Click Your Heart

Click Your Heart
Part 147


__ADS_3

Bayu menerobos masuk ke dalam rumah Seno begitu saja. "Katakan dengan jujur! Apa kau menyuruh Angga lembur?" Tanya Bayu sambil memberikan tatapan tajam pada Seno.


Seno terkejut mendengarnya. Ia terlihat gelisah dan mereemaas tangannya. "Saya, saya...."


"Kenapa kamu mendadak gugup begitu, apa kau melakukan kesalahan?" Desak Bayu agar Seno mengaku. "Katakan, apa kau yang menyuruh pegawai magangmu lembur?" Kali ini Bayu menaikkan intonasi suaranya.


Seno tetap diam. Ia berusaha menutupi kesalahannya agar dirinya tak mendapatkan sanksi dari atasannya.


Tak mau membuang waktu Bayu putuskan pergi. "Pak Seno silakan menghadap pak Devon langsung," putus Bayu sebelum keluar dari rumah Seno. Lalu Seno menarik tangan Bayu dengan kedua tangannya.


"Pak, saya tidak salah apa-apa. Kenapa saya harus menghadap?" Tanya Seno yang masih mengelak.


"Bukankah Anda harus menyerahkan laporan yang harus ditandatangani oleh pak Devon?" Bayu mengingatkan.


Seno merasa lega karena dia disuruh menghadap bukan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sedangkan Bayu menarik ujung bibirnya tersenyum licik karena Seno tak mencurigai permintaannya sama sekali.


Bayu menghadap Devon. "Pak, hukuman apa yang akan anda berikan pada Seno?" Tanya Bayu.


"Kita lihat saja nanti,"


*


*


*


Di Hotel Danz Smith milik Darren


"Bagaimana apa kau telah menemukan penyebabnya?" Tanya Darren pada asisten pribadinya.


"Menurut informan saya kebakaran itu terjadi karena salah seorang pegawainya menyenggol lilin yang ia nyalakan. Diduga saat itu lilin tersebut mengenai kaleng alkohol yang tak sengaja ikut terjatuh sehingga api cepat menyebar di ruangan itu," terang Bagas.


"Apa alkohol?" Tanya Darren memastikan pendengarannya.


"Kemungkinan ada salah seorang karyawannya yang mengkonsumsi alkohol saat itu, Pak."


"Ceroboh sekali, bagaimana bisa hotel bintang lima bisa mengalami pemadaman listrik?"


"Saat itu memang sedang ada perbaikan lift yang rusak mungkin karena itu sempat terjadi konsleting pak."


"Berapa kira-kira kerugian yang dialami oleh Devon?" Tanya Darren pada Bagas.


"Kurang lebih hampir 500juta pak," jawab Bagas.


"Hah, apa dia punya tabungan sebanyak itu? Aku jadi khawatir kali ini dia tak dapat menyelesaikannya," kata Darren.


*


*


*

__ADS_1


Keesokan harinya Seno datang ke kediaman Devon. "Silakan duduk pak Seno!" Ucap Devon.


"Saya membawa berkas yang harus anda tanda tangani pak," kata Seno sambil menyodorkan sebuah berkas yang telah ia kerjakan.


Devon memindai penampilan Seno. "Kenapa anda datang dengan penampilan casual seperti ini? Apa anda tidak menghormati saya sebagai atasan anda?" Tanya Devon.


Seno jadi salah tingkah. "Maaf, Pak. Saya pikir..."


"Walaupun kantor sedang tutup tapi anda masih bekerja pada saya. Jadi kewajiban memakai pakaian kerja tentu saja diwajibkan," kata Devon dengan penuh penekanan. Seno menunduk takut.


Devon mencondongkan badannya. "Selain itu apa anda tahu kesalahan anda?" Tanya Devon. Seno berusaha mengingat-ingat.


"Ti-tidak pak," jawabnya gugup.


Brak


"Saya ingin tahu bagaimana cara anda mempekerjakan pegawai magang." Devon meminta penjelasan dari bawahannya itu.


Seno menunduk takut. "Saya selalu mendidik mereka dengan baik, Pak," akunya.


"Oh, ya? Termasuk menyuruh mereka mengerjakan pekerjaan anda sehingga mereka harus lembur?" Seno gemetar mendengar tuduhan Devon. Dia semakin tidak berkutik.


"Anda tahu di perusahaan saya, tidak mewajibkan pekerja magang untuk lembur?"


"Tahu, Pak."


"Lalu kenapa anda menyuruh Angga lembur tanpa memberitahukan dulu pada saya?" Devon benar-benar kecewa. Jika saja malam itu Angga tidak lembur maka hotelnya tidak akan terbakar. Dan pangkal masalahnya adalah Seno.


Seno mengangguk cepat. "Masih, Pak."


"Baiklah, bekerjalah sebagai pegawai magang selama tiga bulan untuk masa percobaan anda. Karena kepercayaan saya pada anda mulai pudar. Jabatan anda akan digantikan oleh wakil anda sementara waktu." Seno kaget bukan main.


Devon memberi keringanan atas hukuman yang harus diberikan pada Seno.Mau tak mau Seno menerima hukuman itu. Setelah itu, Seno pamit.


Devon menghela nafasnya berat. "Bagaimana Mas?" Tanya Cindy. Ia keluar setelah Seno pulang.


"Aku sudah memberi hukuman pada Seno. Bagaimana pun dia juga harus bertanggung jawab atas musibah kebakaran yang menimpa hotelku."


"Lalu apa Mas Devon tidak memindahkan kantor saja supaya kerja mereka lebih maksimal?"


"Aku akan mendiskusikan itu dengan petinggi perusahaan. Mungkin aku akan memindahkan kantor pusat ke kantor cabang sementara waktu sampai pembangunan kantor yang terbakar selesai."


"Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dulu, aku sudah siapkan makanan untukmu," ucap Cindy dengan lembut.


"Tentu, tapi aku ingin melihat baby Daisy, sudah bisa apakah dia sekarang?" Tanya Devon sambil beranjak ke kamar bayinya.


"Sekarang dia mulai belajar tengkurap," jawab Cindy.


"Wow kamu makin pintar sayang," Devon menciumi bayinya yang berusia 2 bulan itu. Lalu dia melirik sang istri. "Apa kita perlu memberinya adik?" Goda Devon.


"Hah, yang benar saja, jahitanku saja baru kering," ucap Cindy mencebik kesal.

__ADS_1


"Haha kalau begitu buat saja tapi tidak usah sampai berbuah." Cindy hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan random sang suami.


"Ayo kita ke meja makan!" Ajak Devon. Cindy mengangguk. Ia juga membawa serta Daisy, tapi Cindy meletakkan bayinya di dalam stroller.


"Hari ini masak apa?" Tanya Devon.


"Aku masak makanan kesukaanmu, Mas. Ayam bakar madu."


"Wow andai saja aku lebih sering di rumah seperti ini apalagi kalau ada Cello dan Ruby di rumah. Ngomong-ngomong ini hampir jam dua belas, kenapa hari ini Cello belum pulang?" Tanya Devon.


"Hari ini Cello sudah pulang tapi dia bilang mau mampir ke tempat mbak Celine."


"Mau apa?"


"Katanya dia kangen sama kakak kembarnya," jawab Cindy. Devon merasa lega karena tidak terjadi apa-apa pada anaknya.


"Pastikan dia tidak pulang malam." Devon memberi peringatan pada istrinya.


"Nanti aku akan bilang sama pak Hasan."


*


*


*


"Aunty, kapan kak Julian sama kak Jaden pulang?" Tanya Cello tak sabar.


"Seharusnya sebentar lagi, kenapa kamu bosan ya?" Cello mengangguk saat menjawab pertanyaan bibinya.


"Bagaimana kalau aunty ambilkan es krim untukmu?"


"Benarkah? Kenapa tidak dari tadi, aunty," protes Cello.


"Kamu nggak bilang."


Setelah itu Celine memberi semangkuk es krim pada Cello. "Tapi aunty jangan bilang ke mama ya kalau Cello makan es krim." Celine lalu meninggalkan Cello sendiri agar bisa menikmati es krimnya.


Lalu Jaden pulang lebih dulu. Ia tiba-tiba menyendok es krim milik Cello. "Es krimku," protes Cello. Ia hampir saja menangis.


"Sudah mukanya jangan mewek gitu, nanti kakak ganti," ucap Jaden.


"Bohong, kemaren aja bilangnya mau beliin es krim tapi nggak jadi."


"Hahaha," Jaden tertawa lepas. "Lupa," jawabnya singkat.


"Ckckck tanda-tanda penuaan dini," ledek Cello.


"Huu dasar bocah, emang kamu tahu tanda-tanda penuaan dini?" Tanya Jaden.


"Tahu, yang suka lupa kaya kakek-kakek." Jaden hanya tertawa mendengar jawaban adik sepupunya itu.

__ADS_1


__ADS_2