
Cindy terkejut ketika melihat suaminya pulang dalam keadaan mabuk berat. "Apa yang terjadi dengan suamiku?" Cindy meminta penjelasan pada Bayu.
"Saya kurang tahu, ketika saya sampai beliau sudah dalam keadaan mabuk."
"Tolong bawa masuk ke dalam."
"Hueekk," Devon memuntahkan isi perutnya.
"Ya ampun Mas, kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya."
Bayu membaringkan Devon di sofa lalu menaikkan kakinya. Cindy melepas kaos kaki dan sepatunya. Ia juga melepas jas yang dikenakan oleh Devon.
"Apa masih ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya Bayu.
"Tidak ada Pak. Oh ya tolong handle pekerjaan di kantor besok. Saya rasa suami saya perlu istirahat sehari." Bayu mengangguk paham.
"Saya permisi dulu," pamit Bayu.
Setelah itu, Cindy mengambil air hangat untuk membersihkan badannya yang kotor. jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Cindy tertidur di samping suaminya.
Pukul saat subuh, Devon terbangun, ia melihat istrinya itu tidur dalam keadaan duduk.
Kepalanya sedikit pusing. Namun, ia paksakan untuk mengangkat Cindy. Ia merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.
"Maafkan aku karena telah merepotkan selama ini," kata Devon lirih di samping istrinya. Lalu ia mencium tangan Cindy dengan lembut.
Setelah itu Devon ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Badannya yang baru alkohol telah hilang setelah disiram air.
Cindy mengerjapkan matanya. "Kenapa aku bisa tiduran di sini?" Gumam Cindy. Ia pun beranjak dari atas ranjang.
Tak lama kemudian Devon keluar dari kamar mandi. "Mas, kamu sudah bangun terlebih dulu rupanya?" Tanya Cindy memastikan.
"Iya, sayang. Oh ya siapa yang membawaku pulang semalam aku tidak ingat sama sekali," Tanya Devon.
"Bayu, aku yang memintanya mencarimu," kata Cindy dengan jujur.
"Mas, apa masalahmu seberat itu sehingga kamu mabuk-mabukan seperti semalam," cecar Cindy.
"Kamu tidak akan mengerti."
"Bagaimana aku bisa mengerti kalau kamu hanya diam saja. Kamu punya mulut kan? Kenapa mulutmu itu tak kau gunakan untuk berbicara padaku, jangan hanya dipendam sendiri."
Plak
Devon tak sengaja menampar pipi istrinya. Mata Cindy mengembun. "Apa tidak boleh istri mengingatkan suami yang berbuat salah?" Kata Cindy dengan nada bergetar.
Setelah itu Cindy keluar menuju ke kamar anaknya. Di sana ia langsung masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan rapat.
Cindy menangis kecewa setelah mendapat tamparan dari suaminya. Tapi ia menggigit bajunya agar ia tak bersuara sedikitpun.
Setelah merasa tenang, Cindy keluar dari kamar mandi. Tanpa disengaja Cello sudah ada di depan kamar mandinya.
__ADS_1
"Minggil ma aku kebelet pipis." Kata-kata anaknya itu membuat Cindy menahan tawa.
"Bisa cebok sendiri apa tidak?" Tanya Cindy dengan lembut.
"Aku kan cowok jadi nggak perlu cebok."
Cindy menepuk jidatnya. "Siapa yang bilang? Setiap kali pipis harus cebok, lalu cuci tangan dan kaki ya. Supaya ketika makan tangan kita tetap bersih.
"Iya, Ma. Cello mau keluar," rengek Cello.
"Eh sekalian mandi sayang. Nanti kita terlambat masuk ke sekolah." Untung Cello anak yang baik, dia menuruti kata ibunya.
Di dalam kamar mandi Cindy bermain busa sabun bersama Cello. Rasa sakit dan kecewanya tertutupi oleh rasa bahagia bersama anaknya.
"Yuk ganti baju! Habis itu kita sarapan," kata Cindy bersemangat agar Cello juga ikut bersemangat.
Di balik pintu Devon mengintip kegiatan Cindy dan Cello di dalam kamarnya. Ia merasa bersalah pada Cindy karena tangannya menampar pipi istrinya itu tanpa sengaja.
Emosi Devon sungguh sedang tidak stabil. Mungkin karena tekanan besar akibat kerugian perusahaan yang ia bangun. Belum lagi masalah keuangan yang semakin hari semakin menipis.
...***...
Bagas, asisten Darren melapor pada atasannya. "Pak sebaiknya anda membantu pak Devon. Sepertinya masalah perusahaannya benar-benar serius."
"Benarkah?"
"Semalam saya ikut menolong Bayu memapah Pak Devon yang mabuk berat di kantornya pak."
"Apa perlu saya selidiki pak?" Tanya Bagas.
"Ya lakukanlah!" Perintah Darren. Bagaimana pun Devon adalah adik kandungnya. Meski sempat menolak memberikan jumlah uang yang diminta beberapa waktu lalu, bukan berarti Darren tak peduli.
...***...
Devon menemui Cindy di toko roti usai mengantarkan anaknya ke sekolah. "Mas, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Cindy pada suaminya.
"Bisa kita bicara sebentar," kata Devon.
Lalu Cindy mengajak suaminya ke depan. "Bicaralah!"
Devon meraih tangan Cindy. "Aku mohon maafkan aku karena aku telah menampar mukamu," kata Devon bersungguh-sungguh.
Cih, laki-laki mah gitu kalau udah ngelakuin salah bilangnya khilaf. Cewek mah pasrah aja soalnya takut kehilangan iya nggak readers?
Cindy menghela nafas. "Lupakan masalah yang tadi pagi. Yang penting kamu berjanji padaku tidak akan pernah mengulangi perbuatannya lagi."
Devon mengulas senyumnya. "Aku janji sayang."
"Mas mau apa sekarang?"
"Aku akan ke kantor,"
__ADS_1
"Apa tidak beristirahat saja di rumah?" Saran Cindy.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku pergi dulu." Devon mencium kening istrinya agak lama sebagai tanda terima kasih karena Cindy telah memaafkan dirinya.
Setelah itu Devon menaiki ojek online. Cindy melihat miris ke arah suaminya. Dulu mereka bahkan memiliki mobil sport keluaran terbaru. Tapi keadaan mereka sangat terbalik sekarang.
Tak terasa ia meneteskan air matanya. "Semoga aku bisa membantu kesulitanmu mas" kata Cindy sambil menatap kepergian suaminya.
"Mam, pak Devon kenapa naik ojek?" Tanya Irene tak mengerti.
"Kami sudah menjual semua mobil. Bahkan mobil yang masih ada di bengkel karena rusak kami tak sanggup untuk membawanya pulang."
Irene merasa kasian pada sahabatnya itu. "Andai saja aku bisa membantu," gumam Irene dalam hati.
...***...
"Yang, apa kamu tidak bisa membantu keuangan pak Devon?" Rengek Irene pada Tommy, kekasihnya.
"Aku sudah tidak bekerja sama lagi dengannya karena kepemilikan saham terbesar bukan dia yang pegang tapi orang lain," jawab Tommy.
"Siapa?" Tanya Irene.
"Namanya Arya, seorang pengusaha yang tengah naik daun."
Lalu di lain hari ketika Irene sedang berbincang dengan Cindy ia menceritakan perihal Arya pada Cindy.
"Arya?" Cindy mengingat-ingat pemilik nama itu.
"Apa laki-laki yang tiga kali menolongku itu?" Gumam Cindy.
"Apa kau mengenalnya?" Tanya Irene.
"Ya, tapi itu entah Arya yang sama atau berbeda aku tidak tahu pasti."
"Sebaiknya cari tahu, coba ajak dia bertemu dan membicarakan masalah perusahaan suamimu dengan baik." Irene memberikan saran.
"Apa yang bisa membuatnya percaya padaku?" Tanya Cindy meminta pendapat.
"Entahlah kita juga tidak tahu motifnya apa," balas Irene.
"Arya?" Tanpa diduga Ruby mendengar obrolan antara Irene dan Cindy.
"Tante lagi ngomongin om Arya?" Tanya Ruby yang baru masuk ke toko kue Cindy.
"Sayang, kapan kamu sampai?" Tanya Cindy basa-basi.
"Tante kenal juga sama om Arya brengsek itu?" Tanya Ruby.
"Emang om Arya yang Ruby maksud bagaimana wajahnya?" Tanya Cindy.
Lalu Ruby membuka ponselnya dan menunjukkan foto Arya di media sosialnya.
__ADS_1
"Tidak salah lagi," sahut Irene.