Click Your Heart

Click Your Heart
Part 70


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Lisa di mall kemaren, Cindy menaruh curiga pada Lisa. Tapi ia tidak bisa menuduhnya sembarangan sebelum menyertakan bukti yang kuat.


Cindy pun mencari tahu keseharian Lisa. Cindy membayar seseorang untuk mengikuti Lisa dan menyelidiki apakah benar Lisa diam-diam menjalin kasih dengan suaminya.


Cindy meminta Irene ke rumahnya usai pulang kerja. "Ren, aku punya tugas buat kamu." Tidak ada pilihan selain menunjuk Irene untuk menyelidiki siapa sebenarnya Lisa.


"Apaan mam?" Irene masih memanggil Cindy sebutan mami karena kebiasaannya ketika bekerja dengan Cindy dulu.


"Suamiku berselingkuh aku ingin tahu wanita mana yang menjadi pelakor," ungkap Cindy. Irene tidak percaya dengan omongan Cindy. "Masak sih mam, apa benar pak bos selingkuh? Setahuku dia cinta mati sama mami," kata Irene.


"Entahlah manusia memang susah ditebak, aku juga tidak menuduh jika tidak ada bukti, aku menemukan bekas bibir di kemeja suamiku," ucap Cindy dengan wajah sendu.


Irene memegang dadanya. "Padahal aku ngefans sama pak bos, tapi tega-teganya dia menyelingkuhi kamu mam."


"Aku minta kamu selidiki wanita bernama Lisa," Cindy menujukkan foto Lisa pada Irene.


"Cantik sih, sayang pelakor," cibir Irene. "Tenang aja mam, aku akan bekerja sesuai perintah mami."


Keesokan harinya Irene yang sedang mengelap pintu kaca melihat Lisa sedang berjalan memasuki lobi hotel tersebut. Irene mengulas senyum. "Pucuk dicinta ulampun tiba," gumam Irene.


Irene yang baru saja mendapatkan perintah dari Cindy itu tentu merasa senang karena ia bisa menjumpai Lisa di tempatnya bekerja.


Irene mengikuti Lisa diam-diam. Ia berhenti di depan lift. "Lantai lima? Nggak salah lagi pasti ke ruangan pak Devon," gumam Irene.


Seperti dugaan Irene, Lisa memang ingin menemui Devon. Ia sudah siap jika Bayu melepaskan dirinya. Karena dari awal mereka sudah sepakat berpisah. Tapi entahlah bagaimana reaksi Bayu kalau tahu Lisa menjebak Devon.


"Kamu? Ada apa datang kemari? Aku sedang sibuk bekerja," kata Bayu ketika menjumpai Lisa di depan ruangan Devon.


"Aku tidak berniat menemuimu," kata Lisa. Ia berjalan melewati tunangannya. Wanita itu masuk ke ruangan Devon begitu saja.


"Mas Devon," panggil Lisa dengan suara yang dibuat-buat.


Devon memutar kursi kebesarannya. Ia terkejut saat melihat wanita lak*nat itu datang ke kantornya. "Siapa yang mengizinkanmu masuk?" Sentak Devon.

__ADS_1


Bayu ikut masuk ke ruangan Devon. "Pak, maafkan Lisa saya akan membawanya pergi," kata Bayu sambil menyeret Lisa.


"Lepaskan, Mas. Kamu tidak berhak menyeretku, karena aku akan menjadi calon istri mas Devon." Ucapan Lisa sukses membuat Bayu melotot tak percaya.


"Omong kosong," bentak Devon ketika mendengarnya. "Aku hanya punya satu istri dan wanita itu adalah Cindy," kata Devon tegas.


"Mas Devon lupa dengan kejadian malam itu?"


Bayu semakin bingung. Ia melihat ke arah Lisa dan Devon bergantian.


"Aku bahkan hamil anakmu, Mas." Lisa menujukkan surat keterangan dari dokter. Tentu saja itu surat keterangan palsu karena sebenarnya dia tidak hamil.


Bagai disambar petir di siang bolong, Bayu dan Devon sama-sama terkejut mendengarnya. Bayu tidak menyangka Lisa berselingkuh tapi ia sebenarnya tidak mempermasalahkan Lisa berselingkuh karena ia juga berniat mengakhiri pertunangannya tapi kenapa harus dengan atasannya.


Sedangkan Devon ia tak percaya hubungan satu malamnya dengan Lisa menyebabkan wanita itu hamil. Devon mengusap wajahnya dengan kasar karena fruatasi. Ia yang semula berdiri kini terduduk lemas.


"Pak, saya minta penjelasan!" Pinta Bayu.


Kini Bayu menatap Lisa dengan tatapan nyalang. Ia tahu sasarannya bukanlah Devon melainkan Tommy. Bayu seolah meminta penjelasan pada Lisa. Lisa menjadi salah tingkah. Ia memalingkan wajah agar matanya tidak bertemu dengan mata Bayu.


Bayu mengepalkan tangannya untuk menahan marah. Berani-beraninya wanita itu menjebak atasannya. Bayu tahu kalau Devon tidak akan tertarik pada wanita lain selain Cindy.


"Sebaiknya kamu keluar, bicaralah jika keadaan sudah tenang," perintah Bayu pada Lisa.


Tak mau mendapat ancaman dari Bayu, Lisa memilih mengikuti perintahnya. "Aku tahu kamu salah sasaran, aku harap kamu menghentikan permainanmu!" Kata Bayu dengan penuh penekanan.


Lisa mengulas senyum mengejek. "Maaf, aku tidak tertarik lagi pada Tommy, aku lebih menyukai Devon karena dia lebih tampan dan lebih kaya diabndingkan Tommy," kata Lisa seraya berbisik ke telinga Bayu.


Setelah itu Lisa melenggang pergi. Tanpa ia sadari Irene mendengarkan percakapan Lisa dengan Bayu dari balik tembok.


"Dasar wanita licik," gumam Irene mengumpat Lisa diam-diam.


Irene segera melaporkan apa yang ia dengar pada Cindy. Mereka pun bertemu di restoran Celine.

__ADS_1


"Jadi bagaimana Ren?" Tanya Cindy. Ia juga membawa serta Cello.


"Sebenarnya Lisa ingin menjebak Tommy tapi dia salah sasaran. Jadi aku rasa pak Devon hanya korban dalam hal ini, itu yang aku dengar ketika ia berbicara dengan pak Bayu," ungkap Irene sambil menyeruput jus yang dipesankan oleh Cindy.


Brak


"Dasar ja*lang, berani-beraninya mereka menjebak suamiku, tapi aku masih bingung apa yang akan aku lakukan pada wanita sialan itu agar tidak lagi mengganggu suamiku," gumamnya. Irene hanya bisa menggedikkan bahu.


Usai pertemuan dengan Irene sikap Cindy berubah pada Devon. Kini ia menyiapkan makanan spesial untuk makan malam suaminya.


Devon yang melewati meja makan tampak tercengang saat melihat begitu banyak makanan yang terhidang di meja itu. "Apakah akan ada pesta di rumah ini? Kenapa menyiapkan makanan banyak sekali?" Tanya Devon pada Cindy.


"Tidak Mas. Ini sebagai permintaan maafku karena aku bersikap kurang menyenangkan padamu, maaf sudah menuduhmu sembarangan," kata Cindy. Devon mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti maksud Cindy tapi ia tak ambil pusing. Yang penting istrinya sudah kembali percaya pada dirinya.


"Lupakan kejadian kemaren sayang."


"Duduklah aku akan mengambilkan makanan untukmu," kata Cindy.


Devin menarik tangan Cindy pelan. "Aku tidak ingin makan ini semua."


"Apa makanannya tidak sesusai dengan seleramu? Akan aku masakkan lagi." Cindy hendak melangkahkan kakinya taoi Devon mencegahnya.


Laki-laki itu mendekat ke telinga Cindy. "Aku ingin memakanmu," ucapnya dengan berbisik. Cindy meremang mendapatkan bisikan dari suaminya. Tak dapat dielakkan wanita itu juga merindukan sentuhan sang suami.


Tangan Cindy mengalung ke leher Devon. Ia mencium bibir suaminya lebih dulu. Devon mengulas senyumnya. Ia membalas ciuman Cindy. Ia tak mau privasinya diganggu. Lalu Devon mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya ke dalam kamar.


Devin menaiki tangga sambil menggendong tubuh Cindy tapi bibir mereka masih terpagut. Cindy membuka pintu dengan kamarnya. Sedangkan Devon bergantian menutup pintu kamar dengan kakinya.


Kini ia merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang dengan perlahan. Cindy berada id bawah kungkungan Devon. Nafas mereka saling memburu menandakan keinginan mereka untuk bercinta audah tidak bisa dibendung lagi.


"Aku harap kamu tidak menyentuh wanita manapun selain aku Mas," gumam Cindy dengan lirih di telinga Devon.


"Tentu saja sayangku."

__ADS_1


__ADS_2