
"Duduklah nona," kata Devon saat Cindy bangun dari tempat duduknya.
"Apa saya mengganggu anda?" tanya Devon yang masih berdiri.
"Tidak pak, saya hanya terkejut dengan kedatangan anda," jujur Cindy.Ia tak lagi mengawasi pasangan itu.
"Kenapa bisa jadi kebetulan begini ya?" ucap Devon dengan santainya.
"Saya sedang makan siang di sini pak," bohong Cindy. Padahal dari tadi dia tidak memesan menu makanan sama sekali.
"Lalu mana makanannya?" Tanya Devon yang tidak melihat makanan di atas meja.
"Sudah dibawa pelayan ke belakang," bohongnya.
"Kalau begitu apakah anda akan kembali?" Tanya Devon sedikit kecewa.
"Tidak Pak jam makan siang saya belum selesai," bohongnya.Padahal dia tidak rela kalau melewatkan pertemuannya dengan Devon.
"Bolehkah anda menemani saya makan?" Tanya Devon.
"Tapi saya sudah makan Pak," tolak Cindy yang merasa tidak enak.
Devon tahu kalau Cindy berbohong. Laki-laki itu mengulas senyumnya."Apakah saya setua itu sehingga anda memanggil saya dengan sebutan Pak?" Devon meminta pendapat Cindy.
"Tidak anda masih sangat tampan," ucap Cindy sedikit malu-malu.
Devon kembali mengulas senyum di wajahnya ketika mendengar kejujuran Cindy.Lalu Devon memanggil pelayan dan meminta mereka menyiapkan makanan yang paling istimewa di restoran tersebut.
"Pak maksud saya Mas kenapa memesan makanan sebanyak ini?" Tanya Cindy yang merasa kebingungan.
__ADS_1
"Tentu saja untuk anda makan," jawab Devon.
Mulut Cindy menganga saat Devon memberitahu bahwa makanan itu untuknya."Saya tidak akan mampu menghabiskan semua makanan ini."
Devon tertawa melihat wajah Cindy menggemaskan itu."Kalau anda tidak bisa menghabiskan semua makanan ini ada bisa membawanya pulang," kata Devon.
Wajah Cindy berbinar. Ia pun membawa pulang sebagian makanan yang telah dibayar oleh Devon.
"Irene, Alan aku bawa makanan nih buat kalian," teriak Cindy setibanya di kantor.
"Mam ke mana aja sih pada ngeluh tuh gara-gara kelamaan nungguin mami,akhirnya mereka pulang, besok mau kesini lagi katanya," Irene menyampaikan keluhannya.
"Maaf tadi kan aku lagi di lapangan," kata Cindy beralasan.Dia tidak menyampaikan bahwa hari ini dia makan siang bersama Devon.Cindy tidak mau Irene dan Alan salah paham kepadanya.
Alan mengambil bungkusan dari tangan Cindy."Wah makanan mahal, dapat uang dari mana?"
Cindy berpikir sejenak untuk membuat alasan."Kebetulan tadi ada klien yang masih mengingat wajahku jadi dia membelikanku makanan ini sebagai ucapan terima kasih," bohong Cindy.
"Sering-sering nih mam dapat traktiran kayak gini,kan kita juga yang kecipratan," ucap Alan sambil tergelak.
***
Devon tampak senang setelah menemui Cindy. Hal itu bisa dilihat ketika ia bersenandung saat berjalan menuju ke ruangannya.
"Tampaknya anda menikmati makan siang hari ini pak?" Sindir Bayu pada atasannya.
Namun Devon tak menghiraukannya.Ia kembali tersenyum mengingat obrolannya dengan Cindy sebelumnya.
***
__ADS_1
Flashback on
"Nona apa anda sering makan di tempat ini?" Tanya Devon mencoba mencari tahu.
"Tidak, saya tidak mungkin bisa membayar makanan di restoran semewah ini," jawaban Cindy sudah dapat disimpulkan kalau tadi dirinya berbohong.
"Maaf,"ucapnya kemudian lalu menunduk.Devon hanya tersenyum mendengar permintaan maaf Cindy.
"Makanlah nona aku tahu kamu lapar," perintah Devon.
"Apa?? Baru beberapa waktu yang lalu dia memanggilku dengan sebutan anda sekarang dia mengucapkan kata kamu," batin Cindy yang merasa senang.
"Terima kasih Pak, bolehkah saya memanggil anda dengan sebutan Mas," Cindy menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Tentu saja saya bukan lagi klien anda anggaplah kita sudah berteman," kata Devon.
"Ah satu lagi bisakah anda tidak menyebut kata anda saat kita berbicara, kesannya terlalu formal bisakah anda menggunakan kata kamu," pinta Cindy.
"Baiklah, kamu kamu kamu," ucapan Devon membuat jantung Cindy berdebar.Dia sampai memegangi dadanya.
"Cindy kamu tidak apa-apa?" Tanya Devon sedikit cemas saat Cindy terus memegang bagian dadanya.Cindy menggeleng.
Cukup lama mereka mengobrol Cindy sampai lupa waktu. Lalu ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Maaf sepertinya saya harus kembali," pamitnya kemudian.
"Sepertinya kamu buru-buru,apakah saya boleh mengantar kamu, kebetulan saya membawa mobil sendiri."
Entah ini hari baik atau memang keberuntungannya Cindy bersorak dalam hatinya. Ingin sekali dia berjingkrak saat Devon menawarkan tumpangan tapi tidak dihadapan laki-laki itu.
__ADS_1
Devon membukakan pintu mobil untuk Cindy. Lagi-lagi Cindy terkesan dengan sikap hangat yang ditunjukkan oleh Devon.
Sejenak Cindy berpikir kenapa laki-laki sesempurna itu tidak bisa mencari pasangan sendiri. Namun,Cindy tidak mau berpikir yang aneh-aneh. Akan sangat menguntungkan jika Devon tidak mengenal wanita lain selain dirinya. Cindy berharap dia adalah jodoh Devon.