Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 192


__ADS_3

Alan merasa geram ketika melihat Tania disakiti oleh mantan suaminya. Lalu Alan memukul Fikri dari belakang. Tania berlari ke belakang punggung Alan setelah tangan Fikri melepasnya.


Bruk


Laki-laki itu terjatuh dengan sekali pukulan. "Sia*lan kamu berani melawanku?"


"Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku lebih marah." Alan memberi peringatan pada mantan suami Tania.


"Ayo siapa takut," tantang Fikri.


Tak lama kemudian beberapa orang datang ke rumah Tania. "Berhenti! Kalian jangan berkelahi." Salah satu warga memberi peringatan.


Fikri tidak jadi memukul Alan. Dia memutuskan untuk keluar dari pada berurusan dengan warga.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Alan pada Tania Tania mengangguk. "Sekarang kamu aman," imbuhnya.


Setelah Fikri pergi, orang-orang yang datang ke rumah Tania juga pamit pulang.


"Terima kasih sudah menolongku," kata Tania.


"Baiklah aku permisi. Kamu jangan lupa mengunci pintu!" Pesan Alan sebelum pergi.


"Untung saja ada Alan. Bagaimana kalau tidak, Fikri pasti akan melecehkan kamu," ucap sang ibu kesal.


"Menurut ibu, mas Alan bagaimana?" Tanya Tania meminta pendapat.


"Tanya pada diri kamu sendiri. Kamu bisa menilai dia seperti apa. Yang akan menjalani hubungan adalah kamu bukan ibu." Sang ibu memberikan nasehat. Tania tersenyum malu-malu.


Sementara itu Alan sampai di depan rumahnya. Dua orang laki-laki tiba-tiba memukulnya dari belakang saat ia akan membuka pintu pagar rumahnya. Mereka mengeroyok Alan.


"Ini balasan dariku karena kamu telah berani memukulku di rumah Tania tadi. Ingat Tania itu hanya milikku." Fikri memberikan peringatan.


Alan tak berdaya, wajahnya babak belur karena dipukuli. Dia kalah jumlah. Setelah puas memukul Alan. Orang suruhan Fikri tersebut pergi meninggalkan Alan. Laki-laki itu masuk ke dalam rumah dengan terseok-seok.


Setelah itu, dia mengambil kotak obat dan mengobati lukanya sendiri. Usai mengobati lukanya Alan merebahkan diri di atas kasur. Dia mulai memejamkan matanya.


Keesokan harinya, Alan izin tidak masuk kerja. Badannya masih terasa sakit usai dipukuli. Dan lagi dia tak mungkin pergi bekerja dengan muka yang babak belur seperti itu.


"Dia benar-benar menghancurkan wajahku," gerutu Alan ketika dia sedang bercermin.


Di sisi lain, Tania menyempatkan diri untuk mengunjungi toko roti milik Cindy. "Hei, Tania tumben sekali datang ke sini," kata Cindy. Tania tersenyum. "Apa kamu mencari Alan?" Tanya Cindy. Tania mengangguk malu-malu.


"Dia tidak masuk hari ini karena sakit," akunya.


"Sakit? Tapi semalam dia baik-baik saja," ucap Tania yang tak percaya dengan omongan Cindy.


"Apa semalam kalian bertemu?" Tanya Cindy. Tania mengangguk. Cindy merasa senang karena hubungan Tania dan Alan ada perkembangan.

__ADS_1


Tak mau mendapatkan banyak pertanyaan lagi dari Cindy, Tania memilih pamit. Dia berencana mampir ke rumah Alan ketika pulang kerja nanti.


Saat ini Alan merasa lapar, tapi dia ingin makan di luar daripada dia mendapatkan banyak pertanyaan dari tetangganya jika dia membeli makanan di warteg langganannya dengan wajah penuh lebam.


Alan memilih makan di sebuah warung makan pinggir jalan yang lumayan jauh dari rumahnya. Namun, ketika dia menoleh Alan tak sengaja melihat Tania keluar dari mini market yang terletak persis di depan warung tempat Alan makan saat ini. Alan pindah duduk supaya Tania tak melihat wajahnya.


Namun, Tania begitu jeli. Tak sengaja ketika dia mengedarkan pandangannya, dia melihat Alan. Tak mau membuang waktu Tania pun menyebrang jalan untuk menemui Alan.


"Mas Alan," Alan menoleh ketika namanya dipanggil. Betapa terkejutnya Tania ketika melihat wajah Alan babak belur.


"Wajahmu kenapa mas?" Tanya Tania khawatir.


"Tidak apa-apa hanya terjatuh dari motor," bohongnya.


"Jangan bohong mas. Ini seperti dipukuli." Tebak Tania.


"Sudahlah tidak apa-apa." Alan tersenyum agar Tania tidak khawatir lagi.


"Apa mas Fikri yang melakukannya?" Tebak Tania. Alan tidak menjawab. Dia takut Tania mencari Fikri untuk mencari perhitungan.


"Kenapa kamu begitu cemas?" Tanya Alan.


"Aku peduli padamu," jawab Tania dengan lembut. Alan tersenyum tipis. Ia berusaha menyembunyikan kebahagiaannya.


"Terima kasih. Apa kau sudah makan?" Tanya Alan.


"Tania sudah jam berapa ini kenapa kamu belum kembali? " Tanya Tommy sambil memarahinya."


"Baik pak saya akan kembali." Setelah itu Tania menutup teleponnya.


"Maaf aku harus kembali bekerja. Mas Alan pulangnya hati-hati," pesan Tania sebelum pergi. Alan senang mendapatkan perhatian dari Tania.


Alan melambaikan tangan pada Tania. Alan memegang dadanya. "Ah dadaku berdebar kencang."


Usai makan Alan pulang ke rumahnya.


*


*


*


Keesokan harinya Alan sudah kembali bekerja. Toko roti yang awalnya dimulai dari bisnis rumahan tersebut sekarang sudah memiliki dua cabang toko di kota yang berbeda.


"Ya ampun mukamu kenapa Lan?" Tanya Cindy kaget saat berpapasan dengan Alan.


"Nggak apa-apa, laki biasa kaya gini," jawabnya asal. Cindy memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Kemaren ada yang nyariin kamu tuh," kata Cindy.


"Udah tahu."


"Jadi kemaren kamu ketemu dia?" Tanya Cindy. Alan mengangguk. "Nggak sengaja ketemu di warung pas aku beli makanan."


"Jadi kamu sudah menyatakan perasaan kamu sama Tania?" Cindy benar-benar kepo kali ini jiwa Mak comblangnya mendadak muncul.


"Ya begitulah."


"Lalu apa jawaban Tania?"


"Aku belum bicara secara langsung, tapi aku rasa dia tahu kalau aku menyukainya."


"Aku saranin kamu ambil tindakan cepat. Kamu mau keduluan sama yang lain?" Cindy memberikan saran.


Alan kembali bekerja. Dia tak mau terus membicarakan Tania karena wajah cantiknya selalu bisa merusak konsentrasi.


Usai pulang kerja, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Semua pegawai sudah pulang. Hanya tinggal Alan yang menunggu di depan toko. Tania sengaja lewat di depan toko roti Cindy. Dan benar saja dugaannya. Alan masih di sana.


Tania menghentikan mobilnya. Lalu dia turun menggunakan payung. "Kenapa kamu belum pulang mas?" Tanya Tania.


"Menunggu hujan reda," jawab Alan.


"Apa mas Alan tidak membawa jas hujan?"


"Aku tidak menyangka kalau hari ini akan hujan selebat ini," jawab Alan.


"Mas aku ingin bilang sesuatu sama kamu."


Kira-kira apa yang ingin disampaikan oleh Tania.


Sambil nunggu kalian bisa baca karya author Ingflora CEO and The Twins


Sinopsis :


Wajah mungkin sama, tapi tidak dengan hatinya.


Ian Xander terkejut ketika mengetahui penghianatan kekasihnya yang cantik Elevika Zarin, yang meninggalkannya demi pria yang lebih kaya darinya.


5 tahun kemudian, Ian menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan terkenal di Indonesia. Tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan mantan kekasihnya itu walaupun dia berjilbab, berkacamata tebal dan tidak cantik bernama Noura. Ia jatuh cinta dan mengejarnya. Ia pun kemudian melamarnya.


Namun kemudian ia baru mengetahui bahwa Noura adalah kembaran Vika, mantan kekasihnya dulu. Saat itu juga timbul niatan untuk membalas dendam dengan mantan kekasihnya itu dengan membuat hidup Noura sengsara tanpa tahu Noura juga sering dibuli oleh kembarannya.


Dapatkah Noura memperbaiki pernikahannya ini setelah tahu suaminya hanya membuat hidupnya sengsara ataukah ia akan menyerah dan berpaling pada teman sekerjanya yang juga jatuh cinta diam-diam padanya?


__ADS_1


__ADS_2