
Lisa sengaja mengunjungi apartemen Bayu. Ia ingin membujuk mantan tunangannya itu agar mau kembali padanya. Meskipun ia sadar telah mencampakkan Bayu. "Kamu siapa?" Tanya Lisa. Ia terkejut karena yang membukakan pintu bukanlah Bayu.
"Aku mencari Bayu," imbuhnya lagi.
Irma hanya mematung. Tiba-tiba Lisa menerobos masuk. "Kenapa anda tidak sopan nona?" Tegur Irma.
"Hei aku ini tunangannya dan sudah terbiasa keluar masuk apartemen ini, kau sendiri siapa? Kau tiba-tiba berada di apartemen tunanganku?" Lisa berkata dengan angkuh.
"Saya, saya..." Irma ragu untuk menjawab.
"Lisa apa yang kau lakukan di sini?" Sentak Bayu yang tiba-tiba datang padahal dia sudah pergi tadi. Irma merasa terselamatkan.
"Irma apa wanita ini mengganggumu?" Tanya Bayu pada wanita itu.
"Tidak," jawab Irma singkat.
"Bayu, darimana saja kau?" Lisa bergelayut manja di lengan Bayu.
"Lepaskan Lisa," Bayu menhempaskan tangan Lisa.
"Aku kembali karena ada flashdisk ku yang tertinggal, jadi aku mengambilnya. Kau, apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Bayu pada Lisa.
"Aku tentu saja merindukan tunanganku," Lisa sengaja berkata sambil melirik ke arah Irma. Hati Irma terasa tertusuk jarum setiap kali Lisa menyebut Bayu sebagai tunangannya.
"Ralat omonganmu itu. Kita sudah putus, kau bukan lagi tunanganku," tegas Bayu. Irma mengulas senyum samar.
"Ayolah Bay, bukankah kau juga masih merindukanku?" Bujuk Lisa sambil meraba bagian dada Bayu. Bayu seketika mendorong Lisa.
"Keluar dari sini, aku harus bekerja. Aku tidak ada waktu untuk melayani perempuan culas sepertimu."
Lisa merasa tidak terima Bayu menyebutnya culas. "Apa wanita ini yang akan menggantikan posisiku?" Sentak Lisa.
__ADS_1
Bayu menarik ujung bibirnya. "Ya, karena dia adalah ibu dari anakku." Lisa yang mendengar itu seolah tersambar petir.
"Dasar wanita sialan. Kau sengaja menjebak Bayu agar kau hamil anaknya, hm?" Lisa berbuat nekad dengan menarik rambut Irma. Irma meringis kesakitan.
"Lisa lepaskan dia!" Bentak Bayu tapi tak ditanggapi oleh Lisa.
Lisa lalu mendorong Irma agar ia terjatuh dan keguguran tapi Bayu segera menangkap tubuh Irma. "Kamu tidak apa-apa?" Tanya Bayu dengan lembut. Irma menggeleng.
Bayu melihat ke arah Lisa dengan tatapan nyalang. Ia menghampiri Lisa dan menamparnya dengan keras. "Kamu tidak bisa dikasih hati Lisa, pergi dari sini atau aku akan membunuhmu jika aku lihat kamu menyakiti Irma dan bayi di kandungannya lagi," ancam Bayu tidak main-main.
Lisa bergidik ngeri hingga tubuhnya gemetar. Tidak hanya merasakan sakit di pipi, ia juga merasakan sesak di dadanya karena Bayu menolaknya mentah-mentah.
Lisa menghentakkan kaki lalu pergi meninggalkan apartemen Bayu.
"Jangan bukakan pintu lagi jika ada yang mengetuk. Aku tak perlu mengetuk pintu karena aku bisa masuk dengan mudah." Irma mengangguk patuh. Bayu mengecup kening Irma sekilas. Hal itu membuat jantung Irma berdebar kencang.
Setelah itu Bayu kembali ke kantor. Lisa masih menunggu di parkiran mobil. Dia kembali ke apartemen Bayu setelah memastikan mobil Bayu keluar dari area apartemen tersebut. Lisa mengetuk pintu tapi sesuai arahan Bayu Irma tidak boleh membukakan pintu untuk siapa pun. Tak juga dibukakan, Lisa masuk bergitu saja karena dia tahu kata sandinya.
Wanita itu duduk di sofa karena lelah berdiri. Ia mudah lelah semenjak dirinya hamil. Lalu tiba-tiba seseorang menarik rambutnya. Irma menitikkan air mata sambil memegangi rambutnya yang ditarik oleh Lisa.
"Apa lagi?" Kali ini Irma tak mau dibully oleh Lisa.
"Lebih baik aku membunuhmu lalu membuang mayatmu ke laut agar Bayu tetap menjadi milikku," ancamnya.
Irma berputar dan membalik tangan Lisa. Kini Irma berganti mengunci tangan Lisa. Wanita jahat itu tidak bisa bergerak. "Lepaskan aku bodoh!" Umpat Lisa kesal.
"Kau yang bodoh. Bodoh karena kau tidak memanfaatkan laki-laki kaya di luar sana untuk menjadi mangsamu. Kau itu cantik tapi tidak pandai menggunakan kelebihanmu. Jangan coba-coba menggangguku lagi jika tidak ingin Bayu membunuhmu seperti apa yang dia katakan beberapa waktu lalu padamu."
Irma melepas tangan Lisa. Lisa merasakan tangannya sakit. "Pergi atau aku akan menelepon Bayu dan dia bisa membunuhmu sekarang juga!" Bentak Irma. Kali ini dia tidak mau diinjak-injak oleh Lisa. Dia hanya khawatir terjadi sesuatu pada bayinya jika Lisa berbuat jahat.
Lisa gugup dan terkejut ketika Irma membentaknya. Ia langsung pergi aetelah mengambil tasnya yang terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Dasar wanita sialan." Umpat Irma. Namun setelah itu ia menutup mulutnya karena ia tidak mau bayi dalam kandungannya mendengar kata-kata kasar dari siapa pun itu teramsuk dari dirinya sendiri.
Lisa berjalan cepat lalu masuk ke dalam mobil. Sial selali nasibnya. Tidak bisa menikah dengan Devon. Namun, tidak bisa juga bertunangan dengan Bayu. "Aaaarrrgh," teriak Lisa di dalam mobil.
...***...
"Kemana saja kau Bayu? Kami sudah menunggumu lama," protes Devon pada asisten pribadinya itu.
"Maaf pak ada urusan yang harus saya selesaikan."
"Apa itu serius?" Tanya Devon kemudian. Bayu menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa pak. Saya sudah mengurusnya." Bayu ingat bagaimana dia mengusir Lisa dengan ancamannya.
Pada saat jam makan siang, Cindy mendatangi kantor suaminya. "Bagaimana situasinya suamiku, apa terlihat aman?" pertanyaan Cindy memang terdengar aneh tapi Devon dapat mengerti ke mana arah pembicaraan sang istri. Ia memastikan todak ada pelakor lagi di kantornya.
"Aman sayang," jawab Devon sambil menautkna jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O.
Cindy tersenyum senang. Lalu Cello berlari ke ruangannya. Sari mengikuti dari belakang dengan nafas tersengal-sengal.
"Hei my prince, kamu ikut ke kantor papa juga?" Tanya Devon sambil berjongkok agar tingginya sama dengan putranya itu.
Anak kecil yang usianya belum genap dua tahun itu hanya tergelak menjawab pertanyaan sang ayah. Ia balita yang snagat aktif hingga Cindy kuwalahan mengurusnya.
"Lihat dia tumbuh dengan cepat. Apa kau tidak ingin memberinya adik sayang?" Goda Devon pada Cindy.
Cindy memicingkan matanya. "Kau ini mesum sekali bagaimana kalau ada yang mendengar?" Protes Cindy tapi suaminya itu malah tertawa mendengar omelan istrinya.
"Mereka akan pura-pura tuli sayang karena tidak akan ada yang berani melawanku kau tau kan siapa di sini bosnya?" Jawab Devon dengan jumawa.
"Cih, sombong. Ya sudah makan sianglah dulu aku audah bawakan makanan untukmu. Setelah ini aku mau jalan-jalan sama Cello," kata Cindy.
__ADS_1
"Kemana?" Tanya Devon.
"Berbelanja bersama mbak Celine. Dia yang mengajakku," kata Cindy. Devon pun manggut-manggut.