Click Your Heart

Click Your Heart
Part 40


__ADS_3

Pagi ini Cindy memutuskan untuk jogging di taman sekalian janjian makan dengan Alan dan Irene karena di hari Minggu mereka libur bekerja.


"Ini mau jogging apa kulineran sih? Dari tadi beli camilan mulu." Protes Alan.


Cindy dan Irene tertawa bersama. "Alah santai ajalah, Lan. Jogging sambil kulineran ya nggak, Ren?" Tanya Cindy yang meminta dukungan pada Irene.


"Yoi, mam sekalian tebar pesona kali aja ada cowok ganteng lewat," jawab Irene diiringi tawa.


"Dasar ganjeng," cibir Alan.


"Dih, ini mah bukan ganjen, tapi gue lagi berusaha biar dapat cowok setajir Mas Devon," ledek Irene pada sahabatnya.


"Eh, apaan sih?" Cindy tersipu malu.


Lalu dari kejauhan Irene melihat seseorang berjalan ke arah mereka. Irene mengerutkan keningnya. "Pucuk dicinta ulam pun tiba," kata Irene dengan senyum yang merekah di wajahnya.


"Hai," sapa laki-laki tampan yang ada di depannya. Irene memandang takjub ke arahnya.


"Hai," balas Irene.


"Eh, Tommy," kata Cindy menyebut nama laki-laki di depannya itu.


"Kalian kenal?" Tanya Alan.


"Iya, kita bertetangga," jawab Cindy.


"Kenalin, ini Alan dan Irene temen aku," Cindy memperkenalkan kedua sahabatnya.


Tiba-tiba Tommy menyentuh bibir Cindy dengan tangannya. "Eh." Cindy terkejut dengan perlakuan Tommy. "Sorry ada saus di mulut kamu," ucapnya.


Jantung Cindy berdebar kencang dan wajahnya sudah pasti memerah karena malu. "Emm, udah siangan kita balik yuk, Lan." ajaknya pada sahabatnya karena salah tingkah.


"Bareng aku aja, aku bawa mobil kok." Tommy menawarkan tumpangan.


"Kita bawa motor," kata Alan.


"Owh ke kalau gitu kamu bareng sama aku kan, Cin?" Tanya Tommy.

__ADS_1


Cindy menoleh pada kedua sahabatnya meminta dukungan. "Udah bareng aja lumayan irit ongkos taksi," kata Irene. Padahal ia berharap kalau dirinya yang diantar pulang oleh Tommy.


"Kita duluan ya," pamit Cindy seraya melambaikan tangan ke arah dua sahabatnya.


Tommy membukakan pintu mobil untuk Cindy. "Terima kasih," ucap Cindy sebelum masuk ke dalam mobil. Tommy mengangguk. Setelah itu ia memutar menuju ke kursi kendali mobil.


Ketika di persimpangan jalan, keduanya berpapasan dengan Devon, tapi mereka tidak sadar. Devon yang saat itu menyadari kekasihnya sedang berada di mobil laki-laki lain merasa cemburu. Ia memukul setir karena kesal.


"Breng*sek si Tommy, dia terang-terangan ngajak Cindy padahal dia tahu kalau Cindy itu kekasihku," gumam Devon.


Devon jadi memutar arah. Ia urung ke apartemen Cindy.


Tommy dan Cindy sampai di tempat parkir. "Makasih atas tumpangannya," kata Cindy.


"Nggak masalah."


"Aku duluan ya," kata Cindy. Rasanya canggung sekali bersama Tommy.


...***...


Saat ini usia mereka menginjak empat belas tahun. Tapi keduanya bersekolah di tempat yang berbeda karena mereka tidak mau bergantung satu sama lain.


"Tumben om Devon main ke sini?" Tanya Julian.


"Biasanya juga om ke sini kan?" Devon mengacak rambut Julian.


"Carilah pacar om, sudah sepantasnya om menikah, aku juga ingin punya adik perempuan," katanya. Devon terkekeh mendengar ucapan Julian.


"Bukannya kamu sudah punya kekasih?' Tanya Darren. Devon mengangkat alisnya.


"Apa, kapan om kenalkan pada kami? apa dia sangat cantik?" Tanya Jaden yang baru datang.


Devon menghela nafas. Jika saja dia tidak kesal karena Cindy pergi bersama Tommy, mungkin sekarang dia tidak akan rindu pada wanita itu.


"Sangat cantik dan masih muda," jawab Devon sambil membayangkan wajah kekasihnya.


"Lalu kenapa tidak menghabiskan waktu bersamanya MInggu ini?" Tanya Darren.

__ADS_1


"Aku memang sedang kangen dengan keponakanku, bukankah kita sudah lama tidak bermain game," elak Devon.


"Dasar pembohong, bilang saja kalau kamu sedang marahan dengannya," tebak Darren. Devon tidak menjawab.


"Ck, dasar payah, jadi laki-laki jangan suka ngambekan, sebagai cowok kita harus lebih sering mengalah dari pada cewek, dengan begitu hatinya akan mudah luluh pada kita, bukan malah sebaliknya." Darren memberikan nasehat pada adik kandngnya.


Devon merenungkan omongan kakaknya. Lalu tanpa berpamitan ia pun bergegas ke apartemen Cindy.


...***...


Hari ini Bi Mona akhirnya kembali ke apartemen Cindy. Tapi ia kembali untuk mengundurlkan diri. "Maafkan saya, Non. Saya harus menjaga anak saya lebih lama lagi," ucapnya dengan penuh penyesalan karena akan berpisah dengan Cindy.


"Saya sangat menyayangkan Bi, tapi saya tidak bisa memaksa bibi untuk tinggal. Tunggu di sini sebentar Bi," kata Cindy. Lalu ia menuju ke kamarnya untuk mengambil sejumlah uang untuk Bi Mona.


"Ambillah, ini gaji terakhir bibi." Cindy menyerahkah sebuah amplop coklat.


"Terima kasih banyak, Non. Saya tidak akan melupakan kebaikan non Cindy," ucap Bi Mona dengan meneteskan air mata.


Cindy memeluk Bi Mona untuk yang terakhir kalinya. "Semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi," kata Cindy sambil tersenyum.


Setelah itu Bi Mona keluar dari unit aparteen Cindy. Tommy melihat kepergian Bi Mona. Ia penasaran karena Bi Mona menangis sat keluar dari unit apartemen Cindy.


"Ada apa?" Tanya Tommy pada saat melihat Cindy yang berada di ambang pintu.


"Bi Mona mengundurkan diri karena anaknya di kampung sedang sakit dan tidak ada yang merawat," terang Cindy.


"Owh iya, aku boleh pinjam charger handphone tidak? Kebetulan chargerku sedang rusak, aku lupa membelinya," kata Tommy.


"Baiklah, akan aku ambilkan." Cindy pun masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian terdengar suara teriakan dari Cindy. Tommy pun masuk ke dalam kamar. "Ada apa Cin?' tanya Tommy yang panik.


"Aku tersengat listrik." Cindy memperlihatkan tangannya yang memerah. Tommy meniup tangan Cindy. Tapi di saat yang sama Devon yang melihat interaksi keduanya menjadi marah.


Brak


Ia menggebrak pintu kamar Cindy karena ksudanya tidak menyadari kehadiran Devon. Tommy dan Cindy sama-sama menoleh.

__ADS_1


__ADS_2