Click Your Heart

Click Your Heart
Part 144


__ADS_3

Julian mengantarkan Ruby pulang sampai ke rumah tapi dia tidak ikut turun. "Makasih ya sudah mengantar aku pulang," kata Ruby ketika ia baru turun. Julian hanya mengangguk. Setelah itu ia melajukan mobilnya. Ruby melambaikan tangan sekilas untuk mengantar kepergian Julian.


Ruby masuk ke dalam rumah. "Lho kenapa badanmu basah semua?" Tanya Cindy ketika melihat rambut Ruby lepek dan wajahnya nampak pucat kedinginan.


"Tadi habis nolong teman yang jatuh Ma pas kehujanan," jawab Ruby.


"Ya sudah kamu masuk dulu, mandi air hangat terus ganti baju," perintah Cindy pada anak angkatnya. Ruby menuruti perintah sang ibu.


Lalu Ruby masuk dan menaruh tasnya yang basah. Kemudian ia menyambar handuk dan mandi dengan air hangat. Setengah jam berlalu ia langsung menuju ke atas kasur. Ia tarik selimut dan tidur di bawahnya. Badannya menggigil karena kehujanan tadi.


Cindy menuju ke kamar Ruby untuk melihat keadaannya. "Ruby kamu sakit, nak?" Cindy menyentuh dahi Ruby. Ia sedikit demam. "Mama ambilkan obat dulu ya." Cindy pun turun ke bawah untuk mengambilkan obat di kotak obat.


"Kakak mana, Ma?" Tanya Cello.


"Kakak sedang sakit, dia ada di kamarnya," jawab Cindy. Cello langsung berlari ke kamar Ruby. "Kakak jangan sakit, Hua...." Cello menangisi Ruby.


"Apaan sih dek, kakak cuma demam. Adek jangan ganggu kakak ya biar kak Ruby istirahat." Perintah Cindy pada Cello.


Cello menuruti perintah Cindy. "Ma, kalau minum obat kan pahit kok kakak suka sih?" Tanya Cello polos. Ia melihat Ruby tak protes sama sekali ketika Cindy memberinya obat. Sontak Ruby dan Cindy pun tertawa melihat ocehan anak kecil itu.


"Kamu mau coba?" Cindy pura-pura menyodorkan sendok obat ke arah Cello. Cello menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil lalu berlari keluar.


"Cello kenapa lari-lari?" Tanya Devon yang menangkap tubuh kecil itu.


"Mama mau kasih obat ke aku," adunya.


Devon berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Cello. "Memangnya kamu sedang sakit?" Cello menggeleng. "Kakak yang sakit," jawabnya jujur.


"Sakit apa?" Tanya Devon lagi.


"Habis hujan-hujanan, Pa," jawab Cello.


Setelah itu Devon berjalan ke kamar Ruby untuk menengoknya. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Devon pada sang istri.


Cindy baru saja menutup pintu kamar Ruby. "Tenang saja sebentar lagi juga demamnya turun, aku sudah memberinya obat penurun panas," jawab Cindy.


"Dia tidak naik taksi?"


"Tadi katanya dia nolongin temannya yang jatuh pas kehujanan jadi pulangnya basah kuyup. Ya sudah biarkan dia beristirahat." Cindy mengajak suaminya keluar dari kamar Ruby.

__ADS_1


Selang beberapa lama Cindy kembali menengok keadaan Ruby. Ia mendengar Ruby menyebut nama Siska dalam mimpinya. Lalu Cindy kembali memeriksa kening Ruby.


"Demamnya semakin tinggi." Untuk memastikan ia mengambil termometer. "39°C. Ruby bangun nak! Kita minum obat penurun panas lagi kalau sampai besok kamu belum mendingan kita berobat ke dokter," bujuk Cindy.


Ruby malas bangun karena ia merasakan tubuhnya lemas. Tapi Cindy dengan telaten membantunya bangun supaya Ruby mau minum obat.


Keesokan harinya demam Ruby sudah turun tapi wajahnya masih terlihat pucat. "Sebaiknya kamu izin sekolah saja untuk hari ini." Devon memberikan saran. Ruby mengangguk.


"Kakak cepat sembuh ya," ucap Cello memberi semangat pada kakaknya. Ia juga memeluk Ruby dengan erat.


"Ayo Cello papa yang antar kamu ke sekolah hari ini."


"Horeee...." seru Cello kegirangan.


Setelah itu Cindy meminta asisten rumah tangganya mengantarkan makanan ke kamar Ruby. Sedangkan Cindy sedang menyu*sui bayinya. Baby Daisy sangat menggemaskan semakin hari berat badannya semakin bertambah sehingga membuat badan bayi perempuan itu terlihat berisi.


Ting tong


Cindy meminta asisten rumah tangganya membukakan pintu. Ternyata kakak iparnya datang menjenguk. "Maaf ya aku baru menjenguk keponakan aku yang menggemaskan ini," kata Celine sambil mencubit pipi Daisy karena gemas.


"Nggak apa-apa aunty."


"Jaden mau diminta nemenin mbak belanja?" Tanya Cindy yang membayangkan betapa kesalnya wajah Jaden sewaktu menemani ibunya.


"Mau, dia sangat antusias, dia memang suka anak kecil jadi dia sendiri yang pilih baju-baju ini buat .... Siapa namanya?" Tanya Celine menanyakan nama anak perempuan Cindy.


"Daisy Ganendra Felicia. Panggilannya Daisy," jawab Cindy.


"Anak-anak pulang sekolah jam berapa?" Tanya Celine.


"Cello kalau pulang jam sepuluh kalau Ruby..." Belum selesai Cindy berbicara Ruby memanggil namanya.


"Ma, Bi Inah mana? Aku mau minta tolong dibuatin susu?" Tanya Ruby yang masih mengenakan baju piyama. Celine jadi mengerutkan keningnya.


"Kamu nggak sekolah?" Tanya Celine pada Ruby. Ruby menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" Tanyanya lagi.


"Kemaren dia pulang kehujanan, mbak," terang Cindy mewakili Ruby.


"Loh kok sama kaya Julian kemaren dia pulang-pulang juga basah kuyup badannya. Apa kalian pulang bareng?" Tanya Celine curiga.

__ADS_1


"Iya Tante, dia berhenti di depan sekolah saya kemaren."


"Tapi kenapa bisa sampai kehujanan? Kalian kan naik mobil."


"Saya nolongin temen saya yang terjatuh Tante," jawab Ruby. Kakinya sedikit gemetar karena badannya masih lemah.


Cindy panik melihat Ruby terduduk. "Ruby kamu kenapa?"


"Kepalaku pusing, Ma," jawab Ruby sambil memegangi kepalanya.


Lalu Celine berdiri dan memapah Ruby sampai ke kamarnya. "Terima kasih Tante." Kaki Ruby naik ke atas ranjangnya.


Celine menaikkan selimutnya. "Kamu sudah minum obat?" Ruby mengangguk. Nanti susunya biar di antar ke kamarmu saja," ucapnya sebelum keluar.


Di tempat lain, Julian sejak tadi bersin karena ia sedikit meriang karena kehujanan bersama Ruby kemaren.


"Hatcih...."


"Sakit, bro?" Tanya teman Julian.


"Cuma flu dikit doang habis kehujanan," jawab Julian singkat. Lalu dia bangun dari tempat duduknya.


"Mau kemana, bro?"


"Beli obat sama masker di koperasi," jawabnya sambil berlalu. Ia berjalan keluar kelas sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.


Salah seorang siswi mendekatinya. "Hai, Jul," sapanya dengan nada genit. Julian hanya meliriknya sekilas lalu melanjutkan jalannya.


"Kemaren aku lihat kamu hujan-hujanan ngapain sih?" Julian berhenti mendengar pertanyaan temannya itu.


"Kamu buntutin aku ya?" Tuduh Julian. Gadis itu terlihat gugup.


"Aku cuma kebetulan lewat," jawabnya bohong.


Julian menarik ujung bibirnya. "Kamu nggak lihat kalau aku nolongin orang kemaren?" Tanya Julian pada gadis yang berjalan bersamanya.


"Oh ya?" Julian mengangguk. Temannya terlihat kagum. "Kamu nolongin siapa?" Ia antusias mendengar jawaban pemuda yang jadi idolanya itu.


"Aku nolongin sepupu aku bantu temannya yang jatuh akibat tertimpa pohon. Aku cuma bantu mayungin dia aja," jawabnya diringi tertawa keras.

__ADS_1


Gadis itu merasa dibohongin padahal dia sudah kagum duluan. "Huu dasar cowok narsis, aku kira dia beneran sekeren itu," gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.


__ADS_2