Click Your Heart

Click Your Heart
Part 154


__ADS_3

Setelah memasang iklan lowongan pekerjaan di media sosial, Cindy mendapatkan banyak telepon dan pesan dari para pelamar.


"Ma, handphone mama berbunyi dari tadi." Ruby menegur ibu angkatnya.


"Iya, mama buka lowongan pekerjaan untuk mencari pegawai toko yang baru."


"Memangnya ada yang mengundurkan diri ya ma?" Tanya Ruby.


"Iya Tante Irene mengundurkan diri," jawab Cindy.


"Apa? Memangnya kenapa ma? Gaji yang diberikan mama kurang?" Tebak Ruby.


"Bukan dia harus..." Cindy bingung bagaimana menjelaskan pada Ruby. Dia pasti banyak bertanya kalau menceritakan bahwa Tommy menemukan bayi.


"Ah nanti tanya Tante Irene saja kalau kamu ketemu dia," jawab Cindy tak mau pusing.


"Ruby mama minta tolong jaga adikmu sebentar, mama mau telepon pak Bayu."


"Pak, bagaimana ini? Terlalu banyak pelamar saya jadi bingung?" Cindy meminta solusi pada Bayu karena kemaren dia yang disuruh untuk mencarikan pegawai baru.


"Tidak ada jalan lain Bu. Sebaiknya anda menyeleksi secara langsung mereka satu per satu."


"Baiklah, aku malas membalas pesan mereka. Tolong pasang pengumuman untuk datang langsung ke toko besok pagi mulai jam delapan." Perintah Cindy pada Bayu.


"Baik, Bu."


Lalu keesokan harinya Cindy datang ke toko. Sudah banyak orang yang berjajar untuk melamar posisi kasir di tokonya. Cindy berjalan menggunakan sepatu hak tinggi dan setelan blouse warna putih tulang yang sangat menawan.


"Itu ya owner-nya?" Bisik-bisik salah seorang pelamar.


"Iya kali, cantik ya."


"Cantiklah, mereka kan orang kaya pasti perawatan diri diutamakan."


Lalu Cindy menempatkan diri ke depan untuk memberi pengumuman pada para pelamar. "Saya harap kalian bisa antri tanpa menimbulkan keributan di sini. Saya sangat menghargai usaha anda untuk melamar jadi jangan biarkan kepercayaan saya hilang karena para pembuat onar. Tolong ciptakan lingkungan yang kondusif agar sesi wawancara selesai dengan cepat sehingga kalian tidak perlu mengantri lama."


Setelah itu Cindy memulai sesi wawancara. Ada puluhan pelamar yang harus diseleksi seorang diri. Ia jadi bingung. Sampai ia berhadapan dengan seseorang yang ia kenal.


"Apa aku juga boleh melamar kerja di sini?" Tanya Lisa ragu.


"Bukankah kamu punya pekerjaan?" Tanya Cindy.


"Aku tidak pernah bekerja secara tetap di manapun. Tapi aku berpengalaman di bidang keuangan."

__ADS_1


"Baiklah aku akan pertimbangkan. Kamu bisa pulang dulu nanti aku akan kabari jika kamu diterima." Cindy meminta Lisa keluar.


Sebenarnya ia malas berhadapan langsung dengan Lisa. Ia tak mau tiba-tiba ia bertengkar di tempat umum.


Seharian penuh Cindy menyeleksi para pelamar. Dia bingung harus memilih yang mana. "Ah sudahlah aku pusing hari ini. Sebaiknya kalian tutup toko sekarang," perintah Cindy pada para pegawainya.


"Baik, Bu." Jawab mereka kompak.


Setelah itu, Cindy pulang ke rumah. Tapi ketika di perjalanan ia memutuskan untuk berhenti di pertokoan yang menjual barang kebutuhan bayi. Ada sesuatu yang ingin dia beli untuk anaknya.


"Eh aku beli hadiah juga untuk bayinya Irene. Aku rasa ini cocok." Cindy mengambil setelan bayi laki-laki untuk dijadikan hadiah.


"Berapa semuanya?" Tanya Cindy ketika berada di depan meja kasir.


"Semuanya tiga ratus ribu, Bu."


Cindy mengeluarkan kartu kredit tanpa limit. "Terima kasih, sudah berbelanja di toko kami," ucap pelayan toko tersebut.


Setelah itu Cindy pulang ke rumahnya. "Mbak Sari dimana Daisy?" Tanya Cindy yang baru sampai di rumah.


"Sama mbok Nah, Bu saya titipkan tadi saya sakit perut."


Lalu Cindy menuju ke kamarnya. Ia membersihkan diri dengan mandi memakai air hangat. "Rasanya badanku pegal semua."


Setengah jam kemudian ia menghentikan aktivitas mandinya. Cindy terkejut ketika suaminya berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Aku sedang menunggumu. Kenapa kamu kunci kamar mandinya? Padahal aku ingin menyusulmu ke dalam," goda Devon. Dia menarik pinggang istrinya. Lalu matanya turun ke bawah tepat di bagian dada istrinya.


Milik Devon mengeras. "Ah kamu membangkitkan gairahku." Ia mendorong istrinya hingga punggung Cindy membentur dinding.


"Mau apa Mas?" Tanya Cindy gugup.


"Mau makan kamu." Devon ******* bibir Cindy dengan rakus. Tangannya meraba ke bagian da da Cindy yang tak tertutup bra karena ia masih menggunakan handuk kimono.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu di saat hasrat keduanya sedang menggebu. Devon menjambak rambutnya karena frustasi. Sedangkan Cindy merapikan handuk yang ia pakai.


"Ada apa mbak?" Tanya Cindy pada Sari.


"Ini Bu, baby Daisy sepertinya lapar. Stok ASI sudah habis Bu," lapor Sari.


"Oh baiklah bawa dia ke atas. Aku akan ganti baju dulu." Sari mengangguk paham.

__ADS_1


"Kenapa aku harus terus berpuasa sayang. Tidak bisakah kita melakukannya. Nasibku sungguh sial, aku seorang jablay."


Cindy terkekeh mendengar omongan absurb suaminya. "Memang begitu mas kalau sudah punya anak. Perhatian kita akan terbagi."


Tak lama kemudian Sari membawa baby Daisy ke kamar Cindy. "Baby Daisy aku kalah darimu. Kenapa kamu tidak mau berbagi dengan papa. Sayang katakan padanya agar minum su*su botol saja." Rengeknya pada Cindy.


Cindy geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol suaminya. "Kamu ngomong apa sih Mas. Kan sudah seharusnya anakku mendapatkan ASI hingga usianya dua tahun."


"Apa? Aku harus puasa selama dua tahun?" Devon melotot tidak percaya.


"Jangan berlebihan deh." Cindy memilih pergi daripada harus menanggapi omongan tak bermutu dari suaminya. Namun, Devon malah mengekor.


"Kamu ini kenapa sih Mas." Cindy merasa tidak nyaman dengan sikap suaminya.


"Aku hanya ingin lihat kamu saja," jawabnya.


"Alasan," Cindy mencebik kesal.


"Oh ya Mas. Aku mau cerita."


"Apa?"


"Tommy menemukan bayi."


"Apa?" Devon sangat terkejut. "Bagaimana ceritanya?" Devon bersiap mendengarkan cerita istrinya.


"Jadi alasan Irene berhenti kerja karena ia ingin merawat bayi yang ditemukan oleh Tommy."


"Kenapa tidak melapor ke polisi?"


"Sudah, polisi yang menyuruh Tommy membawa pulang anak itu."


"Bagaimana reaksi keluarganya?"


"Beruntung mertua Irene setuju kalau Irene merawat anak itu sampai orang tuanya ditemukan."


"Loh memangnya bayi itu akan dikembalikan pada orang tua yang telah membuangnya?"


"Entahlah. Aku juga berpikiran sama denganmu waktu itu. Tapi Irene dan suaminya juga belum bisa mengadopsi anak itu jika tidak ada izin dari orang tuanya."


"Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu. Setelah mereka mengalami musibah, Tuhan memberikan solusi atas segela yang telah mereka lalui."


...♥️♥️♥️...

__ADS_1


Othor ucapkan terima kasih pada pembaca setia othor yang telah mengikuti cerita ini dari episode pertama. Othor harap para pembaca menikmati cerita ini meski karya othor bukanlah apa-apa.


jangan lupa klik favorit dan like sertakan komen juga ya othor tunggu 🙏


__ADS_2