
"Aku harus pergi, hotel kebakaran." Ucapan Bayu membuat Irma kaget.
"Bagaimana bisa?" Tanya Irma penasaran.
"Entahlah, aku belum tahu penyebabnya. Aku pergi dulu ya sayang, kamu baik-baik di rumah." Bayu mencium kening istrinya sekilas sebelum pergi.
Bayu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di lokasi kejadian, Bayu menepikan mobil di sekitar area yang aman.
"Pak, maaf saya datang terlambat," ucapnya dengan penuh penyesalan di depan Devon.
Devon terlihat frustasi melihat hotelnya terbakar. Api menyebar begitu cepat sehingga area kantor terbakar ludes.
"Bayu urus klaim asuransi segera!" Perintah Devon pada asisten pribadinya. Setelah itu dia pergi meninggalkan lokasi.
"Baik, Pak."
Setelah melihat mobil yang dikendarai Devon meninggalkan lokasi, Bayu bertanya pada polisi yang ada di sana.
"Apa sudah ditemukan penyebab kebakaran?" Tanya Bayu.
"Sementara ini belum, Pak. Kita tunggu sampai apinya padam nanti kita akan cari penyebab kebakaran," jawab polisi tersebut.
"Baiklah, kabari saya secepatnya." Pinta Bayu pada polisi tersebut.
Menjelang subuh api baru bisa dipadamkan. Bayu masih di lokasi kejadian. Ia mengawasi pemadaman api semalaman.
Cetak, cess
Bayu membuka kaleng kopi instan yang ia beli di minimarket terdekat. "Aku ngantuk sekali," keluhnya. Tenaganya hampir habis. Lalu ia putuskan untuk masuk ke dalam mobil dan tidur sebentar.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk kaca mobil Bayu. Bayu pun bangun dari tidurnya. Lalu ia membuka pintu mobilnya ketika mengetahui orang yang mengetuk adalah atasannya.
"Anda sudah datang, pak?" Devon mengangguk menjawab pertanyaan dari Bayu.
Bayu memindai penampilan atasannya yang memakai setelan kasual.
__ADS_1
"Pulanglah! Aku tahu kau di sini semalaman," Devon memberi kesempatan pada Bayu untuk beristirahat.
"Saya tidak apa-apa, Pak," tolak Bayu. Ia merasa kasian pada atasannya karena kebakaran itu tentu menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.
"Pulanglah! Apa kamu tidak ingat istrimu sedang hamil?" Devon mengingatkan Bayu.
Bayu pun menurut perintah atasannya itu. Sementara itu Devon menanyai petugas pemadam kebakaran.
"Ada berapa korban dari kejadian semalam?" Tanya Devon."
"Lima orang luka ringan dan satu orang terluka parah, Pak," lapornya.
"Baik, terima kasih." Lalu Devon menuju ke rumah sakit tempat para korban tersebut dirawat. Devon menemui mereka satu per satu. Lalu ia juga menengok salah seorang yang mengalai luka parah.
"Bagaimanakah keadaannya, Dok?" Tanya Devon pada dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat tersebut.
"Dia mengalami luka yang cukup serius. sebagian punggungnya terbakar." Devon turut prihatin mendengar penuturan dokter.
Laki-laki itu berjanji akan menanggung semua biaya perawatan semua korban kebakaran tersebut. Setelah itu dia pulang. Sementara aktivitas kantor libur sampai waktu yang tidak bisa ditentukan mengingat gedung perkantoran mereka terbakar habis beserta dokumen-dokumen lainnya.
"Mas kamu sudah kembali?" Tanya CIndy pada suaminya. Devon terlihat tidak bersemangat setelah musibah yang dialami.
Cindy menatap suaminya prihatin. "Mas, apa yang bisa aku bantu?" Devon menggelengkan kepalanya.
"Kamu cukup mendoakan aku supaya tidak ada masalah lain yang timbul setelah kejadian kebakaran itu," ucapnya sambil mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Aku selalu doakan yang terbaik untuk suamiku dan anggota keluargaku yang lain," jawab Cindy.
"Ngomong-ngomong di mana baby Daisy?" Tanya Devon yang tak melihat bayinya dalam gendongan Cindy.
"Dia sedang tertidur. Apa kau ingin makan sesuatu?" Tanya Cindy yang sudah siap memasak untuk suaminya.
"Masak apa saja asal kau yang memasak pasti akan kumakan."
"Baiklah, Mas bisa menemani baby Daisy terlebih dulu aku akan ke dapur memasak suatu yang istimewa untukmu," ucapnya tak melupakan senyum.
*
*
__ADS_1
*
Darren mendengar berita kebakaran yang menimpa hotel milik adiknya. "Bagas, bantu adikmu menyelidiki kasus ini, aku tidak yakin ini murni kecelakaan. Jangan-jangan ada orang yang tidak suka dengan Devon." Perintah Darren pada asisten pribadinya.
"Baik, Pak." Bagas mengangguk patuh. Lalu ia memerintahkan bawahannya untuk menyelidiki tempat itu.
Di hari lain, Bayu mengurus klaim asuransi gedung yang terbakar tersebut. "Maaf, Pak. Klaim asuransi kami tolak karena penyebab kebakaran adalah kelalaian manusia bukan murni kecelakaan. Jadi anda tidak bisa menerima dana asuransi dari kami."
"Apa yang membuat anda yakin ini adalah kesalahan manusia?" Tanya Bayu lebih lanjut pada pihak asuransi.
"Staf kami telah mencari tahu pada polisi kalau ditemukan kaleng bekas minuman beralkohol di sana."
"Lalu apa hubungannya? Bisa saja itu milik salah seorang pengunjung hotel," elak Bayu.
"Tidak, Pak. Kaleng itu ditemukan di tempat kejadian alias kantor anda yang terbakar. Tentu saja tidak lazim ada karyawan yang menyimpan minuman beralkohol saat bekerja. lalu kami menanyai satu per satu korban. Dan salah seorang korban mengaku kalau dia tidak sengaja menyenggol lilin saat terjadi pemadaman sementara. Kemungkinan besar lilin itu mengenai alkohol sehingga api membesar." Terang petugas asuransi panjang lebar.
Bayu segera mengkonfirmasi laporan tersebut pada korban yang dimaksud. Ia menemui Angga. Angga sudah sadar setelah mendapatkan perawatan. Kini ia dalam posisi tengkurap karena ia mengalami luka bakar di bagian punggungnya.
"Angga," panggil Bayu.
"Pak." Angga hendak bangun tapi Bayu melarangnya.
"Kamu diam saja, lukamu masih belum sembuh. Aku ke sini hanya ingin mengkonfirmasi apa yang disampaikan oleh pihak asuransi kalau kau yang menyebabkan kebakaran itu terjadi? Apa benar?"
Angga berusaha bangun tapi punggungnya benar-benar sakit. Bayu jadi tak tega. "Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja menyenggol lilin ketika lampu tiba-tiba padam. Saat itu saya lembur."
"Lembur? Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Bayu. Mana mungkin mereka menyuruh pekerja magang lembur. Karena tidak ada kebijakan yang mengatur gaji lembur karyawan magang.
"Atasan saya, Pak," jawab Angga dengan jujur. Bayu mengepalkan tangannya. Ia segera meninggalkan ruangan itu lalu mencari orang yang dimaksud Angga. Namun sebelumnya Bayu melapor pada Devon.
"Pak,menurut keterangan Angga, dia memang penyebab kebakaran tapi dia tidak sengaja karena dia sedang lembur saat itu listrik sempat padam."
"Bukankah dia pekerja magang? Siapa yang menyuruh pekerja magang lembur?" Geram Devon. "Bawa ke sini atasan Angga!" Perintahnya pada Bayu. Bayu pun menurut lalu ia undur diri dan menemui Seno yang merupakan atasan Angga.
Ting tong
Suara bel di rumah Seno berbunyi sehingga membuatnya berjalan untuk segera membuka pintu. "Pak Bayu?" Seno kaget dengan kedatangan Bayu.
"Pak saya belum menyelesaikan tugas dari pak Devon, apa berkasnya akan anda ambil sekarang?" Tanya Seno gugup.
__ADS_1
"Tidak aku ke sini untuk urusan lain." Ucapan Bayu membuat Seno bergidik ngeri.