi enak untuk dinikmati.
"Sudah jangan kebanyakan minum nanti kalau kamu mabuk aku yang repot," protes temannya.
"Ah biarin aja besok aku sudah tidak bekerja lagi. Jadi malam ini kita minum sepuasnya."
Saat itu Devon sedang meeting bersama kliennya di bar tersebut. Dia melihat Lisa dari kejauhan. Devon perhatikan Lisa tampak kacau. Cindy pernah bercerita kepada suaminya kalau Lisa diangkat sebagai pegawai sementara guna menggantikan posisi Irene.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Devon pada Lisa. Devon peduli kepada wanita itu karena dia sekarang menjadi pegawai Cindy. Dia hanya tidak mau terjadi sesuatu yang bisa menyeret nama baik Cindy.
"Mas Devon katakan kepada istrimu kalau aku tidak mencuri uangnya," jawab Lisa dalam posisi mabuk.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Devon penasaran.
"Aku dipecat istrimu karena dituduh mencuri uang toko. Padahal bukan aku yang mencurinya, suerr" ucap Lisa sambil menggebrak meja karena tidak terima pada keputusan Cindy.
__ADS_1
"Kamu sudah mabuk berat. Ayo aku antar pulang," ajak Devon.
"Apa kita akan menghabiskan malam ini bersama-sama?" Lisa mengalungkan tangannya ke leher Devon. Devon tidak jadi kaget apalagi Lisa tiba-tiba menciumnya. Devon mendorong Lisa hingga dia terjatuh. Alhasil dia mengundang perhatian para pengunjung bar tersebut. "Assial. Kamu benar-benar merepotkan."