Click Your Heart

Click Your Heart
Part 48


__ADS_3

Setelah mendengar pengakuan ibunya, Irene bercerita pada Alan. "Apa bener Ren, coba tanya ibu lo sekali lagi gue pengen denger langsung dari beliau," pinta Alan.


Irene pun menelepon ibunya kembali. "Buk Irene mau tanya apa bener Cindy balik ke kota?" Irene mengeraskan suaranya agar Alan juga bisa mendengar jawaban ibunya.


"Benar, setelah neneknya meninggal dia dibawa oleh seorang laki-laki kaya ke kota," jawab sang ibu.


"Neneknya meninggal, Ren," gumam Alan. Irene mengangguk. Keduanya merasa sedih.


"Kenapa neneknya meninggal Buk?"


"Kena serangan jantung setelah mendengar cucunya hamil di luar nikah," Alan dan Irene makin terkejut.


Setelah itu mereka menutup teleponnya. Gue nggak nyangka nasib Cindy begitu memilukan, Lan," kata Irene sambil terisak.


"Apa kamu berpikiran sama sepertiku?" Tanya Irene meminta pendapat Alan.


"Maksud kamu dia hamil anak Pak Devon?" Tebak Alan. Irene mengangguk.


"Kurang ajar, apa kita tanya saja dia?" Geram Alan. Amarahnya memuncak ketika mendapati kenyataan itu.


"Sabar, Lan. Kita belum bisa memastikan kebenarannya. Lebih baik kita cari tahu dimana keberadaan Cindy terlebih dulu."


"Kita tanya siapa?" Tanya Alan.


"Tommy," Alan dan Irene berkata secara bersamaan. Seingat mereka Tommy pernah bertanya kalau ia ingin mencari Cindy.


Lalu mereka memberanikan diri untuk mendatangi unit apartemen Tommy. Ketika mendengar pintunya diketuk, Tommy membukakan pintu.


"Kalian?"


"Pak, kami mau bertanya apakah anda tahu dimana keberadaan Cindy sekarang?" Tanya Alan dan Irene.


Tommy terkejut dan bingung. Cindy melarang memberi tahu kepada siapapun. "Apa Cindy melarang anda memberi tahu siapapun?" Tebak Irene. Tommy mengangguk pasrah.


"Bukankah janji dibuat untuk dilanggar," Irene mengulang perkataan yang pernah dikatakan oleh laki-laki di hadapannya itu.


Tommy menghembus nafasnya kasar. "Ayo ikut aku!"


Setelah mengunci rumahnya Tommy mengajak Alan dan Irene ke suatu tempat. Mereka diajak ke sebuah rumah malam ini.

__ADS_1


Tommy menekan bel rumah tersebut ketika sampai di terasnya. Alan dan Irene terkejut ketika rumah itu dibuka oleh seseorang yang ia kenal. "Cindy," sontak keduanya memeluk Cindy dengan posesif.


Cindy menatap ke arah Tommy untuk meminta penjelasan. "Aku tidak tega pada mereka," jawab Tommy dengan santai.


"Masuk yuk," ajak Cindy.


Irene memindai tubuh Cindy yang terlihat berisi. "Kamu beneran hamil? Maaf, aku mendapat kabar dari ibuku," Irene jadi tidak enak hati.


Cindy memejamkan matanya sejenak. "Iya, aku hamil." Cindy tidak bisa mengelak karena perutnya sudah mulai membesar.


"Oh ya, hari ini ada sisa kue yang aku buat coba dicicipi, aku ambilkan sebentar." Cindy pun pergi ke dapur.


"Terima kasih banyak Pak sudah mengantarkan kami sampai kemari."


"Hei kalian terus memanggilku dengan sebutan Pak, apakah wajahku setua itu?" protes Tommy.


"Anda masih sangat tampan, Pak," jawab Alan. Tommy dan Irene jadi terkekeh mendengar pujian Alan.


"Silakan," Cindy menyuguhkan teh hangat dan sedikit kue yang ia letakkan di piring.


Tommy yang sudah terbiasa main ke rumah Cindy langsung mencomot begitu saja kue yang ia sajikan. "Ayo ambil jangan malu-malu," kata Tommy. Alan dan Irene mulai mengambil kue itu.


"Enak sekali rasanya," puji Alan.


"Kapan-kapan kita bantu jualin kue kamu nanti kita tawarin ke temen-temen ya," usul Alan.


"Wah bagus itu, kalian bisa bantu Cindy buat besarin usahanya." Tommy menimpali omongn Alan.


"Setuju," seru mereka secara bersamaan.


"Lain kali kami akan ke sini lagi," kata Irene.


"Tapi aku mohon jangan katakan pada siapa pun kalau aku tinggal di sini," pesan Cindy pada Alan dan Irene sebelum mereka pergi.


"Aku pulang dulu ya," pamit Tommy. Cindy tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


...***...


Di lain hari Alan dan Irene membawa kue buatan Cindy untuk dijual ke teman-teman kerjanya. "Bagaimana rasanya?" Tanya Alan meminta pendapat pada teman kerjanya.

__ADS_1


"Enak, aku mau pesan dong."


"Aku juga nanti mau pesan buat acara pengajian di rumah aku."


"Alhamdulillah," Alan dan Irene berucap syukur.


Semenjak itu Cindy kebanjiran orderan karena bantuan dari para sahabatnya. Ia pun merekrut dua orag pegawai untuk membantu dirinya memenuhi pesanan.


"Tolong hari ini antarkan kue-kuenya ya," perintah Cindy pada salah seorang pegawainya.


"Wah sibuk sekali kelihatannya?" Sapa Tommy.


"Eh, Tom kapan datang?" Tanya Cindy seraya melihat catatan penjualannya.


"Sudah dari tadi kamu aja yang tidak memperhatikan," kata Tommy mencebik kesal.


"Oh iya bawa pulang ini untuk orang tuamu." Cindy memberikan sebuah kotak roti pada Tommy.


"Ada sisa saat kami buat tadi, semoga mereka menyukai roti buatanku," kata Cindy dengan tulus.


"Artinya apa ini?"


Tidak ada arti apa-apa, bilang saja kamu beli roti di luar ketika dalam perjalanan." Cindy memberikan saran pada laki-laki itu.


"Terima kasih, aku akan kasihkan mamaku," ucap Tommy dengan antusias.


Sesampainya di rumah, Tommy memberikan kotak roti dari Cindy untuk mamanya. "Ma, cobain nih."


Maya membuka kotak itu. "Hmm, baunya harum sekali, kamu beli dimana?" Tanya Maya.


"Kebetulan aku mampir di toko roti tadi sebelum ke sini," Tommy bingung mau menjawab apa jadi ia mengikuti saran Cindy.


"Cindy Bakeri? Tokonya sebelah mana? Mama juga mau pesen buat acara keluarga besok," perkataan Maya membuat Tommy kalang kabut.


"Ah, biar Tommy aja yang beliin Ma, nanti mama mau roti yang kaya apa?"


"Nggak ah mama mau pilih rotinya sendiri," tolak Maya.


JENG JENG JENG

__ADS_1


Bagaimana selanjutnya? Apa Maya masih mengenali Cindy yang menolongnya waktu itu? Akankah Maya curiga dengan hubungan Tommy dan Cindy.


Simak kisah selanjutnya ya 🙏


__ADS_2