Click Your Heart

Click Your Heart
Part 119


__ADS_3

Tommy ke toko roti tempat Irene bekerja. "Apa Irene ada?" Tanya Tommy pada Irma.


"Entahlah aku tidak tahu dimana dia sekarang, dia tidak masuk hari ini. Tapi anehnya dia tak memberi kabar," jawab Irma.


Tommy mengerutkan keningnya. "Tak biasanya dia seperti ini?" Batin Tommy.


"Kalau gitu aku permisi dulu," pamitnya.


Laki-laki itu mendatangi tempat kos Irene. Ketika ia baru sampai di depan pagar, Tommy bertemu dengan Mala. "Mau cari siapa, Mas?" Tanya Mala pada laki-laki di depannya.


"Irene," jawabnya singkat.


Mala memindai penampilan Tommy. "Anda kekasihnya?" Tanya Mala memastikan. Tommy mengangguk.


"Ya Allah Mas, kenapa baru datang? Anda tidak tahu kalau Irene sedang sakit? Ayo aku ajak menemuinya." Tommy terkejut mendengar penuturan Mala. Lalu Mala mengajak Tommy ke dalam kamar Irene.


Ketika sudah berada di dalam kamar, Tommy melihat Irene menggigil dengan wajah yang pucat.


"Ren, kamu kenapa?" Tanya Tommy sambil berjongkok. Ia melihat kening Irene yang lebam. Lalu ia menyentuh keningnya perlahan. "Kamu demam Ren. Kalau lagi demam kenapa selimutan?" Tommy menyibak selimut yang dipakai oleh gadis itu.


Tampak lututnya yang terluka. "Apa kamu habis kecelakaan?" Irene tak menyahut omongan Tommy.


"Mas, jangan ditanya terus bawa aja ke rumah sakit!" Perintah Mala pada Tommy.


Tommy pun mengangkat tubuh Irene lalu ia membawanya ke dalam mobil. Mala melihat mobil Tommy yang semakin jauh.


Di dalam mobil Tommy beberapa kali melirik ke arah Irene tapi gadis itu tidak sadarkan diri. Karena panik, Tommy menambah kecepatan mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit terdekat, Tommy menyuruh perawat untuk menolong calon istrinya itu. Di saat Irene sedang ditangani, Tommy mengurus bagian administrasi.


"Bagaimana keadaan calon istri saya Dok?" Tanyanya pada dokter yang baru keluar dari UGD.


"Dia demam mungkin karena luka yang dialami. Apa dia habis kecelakaan? Saya lihat lutut dan sikunya terluka. Dahinya juga lebam." Tommy menggeleng. "Saya tidak tahu," jawabnya lesu. Dokter mengerutkan keningnya. Dia pasti berpikir mana mungkin calon suami tidak mengetahui keadaan calon istrinya.


Setelah itu dokter meninggalkan Tommy yang masih diam di tempat. Sesaat kemudian Tommy masuk untuk menemui Irene. Usai diberikan obat, Irene mulai sadar.


"Mas, aku dimana?" Tanya Irene ketika menyadari ia tak lagi berada di kamarnya.

__ADS_1


"Aku membawamu ke rumah sakit."


Irene bangkit lalu ia turun dari brankar. "Kamu mau kemana?" Cegah Tommy.


"Aku mau pulang Mas."


"Kamu masih sakit, sebaiknya kamu menginap di sini beberapa hari," ucapnya bersikeras.


Irene tersenyum sinis. "Untuk apa mempedulikan aku?"


Tommy menyadari kalau Irene pasti kecewa dengan sikapnya kemaren. "Aku minta maaf karena tak mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu." Sesaat kemudian ia menaikkan intonasi suaranya. "Sekarang jelaskan apa yang kamu lakukan dengan Alan kemaren sampai pegangan tangan segala. Udah gitu kamu peluk-peluk dia lagi."


"Aku kira kamu tidak peduli Mas sama calon istrimu ini, ternyata kamu terlalu cemburu," ledeknya sambil terkekeh kecil.


Tommy mendekat ke arah Irene lalu menggenggam tangannya. "Ya jelaslah aku cemburu, kamu tahu menggenggam tangan seperti ini jika dilakukan oleh lawan jenis berarti mereka memiliki perasaan yang bisa menggetarkan hatinya."


Tommy menatap ke dalam mata Irene. "Alan menyatakan cintanya padaku." Ucapan Irene membuat tangannya terlepas dari genggaman Tommy.


Hati Tommy berkecamuk. Ia merasakan sakit yang luar biasa mendengar calon istrinya mengatakan hal itu. Apa benar Irene selingkuh? Banyak pertanyaan yang memenuhi otaknya saat ini.


Tommy berdiri dan menjauh. "Jadi kamu hanya ingin tahu sebatas itu, Mas?" Tanya Irene dengan suara lebih keras.


"Kenapa kamu tidak bertanya apa aku menerimanya atau tidak?" Suara Irene mulai bergetar.


Tommy tak menjawab, ia kembali menatap Irene. "Kamu hanya bisa menyimpulkan sesuatu yang kamu lihat sekilas dengan mata kepalamu Mas," ucap Irene sedikit kecewa.


"Apa kamu menerimanya?" Pertanyaan yang sulit ditanyakan pada Tommy karena ia tak siap mendengarkan jawaban pahit yang keluar dari mulut Irene.


"Tentu saja..." Irene menggantung kalimatnya. Tommy terduduk lemas.


Irene sedang menggoda calon imamnya. "Tentu saja aku menolaknya."


Tommy segera mendekat lalu mencium bibir Irene saat mendengar kenyataan yang membuatnya bahagia. Itu artinya hubungan mereka aman dari orang ketiga.


"Kamu senang melihatku kacau seperti?" Tanya Tommy sambil mencebik kesal. Irene malah tertawa.


"Aku kesal denganmu Mas. Kamu tidak mendengarkan aku hingga aku melamun saat berkendara. Lihat ini salahmu," Irene menyalahkan Tommy atas kejadian yang menimpanya.

__ADS_1


Tapi Tommy sama sekali tidak marah. Ia malah memeluk Irene dengan erat. "Maafkan aku. Tunggu aku ingat kamu kemaren juga memeluk Alan."


"Tuh kan mulai deh. Aku memeluknya karena aku kasihan padanya. Aku tidak enak sudah menolak Alan."


"Hanya itu?" Irene mengangguk.


"Apa dia tidak tahu kalau kita akan menikah kurang dari seminggu lagi?" Irene menggelengkan kepalanya.


"Aku baru akan memberikan undangan padanya saat itu. Tapi tidak kusangka dia malah menembakku."


"Tapi sekarang urusanmu dengan dia sudah selesai kan?" Tanya Tommy memastikan.


"Aku masih boleh kan temenan sama dia? Dia itu sahabatku dari dulu teman seperjuangan aku dan Cindy juga."


"Baiklah. Tapi pastikan dia tidak macam-macam lagi padamu." Tommy memberikan peringatan.


Irene tampak lega kesalahpahaman antara dia dan calon suaminya sudah selesai. "Terima kasih Mas."


"Sekarang beristirahatlah! Ingat sebentar lagi kita akan menikah. Persiapkan dirimu!" Tommy berbisik ke telinga Irene.


Irene malah bergidik ngeri mendengar penuturan Tommy. "Per-persiapkan untuk hari H kan?" Tanya Irene gugup. Otaknya sudah traveling kemana-mana.


Tommy tersenyum menyeringai. "Persiapkan untuk malam pertama kita," jawabnya membuat Irene membelalakkan matanya. Ia tak menyangka Tommy semesum itu.


...***...


Hari yang dinantikan tiba. Tommy berada di sebuah aula kini sedang berhadapan dengan penghulu dan wali dari calon istrinya.


SAH


Ia merasa lega ketika mendengar kata yang sangat sakral itu. Beberapa saat lalu ia mengucapkan ijab qobul dengan satu tarikan nafas di depan penghulu, wali dan dua orang saksi dari pihak Irene.


Irene yang sejak tadi menunggu di dalam kamar hotel sekarang diperbolehkan bertemu dengan laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya.


Irene dituntun oleh Cindy dan Irma yang berperan sebagai pendamping mempelai wanita berjalan ke arah sang suami. Tommy memakaikan cincin pernikahan ke jari manis istrinya, begitu sebaliknya dengan Irene. Setelah itu, Tommy mencium kening Irene sedikit lama.


Dari sudut ruangan itu, Alan memperhatikan keduanya. "Selamat menempuh hidup baru Ren. Meski aku tidak mendapatkan cintamu tapi kamu adalah sahabat terbaik untukku."

__ADS_1


"Jadi cuma Irene sahabat baikmu?" Tanya seseorang yang berada di belakang Alan.


__ADS_2