
Hari ini Cindy dan dua pegawainya akan mengantar kue-kue pesanan Maya. "Kalian udah bungkus semua kuenya kan?" Tanya Cindy pada kedua pegawainya. Cindy akan memastikan sendiri kue-kue itu sampai ke pemesannya dengan baik karena kue-kue buatannya dipesan langsung oleh ibunda Tommy. Ia hanya tidak mau mengecewakan ibu dari orang yang sangat berjasa kepadanya.
"Yuk berangkat sekarang!" Ajak Cindy pada kedua pegawainya. Mereka mengangkuti kue-kue yang sudah tersusun ke sebuah mobil yang Cindy sewa untuk mengantar mereka ke acara keluarga di rumah saudara Tommy.
Sesampainya di tempat itu, Cindy dan para pegawainya menurunkan kue yang telah dipesan. "Kami mengantar kue pesanan pemilik rumah, harus kami letakkan di mana kue-kue ini?" Tanya Cindy pada salah seorang penjaga rumah.
"Mari saya antar ke dalam." Cindy dan dan anak buahnya mengikuti satpam tersebut.
Usai meletakkan kue-kue tersebut, Cindy menuju keluar. Cindy melihat Maya yang sedang berbincang dengan saudaranya tapi saat itu tidak sengaja pelayan menyenggol bahu Maya. Maya hampir saja terjatuh ke dalam kolam renang. Beruntung Cindy yang tak jauh dari tempat Maya berdiri, mendorong Maya sehingga Maya tidak jadi terjatuh. Namun, naas Cindy malah terpeleset dan jatuh ke dalam kolam renang.
Semua orang yang berada di lokasi itu menjadi panik terutama Maya. "Tolong selamatkan dia!" ucapnya pada orang-orang yang melihat kejadian itu.
Tommy yang baru saja masuk, melihat seseorang tercebur ke kolam renang. Saat dia perhatikan, ternyata dia mengenal wanita yang tenggelam itu. Tak berpikir panjang Tommy langsung menjemurkan diri ke dalam kolam renang untuk menolong Cindy. Ia membawa Cindy sampai ke tepi kolam renang.
"Cin, bangun Cin," Tommy mengguncang bahu Cindy tapi wanita itu tidak sadarkan diri.
"Maafkan mama, mama yang menyebabkan Cindy terjatuh," ucap Maya dengan penuh penyesalan.
"Sebaiknya kita bawa Cindy ke rumah sakit," usul Tommy. pemuda itu kemudian mengangkat tubuh Cindy meskipun dalam keadaan basah sampai ke mobilnya.
"Akan nama temani," kata Maya kemudian ia masuk ke dalam untuk menemani Cindy. Wanita itu memangku kepala Cindy.
Tommy mulai menyalakan mesin mobilnya. Dia bergegas menuju ke rumah sakit. Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di depan ruang UGD sebuah rumah sakit.
"Tolong ada pasien yang memerlukan perawatan," ucap Tommy pada perawat yang ada di sana.
Para perawat tersebut bergegas mengangkat tubuh Cindy dan memindahkannya ke atas brankar.
__ADS_1
"Tom, sebaiknya kamu ganti baju dulu nanti masuk angin," saran Maya pada putranya. Wanita itu hanya tidak mau bila putranya jatuh sakit.
"Ma, aku akan mengganti bajuku, tapi tolong jaga Cindy sementara aku pergi," pesannya pada sang mama. Maya mengangguk paham.
Tommy menuju ke tempat parkir laki-laki itu akan pulang untuk ganti baju. Dia juga tidak mungkin berada di rumah sakit dengan keadaan baju yang basah kuyup setelah menolong Cindy.
Setelah itu seorang dokter keluar memanggil keluarga Cindy. "Apakah anda keluarganya nyonya?" tanya dokter itu pada Maya.
"Bukan dok, tapi saya orang yang bertanggung jawab pada wanita itu," jawab Maya.
"Anak yang berada di dalam kandungan pasien harus segera dikeluarkan. Apakah anda sudah mengabari keluarganya?" tanya dokter yang merawat Cindy. Maya menggeleng.
"Tunggu sebentar, Dok. Saya akan menghubungi anak saya supaya mengabari keluarganya," pinta Maya.
Lalu Maya menghubungi Tommy. "Angkat dong," gumam Maya saat nomor telepon yang dihubungi tidak juga tersambung.
Tak lama kemudian Tommy tiba di rumah sakit. "Kamu ke mana aja sih, Tom? Mama hubungi dari tadi tapi tidak kamu jawab," protes Maya.
"Maaf, Ma. Tommy lagi di jalan. Bagaimana keadaan Cindy?" Tanya Tommy yang tak kalah khawatir dengan ibunya.
"Bayinya harus segera dikeluarkan. Mama sudah menghubungi kamu dari tadi tapi kamu tidak menjawab panggilan telepon dari mama. Mama ingin meminta kamu menghubungi keluarganya tapi kata dokter bayi Cindy harus segera dikeluarkan jadi Mama meminta dokter untuk melakukan yang terbaik untuk Cindy. Kamu tenang aja semua biaya akan mama tanggung," terang Maya panjang lebar. Dia tidak mau Tommy menyalahkan keputusannya sehingga Maya mengungkapkan alasannya.
"Terima kasih, Ma," ucap Tommy merasa lega. Dia setuju dengan keputusan mamanya. Dia berharap Cindy dan bayinya baik-baik saja.
Lalu perawat keluar bersama Cindy yang sedang terbaring di atas brankar. Mereka akan memindahkan wanita itu ke ruang operasi.
Tommy dan Maya tidak tega melihat keadaan Cindy. "Kamu tidak menghubungi keluarganya?" Tanya Maya pada putranya.
__ADS_1
"Cindy hidup sebatang kara, Ma," ungkap Tommy pada sang ibu. Maya mengerutkan keningnya.
"Lalu ke mana suaminya?" Tanya Maya yang merasa curiga.
"Dia belum menikah." ucapan Tommy membuat Maya makin terkejut.
"Lalu bagaimana bisa dia hamil?" Tanya sang ibu yang penasaran. "Jangan-jangan itu anak kamu," tuduh Maya.
"Aku akan senang kalau Cindy mengandung anakku karena aku sangat mencintainya. Aku bahkan berkali-kali meminta dia menikah denganku tapi Cindy menolak karena dia malu dengan kondisinya yang hamil di luar nikah," jawab Tommy dengan jujur.
Maya hampir tidak percaya dengan omongan putranya itu.
"Tapi sayangnya anak itu bukan darah dagingku," imbuhnya dengan suara yang terdengar sendu.
"Lalu laki-laki bejat mana yang sudah menghamili Cindy?" tanya Maya yang merasa geram dengan cerita Tommy.
"Aku tidak bisa mengungkap siapa yang telah menghamili Cindy, Ma. Karena aku tidak berhak untuk ikut campur dengan urusan Cindy. Meskipun aku sangat mencintainya tapi aku juga ingin menjaga privasinya," tutur Tommy dengan pikiran yang bijak.
"Sebenarnya dari awal Mama menyukai Cindy dia wanita yang baik, apalagi dia pernah menolong mama dan kali ini untuk kedua kalinya dia menolong mama. Mama berhutang banyak padanya." ucapan Maya membuat Tommy tersenyum lebar.
"Seandainya aku minta izin pada mama, kalau aku akan menikahi Cindy apa Mama akan mengabulkannya?" Gumam Tommy yang merasa ragu mengungkapkan keinginannya. Dia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan di saat seperti ini meski mamanya seolah memberi lampu hijau padanya.
"Ma, seandainya aku..." Tommy tidak jadi meneruskan ucapannya setelah melihat dokter yang keluar dari ruang operasi.
Tommy dan Maya mendekat ke arah dokter itu. "Bagaimana dengan operasi apakah berjalan dengan lancar?" Tanya Maya yang tidak sabar menunggu jawaban dokter. Dia lebih khawatir dibandingkan Tommy karena dia merasa bersalah menyebabkan Cindy celaka.
"Bayinya terlahir dengan selamat, jenis kelaminnya laki-laki. Namun, ibunya dalam keadaan kritis."
__ADS_1