
Devon menyusul istrinya ke bawah. "Sayang, kenapa kamu turun, bukankah ini sudah malam, ayo kembali ke kamar," ajak Devon dengan lembut.
Istrinya tersenyum. "Baiklah," tanpa menaruh curiga Cindy ikut naik bersama suaminya. Devon merasa lega karena Cindy tidak bertanya macam-macam pada sopirnya. Ya, Devon telah berpesan pada Pak Hasan agar tidak berbicara apapun jika ditanya Cindy soal mobilnya.
Keesokan harinya Devon berangkat kerja seperti biasa. Anak-anak telah berangkat ke sekolah lebih dulu. Sedangkan Cindy harus mengawasi toko setelah dia memecat Lisa kemaren.
Dia terpaksa menitipkan anaknya pada pengasuhnya. "Tolong jaga Daisy ya mbak Sari, aku hanya sebentar ke toko," pesannya pada Sari.
Setibanya di toko roti miliknya, ia mengecek pembukuan. Cindy meminta anak buahnya untuk memegang kasir.
Sejam kemudian Irma datang berkunjung. "Tumben ke sini?" Tanya Cindy saat berjalan mendekat ke arah Irma.
Irma mengulas senyum. "Aku ingin beli roti beberapa potong untuk camilan," jawabnya.
"Oh ya, apa kau mau duduk dulu. Aku bisa suruh pegawai untuk membuatkan teh untukmu," ajak Cindy. Ia sudah lama tidak bertemu Irma.
"Kamu sudah tahu belum kalau Irene sekarang memiliki anak?" Tanya Cindy.
"Pantas saja dia tidak terlihat hari ini. Tapi darimana dia mendapatkan anak? Apa dia jadi mengadopsi anak?" Irma penasaran.
"Bukan, suaminya menemukan bayi yang diletakkan di mobilnya begitu saja waktu itu." Cindy bercerita berdasarkan apa yang Irene katakan padanya.
"Benarkah? Seperti cerita dalam sinetron saja," Irma agak ragu dengan penuturan Cindy.
"Tommy sudah melapor ke polisi tapi mereka bilang Tommy harus membawanya sampai orang tua bayi itu ditemukan. CK, seharusnya tidak perlu dikembalikan ke orang tuanya. Benar bukan?"
"Tega sekali mereka membuang bayi malang itu," Irma tampak sedih mendengar cerita Cindy.
"Biarlah mungkin bayi itu memang dipersiapkan Tuhan untuk Irene. Bukankah kamu tahu kalau Irene tidak bisa punya anak?" Irma mengangguk.
"Aku juga kasian pada Irene. Usianya masih muda tapi kesempatan memiliki anak hilang karena operasi pengangkatan rahim yang dia jalani."
"Apa kau sudah ke sana melihat anaknya?" Tanya Irma pada Cindy.
__ADS_1
"Sudah waktu itu dia tidak menjelaskan padaku kalau dia berhenti karena ingin mengasuh bayi yang ditemukan suaminya itu. Jadi aku mendatangi rumahnya."
"Aku jadi tidak sabar menanti kelahiran bayiku," Irma mengelus perutnya yang membesar.
"Jadi kapan hari perkiraan lahirnya?" Tanya Cindy.
"Akhir Oktober nanti," jawab Irma.
"Semoga persalinanmu berjalan lancar," Cindy ikut mendoakan Irma dan bayi yang sedang ia kandung.
"Kata suamiku kamu meminta bantuannya mencari pegawai baru, apa sudah dapat?"
"Sudah, tapi aku sudah memecatnya." Cindy merasa geram jika mengingat Lisa.
"Kenapa dipecat?"
"Dia terbukti mencuri uang toko. Aku menemukan sejumlah uang di tasnya saat aku melakukan penggeledahan terhadap karyawanku," jawab Cindy.
Ia kecewa pada Lisa padahal dia telah memberikan kepercayaan dengan memberinya kesempatan kerja waktu itu. Tapi Lisa telah mencuri uangnya, pikir Cindy.
"Ya sudah, aku pamit." Cindy mengangguk.
Tak lama kemudian Cindy memilih pulang. "Mas Danu saya percayakan toko pada kamu. Tolong awasi anak buah kita saat bekerja," pesan Cindy pada bawahannya.
Danu merasa tersanjung mendapatkan kepercayaan dari pemilik toko. "Baik, Bu. Saya akan bekerja semaksimal mungkin."
Cindy pun masuk ke dalam mobilnya lalu ia mengendarai mobil itu dengan perlahan. Ketika di perjalanan pulang, Cindy berpapasan dengan Lisa yang sedang duduk di sebuah taksi.
Karena penasaran, Cindy mengikuti taksi tersebut. Ternyata dia melihat Lisa turun di sebuah bandara. Ia mengeluarkan kopernya dari dalam mobil taksi.
"Mau kemana dia?" Tanya Cindy pada dirinya sendiri. "Cih, setelah apa yang dia lakukan lalu mau kabur begitu saja?"
Cindy membiarkan Lisa pergi meski ia menggerutu tak henti. Sesampainya di rumah, Cindy menerima sebuah paket yang dikirimkan padanya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucapnya pada kuris yang membawa paketnya.
Sebuah kotak kecil yang diperuntukkan baginya. "Apa ya ini isinya? Perasaan aku tidak belanja online. Kenapa kecil sekali."
Cindy pun masuk lalu meletakkan paket itu di atas nakas. Setelah itu dia ingat untuk memberikan ASI pada anaknya. Cindy jadi mengabaikan paket yang baru saja diterima itu.
Ketika Devon pulang kerja, ia melihat sebuah kotak kecil di atas nakas. Ia membaca paket tersebut diperuntukan untuk istrinya tapi tidak ada nama pengirimnya. Karena penasaran Devon membuka kotak itu.
"Memori Card?" Dia membolak balikkan memori tersebut. Lalu ia memasang memori itu pada handphonenya. Devon memutar video yang terekam di dalamnya.
"Ini bukannya pegawai di toko roti Cindy," gumam Devon. Lalu ia mencari istrinya.
"Sayang, ada yang ingin aku perlihatkan padamu." Devon membuka handphonenya. Ia memperlihatkan video ketika Danu mengambil uang di mesin kasir.
"Ya ampun, aku salah menduga. Aku telah menuduh Lisa mengambil uang toko."
"Bagaimana ceritanya?"
"Aku menemukan sejumlah uang di tas Lisa saat aku mengeledah tas para pegawai. Saat itu Danu melapor padaku kalau toko kehilangan uang. Rupanya dia sendiri yang mencuri uang itu dan memfitnah Lisa." Cindy menyesal karena memecat Lisa secara tidak hormat. Bahkan dia tidak memberikan gaji sebagai hukuman karena dia telah dianggap mencuri dalam jumlah yang sama dengan jumlah gaji yang akan ia terima.
"Apa kamu berniat meminta maaf?" Tanya Devon.
"Aku mau tapi dia sedang keluar kota." Dia ingat ketika siang tadi mengikuti Lisa sampai ke bandara.
"Darimana kamu tahu?" Tanya Devon.
"Sebab aku sempat mengikuti di sampai ke bandara. Dia membawa koper besar sepertinya berisi pakaian," jawab Cindy dengan jujur.
"Ya sudah. Mungkin belum waktunya kamu bertemu dengannya." Devon memegang kedua bahu istrinya. Dia mencoba membuat Cindy tenang agar tidak terlalu merasa bersalah
"Aku menyesal karena tidak mendengar penjelasannya waktu itu. Ah ternyata orang memang bisa berubah. Awalnya aku percaya dia bisa berubah tapi kejadian kemaren membuatku hilang kepercayaan padanya. Rupanya aku telah dibodohi oleh Danu. Dia telah mengadu domba aku dengan Lisa."
"Mulai besok pecat saja dia. Kalau perlu laporkan ke polisi. Lagipula kamu sudah mengantongi bukti kejahatannya." Devon memberikan saran pada istrinya.
__ADS_1
Sungguh kejadian yang biasa terjadi di perusahaannya. Sebagai pebisnis yang sudah memulai bisnis secara bertahun-tahun tentu ia sudah sering mengalami masalah yang berbeda-beda. Jadi penilaiannya bisa dikatakan akurat.
...Memaafkan seseorang tidak akan pernah mendatangkan kerugian. Jadi jangan ragu untuk memberikan siapa saja kesempatan kedua, ketiga, dan siapa tahu kau justru menemukan kebahagianmu di sana....