
Sudah hampir sebulan Cindy meninggalkan ibu kota dan memilih tinggal di kampung halamannya. Meskipun tidak bekerja tapi ia masih memiliki tabungan yang tersimpan di Bank. Cukuplah untuk membiayai kehidupannya dan sang nenek sebelum ia mandapatkan pekerjaan. Apalagi dia sempat mendapatkan uang imbalan yang tidak sedikit dari Devon ketika dia menemani mantan kekasihnya itu menghadiri pesta pernikahan temannya.
Pagi ini ada rasa aneh yang dirasakan Cindy setalah bangun tidur. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Terlebih saat berdiri ia merasakan mual. Cindy pun berlari ke kamar mandi.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" Tanya neneknya.
"Mungkin aku masuk angin," jawab Cindy agar neneknya tidak merasa khawatir lagi.
Sebenarnya ia curiga karena sudah beberapa minggu ini dia belum mengalami menstruasi. Selama ini dia tidak mempermasalahkan apabila terlambat datang bulan, tapi kali ini ia curiga setelah ia mengingat hubungan badan yang sempat ia lakukan bersama Devon kala itu.
Cindy memeberanikan dri untuk membeli alat tes kehamilan di apotek terdekat. Toh tidak akan ada mengenalinya karena Cindy mengenakan masker.
Ketika sampai di rumah, gadis tak perawan itu segera menguji urinenya. Mata Cindy melotot tak percaya saat ia melihat garis dua yang menunjukkan tanda positif hamil.
Badannya lemas seketika, Cindy pingsan. Neneknya yang mendengar suara benda terjatuh kemudian menghampiri Cindy. "Kamu kenapa, nak?' Tanya sang nenek yag sudah cemas ketika melihat cucunya tidak sadarkan diri. Ia pun meminta warga sekitar untuk membawa Cindy ke puskesmas terdekat.
"Selamat ya, nek. Cucu anda hamil." Perkataan dokter itu membuat nenek Cindy terkena serangan jantung mendadak. Ia tidak kuat mendengar kenyataan sang cucu hamil di luar nikah. Nenek Cindy dinyatakan meninggal tepat setelah Cindy sadar dari pingsan.
Bagai tersambar petir di siang bolong. Cindy menerima kenyataan pahit dalam sehari. Perasaannya hancur. Tidak hanya itu warga sudah ramai membicarakan Cindy. Apalagi ia penyebab kematian neneknya.
...***...
Tommy mulai mencari keberadaan Cindy. Ia merasa khawatir padanya. Sudah lama ia tidak mendengar kabar dari Cindy. Kebetulan hari ini dia ada meeting dengan Devon karena perusahaan mereka menjalin hubungan kerjasama.
Di tengah pembicaraan mereka, Tommy tiba-tiba menanyakan soal Cindy. "Apa kau tidak tahu kabar Cindy?" Tanya Tommy secara to the point.
Devon memicingkan matanya. "Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengannya. Bisakah kita bersikap profesional saat bekerja. Jangan membahas masalah pribadi," kata Devon dengan nada dingin.
__ADS_1
Tommy pun tidak mau berdebat dengan laki-laki yang lebih tua darinya itu. Namun, seusai meeting ia sempat berbicara dengan Bayu tanpa sepengetahuan Devon.
"Pak Bayu, apakah bapak tahu dimana Cindy?" Tanya Tommy dengan sopan.
"Nona Cindy melarang saya untuk mencari tahu keberadaannya," ungkap Bayu.
"Jadi kalian sempat bertemu?" Tanya Tommy.
"Sebaiknya anda tanyakan pada dua sahabatnya." Bayu memberi tahu. Ia juga merasa khawatir dengan keadaan Cindy.
Tak mau Devon curiga, Bayu segera meninggalkan Tommy. Tommy pun ingat kalau teman Cindy bekerja di hotel Devon. Tapi Tommy tidak mau misinya diketahui oleh Devon. Maka ia mengutus seseorang untuk memanggil Irene.
Irene terkejut saat seorang wanita cantik yang merupakan sekretaris Tommy mendatanginya. "Dengan mbak Irene ya?" Tanya wanita bernama Tania tersebut.
"Iya, anda siapa?" Tanya Irene yang merasa tidak menegenal wanita cantik yang berpakaian seksi tersebut.
"Bisa ikut saya sebentar, atasan saya ingin bertemu dengan anda," ucapnya dengan sopan sehingga Irene menurut pada perintah Tania.
"Silakan duduk!" Pintanya dengan sopan.
"Saya tidak mengerti kenapa anda ingin bertemu dengan saya."
"Apa kamu tahu dimana keberadaan Cindy sekarang? Saya begitu mengkhawatirkan keadaannya," ungkap Tommy berkata jujur.
"Saya tidak tahu, Pak."
"Panggil saja saya Tommy." Tommy membuat suasana agar tidak merasa canggung.
__ADS_1
"Tolong katakan dimana Cindy sekarang, bukankah kamu juga merasa khawatir padanya?"
"Cindy melarang saya mengatakan keberadaannya pada siapa pun."
"Bukankah janji dibuat untuk dilanggar?" Tommy masih berusaha membujuk Irene. Di dalam hatinya ia tidak tahu harus berbuat apa untuk temannya itu. Akhirnya ia putuskan untuk memberi tahu keberadaan Cindy pada Tommy karena Irene percaya Tommy laki-laki yang baik.
Setelah berhasil mendapatkan alamat Cindy di kampung, Tommy berangkat hari itu juga untuk menyusul Cindy. Hampir setengah hari berkendara akhirnya Tommy sampai di rumah Cindy yang ada di kampung.
Tommy mengerutkan keningnya saat melihat tenda yang terpasang di depan rumah Cindy. Ia pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah itu.
"Cindy," panggil Tommy ketika melihat wanita yang ia kenali menangisi jenazah. Cindy mendongak ketika mendengar namanya dipanggil.
"Tommy?"
Tommy duduk di sampingnya. "Siapa yang meninggal?" Tanya Tommy pada gadis itu..
"Nenekku," jawabnya sambil terisak.
"Aku bantu urus pemakamannya." Malam itu juga nenek Cindy dikebumikan. Tommy membiayai semua biaya pemakaman nenek Cindy.
"Jadi itu laki-laki yang sudah menghamili Cindy?" Para tetangga yang hadir mulai membicarakan Cindy.
Samar-samar Tommy mendengar omongan para tetangganya. "Cin, sebaiknya kamu ikut aku kembali ke kota," ajaknya.
"Tidak, Tom. Aku tidak punya tujuan hidup," ucapnya dengan putus asa.
"Menikahlah denganku!"
__ADS_1
JENG JENG JENG.....
Apakah Cindy akan menerima ajakan Tommy? Ikuti kisah selanjutnya ya