Click Your Heart

Click Your Heart
Part 135


__ADS_3

"Cello, malam ini mau nggak tidurnya ditemani Tante Irma?" Tanya Cindy pada anak pertamanya.


"Boleh Tante, tapi bacain cerita ya!" Pinta Cello pada Irma.


Irma tidak menyangka Cello anak yang baik. Ia tidak menolak untuk ditemani. Padahal biasanya anak kecil akan menolak jika ada orang asing.


"Baiklah, mama tinggal dulu ya," Cindy pamit keluar. Ia meninggalkan Irma bersama Cello di dalam kamar.


"Tante kenapa mau tidur sini?" Tanya Cello penasaran.


"Suami Tante sedang pergi sama papanya Cello," jawab Irma.


Tap


Tiba-tiba listrik di rumah Cindy padam. "Aku takut Tante." Sontak Cello memeluk Irma dengan erat.


"Jangan khawatir sayang, Tante di sini." Irma mencoba menenangkan Cello.


Dari kamar lain Cindy memanggil satpam melalui handphonenya. "Pak tolong periksa aliran listrik di rumah ini!" Perintah Cindy.


"Baik, Bu. Saya sudah ada di panel listrik sedang memeriksa kondisinya," jawab Satpam tersebut.


Cindy tak berani keluar karena kamarnya di lantai atas sehingga ia takut terjatuh dari tangga mengingat dirinya sedang hamil. Ia pun menghubungi Irma melalui ponselnya.


Saat Irma melihat ponselnya bergetar ia segera meraihnya. "Irma, tolong jaga Cello ya, aku tidak berani keluar karena aku di lantai atas, aku takut terjatuh di sini sangat gelap. Aku sudah menghubungi satpam bersabarlah listrik akan kembali menyala setelah diperbaiki."


"Iya, aku akan jaga Cello," jawab Irma.


Prank


Terdengar sesuatu yang pecah dari ruangan lain. Semua orang yang ada di rumah itu menjadi panik. "Sebaiknya kamu kunci pintu Cind, pastikan kamu aman," perintah Irma berbicara sambil berbisik. Ia curiga ada pencuri yang masuk.


Cindy menutup teleponnya. Tapi suara Ruby terdengar memanggil. "Mama, pak Hasan, Cello," suara Ruby benar-benar terdengar nyaring. Ruby berjalan menuju ke ruangan lain dengan menyalakan center yang ada di handphonenya. Ia penasaran karena mendengar suara benda yang pecah.


"Ruby," gumam Cindy. Lalu ia menelepon ke handphone Ruby. Ruby yang melihat handphone nya menyala langsung mengangkatnya.


"Hallo, Ma," jawab Ruby.


"Kamu diam saja di kamar jangan kemana-mana. Satpam sudah mama suruh buat perbaiki saluran listriknya."

__ADS_1


"Tapi Ma...."


Tut Tut Tut


Sambungan telepon Cindy tiba-tiba mati. Ruby melihat ke layar handphonenya. "Kok mati sih," gerutunya.


Ruby berputar untuk kembali ke kamar. Namun, tiba-tiba seseorang mendekapnya. "Emm emm," Ruby mencoba berteriak saat mulutnya dibekap oleh orang asing.


Bug


Sebuah pukulan mendarat di kepala penjahat itu. Irma memegang sebuah stik golf milik Devon dan mengarahkannya ke kepala orang asing itu saat ia melihat Ruby dalam bahaya.


Irma yang keluar bersama Cello tak sengaja melihat Ruby dibekap mulutnya dari cahaya yang sangat minim.


Orang itu jatuh pingsan. Ruby berlari ke arah Irma. Lalu bersembunyi di belakang punggungnya.


Seorang lagi temannya mencoba mencelakai. Irma. Tapi ketika lampu mulai menyala, satpam di rumah Cindy segera masuk dan menghalangi tangannya ketika akan memukul Irma.


Irma membawa Cello dan Ruby menjauh. Cindy baru berani turun ketika lampu menyala. Mendengar keributan di rumahnya, Cindy menelepon polisi. Kebetulan kantor polisi tidak jauh dari komplek perumahan miliknya. Ia berharap tidak ada yang terluka sampai polisi datang.


Sedangkan di bawah satpam di rumah Cindy sedang melawan penjahat itu sendirian. Irma memberikan stick golf yang ia pegang pada satpam itu. Dengan cepat ia melayangkan pukulan pada penjahat itu.


Tapi stick golf yang satpam itu layangkan rupanya bisa ditangkap sehingga satpam gagal memukulnya.


Dengan percaya diri penjahat yang tersisa berjalan ke arah Irma lalu menodongkan sebuah belati ke arahnya.


Dor


Polisi datang di saat yang tepat lalu menembak tepat di bagian lengan penjahat tersebut. Penjahat itu menjatuhkan belati yang ia pegang lalu memegangi tangannya yang terluka.


Saat ia berusaha Kabir, polisi kembali menembakkan satu peluru di bagian betisnya. Ia pun tak dapat berkutik lagi. Polisi segara menyergap kedua penjahat itu.


"Kami akan membawa mereka. Dimohon kesediaannya untuk menjadi saksi," kata polisi itu pada Irma.


"Baik, Pak. Besok saya akan memberikan kesaksian ke kantor polisi," jawab Irma.


...***...


Di tempat lain Devon tidak bisa tertidur karena kulitnya digigit nyamuk semalaman.

__ADS_1


Plak


plak


plak


Devon tengah sibuk memukuli nyamuk yang menggigit kulitnya. Tommy yang melihat Devon terus bergerak menjadi tidak bisa tidur juga.


"Bisakah kau tenang sedikit aku tidak bisa tidur," seru Tommy.


"Kamu pikir aku bisa tidur kalau banyak nyamuk menggigit kulitku. Apa di sini tidak ada obat pembasmi serangga? Aku bisa gila kalau begini," gerutunya.


"Cih, katamu kau sudah pernah tinggal di kos-kosan? Baru digigit nyamuk begini saja kamu sudah mengeluh," cibir Tommy.


"Tempat kosku bersih dan tidak ada nyamuk sebanyak ini," sanggah Devon.


"Ah sudahlah tidur saja cepat keburu hari mulai pagi," perintah Tommy.


Sedangkan di sisi lain, Bayu tampak tertidur pulas bahkan dia terdengar mendengkur halus. Devon dan Tommy saling pandang dan terkekeh saat melihat Bayu.


"Dia seperti tidak punya beban," gumam Devon.


"Hah, padahal di antara kita dialah orang yang paling sibuk. Aku yakin kamu sebagai atasannya pasti selalu memberikan tugas yang berat padanya," sahut Tommy.


"Entahlah aku lupa," elak Devon. Tommy memicingkan matanya.


"Dasar menyebalkan. Aku heran pada Cindy kenapa bisa memilih orang menyebalkan seperti dirimu," ledek Tommy.


"Hahaha," Devon tertawa renyah. "Nyatanya yang menyebalkan sepertimu yang memenangkan hatinya," jawabnya dengan percaya diri.


"Ah sudahlah tidur. Aku akan keluar sebentar untuk menelepon istriku. Tidak ada gunanya meladenimu." Tommy bangkit dan melangkah ke luar tenda. Ia mencoba menelepon Irene yang ada di rumah.


Ia ingin mengabari kalau ia tidak bisa pulang hari ini. Tapi sayang dayanya habis. "Assial aku tidak membawa powerbank untuk mengisi daya handphone ku," gumam Tommy.


Lalu ia kembali masuk ke dalam tenda saat ia akan menghampiri Devon ternyata laki-laki itu sudah terbang ke alam mimpi.


Tommy hanya bisa mendesah pasrah. Ia berharap Irene tidak cemas memikirkannya.


"Mas Tommy kok belum pulang juga ya," gumam Irene sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat. Ia sangat khawatir. Lalu ia menghubungi nomor suaminya.

__ADS_1


"Kok nggak aktif sih? Apa di sana sinyalnya kurang bagus? Ah tidak mungkin bukankah orang tuaku sering menghubungiku tapi saat itu kami lancar ketika mengobrol," Irene sibuk bermonolog.


Ia ingin menghubungi ke nomor orang tuanya tapi ia urungkan karena sudah lewat tengah malam. "Mereka pasti sudah tertidur sebaiknya aku hubungi mereka besok pagi-pagi sekali," putus Irene. Ia pun merebahkan diri di atas kasurnya yang empuk.


__ADS_2