Click Your Heart

Click Your Heart
Part 123


__ADS_3

"Siapa kamu?" Tanya Ruby pada seseorang yang mendekati dirinya.


"Hahaha," suara tawa yang begitu lantang menggema di seluruh ruangan itu.


Ruby bisa mengenali suaranya. "Om Arya?" Tebak Ruby karena matanya yang tertutup sebuah kain.


Arya berjongkok lalu memegang dagu Ruby. "Rupanya kamu hafal dengan suaraku ini Ruby," puji Arya.


"Cuih," Ruby meludah di depan Arya.


Plak


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Ruby hingga dia terguling ke samping. Ruby telah membuat Arya marah dengan meludahinya. "Dasar anak tidak tahu diuntung," umpat Arya yang sangat kesal dengan kelakuan Ruby.


Ruby yang merasakan panas di bagian pipinya hanya bisa mendesis kesakitan karena kondisi tangannya yang terikat di belakang punggungnya.


"Lepasin aku laki-laki biadab," umpat Ruby tanpa rasa takut.


Arya kembali mencengkeram dagu Ruby. "Kamu berani melawanku?" Tantang Arya. Setelah itu ia membuang dagu Ruby.


"Aku bersyukur ibuku tidak jadi menikah denganmu," ucap Ruby dengan dada naik turun karena menahan amarah.


Arya menarik ujung bibirnya. "Kamu tahu dari awal aku hanya berniat memanfaatkan kebaikan ibumu dan seharusnya aku bisa menguasai kekayaannya jika kamu tidak berulah waktu itu." Arya menyalahkan Ruby karena Siska membatalkan rencana pernikahan mereka atas permintaan Ruby.


"Hahaha," Ruby tertawa lantang. "Ternyata firasatku benar kalau kau bukan laki-laki baik untuk almarhum ibuku," ucapnya kemudian.


Arya menanggapi omongan Ruby dengan senyuman sinis, yang tak bisa dilihat Ruby dengan mata tertutup. "Diamlah di sini jangan macam-macam kalau kau sayang nyawamu!" Ancam Arya seraya meninggalkan ruangan itu lalu mengunci pintu dari luar.


"Tunggu saja Om Devon pasti akan menyelamatkan nyawaku!" Teriak Ruby ketika Arya keluar.


Ruby mengerakkan tangan dan kakinya agar ia bisa melepas tali yang mengikat. Namun, tali ikatan itu terlalu kuat sehingga ia tak mampu melepasnya. Lalu ia menggoyang-goyangkan kepalanya agar kain penutup matanya terlepas tapi ia juga tak bisa melepasnya.


"Sial, aaarrgh," teriak Ruby karena frustasi.


Usahanya sia-sia saja. Kini Ruby hanya bisa berdoa memohon bantuan pada Yang Kuasa supaya dia cepat mendapatkan pertolongan.

__ADS_1


Sementara itu, Devon menyusul istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ia melihat Cello yang menangis ditemani supirnya. Devon pun menggendong anak itu ketika ia sudah berada di depannya.


"Bagaimana keadaan istriku, Pak?" Tanyanya pada sang sopir.


"Masih di dalam tuan," jawabnya gugup. Ia takut disalahkan oleh majikannya karena tidak becus menjaga istri majikannya itu.


"Bagiamana kejadiannya kenapa Ruby bisa sampai diculik dan istriku bisa sampai pingsan?" Tanya Devon setengah mengintrogasi.


"Sa-saya tidak tahu Pak. Waktu itu mereka ke area pemakaman. Saya menunggu di mobil bersama Den Cello. Tiba-tiba orang-orang menggotong nyonya Cindy yang sedang pingsan. Saya hanya dengar kalau non Ruby diculik dari saksi yang melihat kejadian itu dari dekat Pak," terang Pak Hasan panjang lebar.


Devon berpikir keras siapa orang yang menculik Ruby. Namun, di saat yang sama dokter keluar dari ruangan tempat Cindy dirawat.


"Bagiamana keadaan istri saya, Dok?" Tanya Devon yang sangat cemas.


"Anda suaminya?" Tanya Dokter tersebut. Devon mengangguk.


"Alhamdulillah, Pak. Keadaan istri anda baik begitu juga dengan janin yang ada di perutnya. Tapi kehamilannya masih rentan ya pada trimester awal sebaiknya dijaga baik-baik." Dokter memberikan saran.


"Baik, Dok. Saya ucapkan terima kasih," jawab Devon. Dokter itu mengangguk lalu melenggang pergi.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya Devon sambil menggenggam tangan istrinya itu.


Cindy mengangguk. "Mas, bagaimana dengan Ruby?" Tanya Cindy. Karena seingatnya ada beberapa orang yang berusaha mencelakai mereka.


"Kamu tenang saja sayang. Kamu serahkan semua padaku. Jangan banyak pikiran! Ingat kamu sedang hamil." Devon begitu perhatian pada istrinya.


Cindy melihat ke arah putranya yang terlihat sembab karena habis menangis. "Sini sayang peluk mama!" Cindy merentangkan kedua tangannya. Cello berhambur ke pelukan sang ibu.


"Kamu pasti ketakutan ya? Jangan khawatir ya mama baik-baik saja," ucap Cindy saat memeluk anaknya. Ia tidak mau membuat Cello cemas.


"Kakak Ruby mana Ma?" Tanya Cello polos.


Cindy melihat ke arah sang suami. Ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan anaknya.


"Devon mengajak Cello keluar sebentar untuk mengalihkan perhatiannya. "Ajak Pak Hasan beli eskrim. Papa mau minta izin pak dokter supaya mama bisa pulang hari ini." Devon mencoba memberikan pengertian pada putranya.

__ADS_1


"Horeee, mama boleh pulang," teriak Cello kegirangan.


"Sekarang kamu jajan dulu ya sama pak Hasan! Nanti papa nyusul sama mama." Cello menurut perkataan orang tuanya.


Lalu sebelum masuk ke ruangan Cindy Devon mengambil handphone Yanga ada di dalam sakunya.


"Bay, apa sudah ada perkembangan?" Tanya Devon.


"Belum, Pak. Kita kesulitan karena di sekitar makam tidak ada CCTV. Tapi anak buah saya akan saya kerahkan untuk mencari saksi yang melihat kejadian itu," jawab Bayu melalui sambungan telepon.


"Aku mencurigai seseorang Bay. Kamu suruh anak buahmu mengawasi Arya. Kemungkinan dialah dalang dibalik penculikan Ruby. Aku tahu dia sangat berobsesi untuk menguasai harta Siska. Tidak menutup kemungkinan dia ingin melanjutkan keinginannya yang gila itu."


"Baik, Pak."


Setelah menutup telepon Devon menemui perawat untuk mengurus kepulangan Cindy.


...***...


Di tempat lain yang tak jauh dari area pemakaman yang sempat dikunjungi Cindy dan Ruby, Bayu sedang mencari saksi yang melihat kejadian itu. Ia pun berinisiatif menanyakan pada orang-orang yang ada di sekitar makam. Dan yang ia temui pertama kali adalah penjaga makam. Bayu yakin dia pasti tahu mengenai kejadian penculikan yang menimpa Ruby.


"Pak, apa anda penjaga makam di sini?" Tanya Bayu pada orang yang sedang membersihkan area pemakaman.


"Betul, Pak," jawab laki-laki yang mengenakan topi sambil memegang sapu di tangannya itu.


"Apa bapak tahu kejadian penculikan yang baru saja terjadi di tempat ini?" Tanya Bayu hati-hati.


"Bapak siapa? Apa bapak polisi?" Tanya orang itu seraya memindai penampilan Bayu dari kepala hingga ujung kaki.


"Bukan, saya hanya mendengar kabar kalau ada kejadian penculikan di sini. Kebetulan saya mendengar dari orang lain yang sedang mengunjungi makam saudaranya tadi." Bayu terpaksa berbohong agar orang itu mau tidak ketakutan.


"Saya lihat beberapa orang menyeret gadis itu ke dalam mobil Pak. Dan seorang wanita yang ada bersamanya waktu itu didorong sampai pingsan," jawabnya dengan yakin.


"Apa bapak ingat plat mobil yang membawa gadis itu?" Tanya Bayu pada penjaga makam tersebut. Namun, laki-laki bertubuh gembul itu malah menatap dengan curiga.


...***...

__ADS_1


Akankah penjaga makam itu memberikan jawabannya? Tunggu kisah selanjutnya ya. Jangan lupa kasih vote, poin dan klik favorit.


__ADS_2