Click Your Heart

Click Your Heart
Part 158


__ADS_3

Devon terpaksa mengantar Lisa pulang terlebih dulu. "Wanita ini merepotkan saja," gerutu Devon sambil memapah Lisa sampai masuk ke dalam mobilnya. Namun, ketika baru setengah jalan, Lisa tiba-tiba muntah dan mengenai kemeja Devon.


Devon terpaksa menepikan mobilnya. "Assial, bajuku kotor semua kan," geram Devon. Ia tak tahan dengan baunya yang menjijikkan. Oleh sebab itu, ia terpaksa melepas kemejanya.


Tapi Lisa mendadak memeluknya. "Mas apa yang sedang kau lakukan?" Devon menjadi gugup karena Lisa memeluk tubuhnya yang polos.


Devon mendorong tubuh Lisa tapi wanita itu tidak mau menyingkir. Lalu seorang polisi datang saat melihat sebuah mobil yang menepi di daerah terlarangan. Polisi tersebut makin curiga saat mobil yang ia dekati berguncang.


Tok tok tok


Devon melirik keluar. "Assial ada polisi, lepaskan aku wanita sialan. Ia mendorong Lisa lalu ia berniat memakai baju tapi tidak mungkin karena kemejanya terkena muntahan.


Devon pun dengan berat hati membuka kaca jendelanya. "Selamat malam, pak" sapa polisi tersebut. Devon hanya mengangguk.


"Kenapa anda membuka kaca jendela anda hanya separoh saja?" Tanya polisi tersebut. Ia mengintip karena curiga apalagi saat itu ia melihat Devon tak mengenakan baju.


Devon bingung harus menjawab apa? Namun, jika dia membuka lebar kaca mobilnya polisi pasti akan mengira dia sedang melakukan perbuatan mesum.


"Pak, apakah anda bisa keluar sebentar?" Pinta polisi tersebut pada Devon. Devon terpaksa keluar dengan posisi dada telan**Jang. Dia tidak punya pilihan lain.


"Apa kalian berbuat mesum?" Tanya polisi tersebut.


"Tidak pak, kemeja saya terkena muntahan wanita itu," jawab Devon membela diri.


"Wanita itu? Apa anda tidak kenal dengannya?" Tanya polisi tersebut sambil menunjuk ke arah Lisa.


"Saya kenal pak. Sebenarnya saya ingin mengantarkan dia pulang karena dia dalam keadaan mabuk," jawab Devon. Dia berharap polisi tersebut percaya.


"Jadi anda mengendarai mobil dalam keadaan mabuk?" Tanya polisi itu. Dia malah menyudutkan Devon.


"Tidak pak. Saya sadar. Hanya dia yang mabuk." Devon menunjuk wanita yang sedang tertidur itu.


"Tapi saya tidak percaya. Anda bisa ikut saya ke kantor polisi sekarang."


"Pak, salah saya apa?"


"Anda diduga mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Dan anda berhenti di jalur yang salah. Di sini ada rambu-rambu dilarang berhenti tapi anda malah melanggarnya."

__ADS_1


"Lisa benar-benar wanita pembawa sial," rutuk Devon.


Polisi tersebut menggiringnya ke kantor polisi. Devon masih dalam keadaan telanjang dada karena dia tidak mau memakai bajunya yang terkena muntahan Lisa.


"Pak, izinkan saya menghubungi keluarga saya untuk membawakan baju." Polisi tersebut mengizinkan. Lalu Devon menghubungi Bayu. Kebetulan malam ini Devon tidak mengajak Bayu ketika meeting di bar dengan kliennya.


"Ada apa Mas?" Tanya Irma.


"Pak Devon sedang dalam masalah. Dia ada di kantor polisi sekarang?" Jawab Bayu sambil mengenakan kemejanya.


"Apa? Kena kasus apa dia? CK, selalu saja merepotkan. Ini kan jamnya tidur kenapa dia tidak menghubungi istrinya saja," protes Irma.


"Sayang aku hanya pergi sebentar kamu baik-baik ya di rumah." Pesan Bayu pada istrinya.


Lalu Bayu mengeluarkan mobilnya dari garasi. Ia mulai menyalakan mesin dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar lekas sampai di kantor polisi.


Sesampainya di sana, Bayu menemui Devon. Lalu menyerahkan kemeja untuk atasannya. Devon pun memakainya. "Kamu kemana saja Kenapa lama sekali?" Protes Devon. Padahal sebisa mungkin Bayu melesat secepat kilat dari rumah ke kantor polisi.


"Jadi kapan saya boleh pulang pak?" Tanya Devon pada polisi yang bertugas.


"Saat itu saya sedang meeting dengan klien lalu melihat dia sedang mabuk pak."


"Apa anda kenal dengan wanita itu?" Devon mengangguk.


"Siapa nama wanita itu?"


"Lisa."


"Apa hubungan anda dengan nona Lisa?" Pertanyaan yang sulit dijawab oleh Devon.


"Dia mantan tunangan Bayu, asisten pribadi saya." Jawaban Devon membuat Bayu geleng-geleng kepala.


"Kenapa anda tidak mengaku mantan selingkuhan anda, Pak?" Batin Bayu mencebik kesal.


"Baiklah, kami tidak memenjarakan anda tapi kami memberikan surat peringatan kepada anda karena menghentikan mobil di area dilarang parkir serta mengemudi dalam keadaan mabuk." Keputusan polisi tersebut membuat Devon bernafas lega. Selain itu dia juga harus membayar sejumlah uang sebagai denda pelanggaran.


"Bayu antar dia pulang," perintah Devon pada asisten pribadinya.

__ADS_1


"Baik pak." Kalau saja boleh menolak pasti Bayu tidak mau mengantar Lisa ke rumahnya.


Devon berjalan dengan angkuh meninggalkan Bayu. Ia sangat kesal karena kejadian malam ini.


Sebelum sampai ke rumah dia mampir ke cuci mobil langganannya. Tapi saat itu sudah lewat jam sepuluh malam jadi dia terpaksa pulang dengan mengendarai mobilnya yang bau muntahan.


Sesampainya di rumah, Devon memanggil pak Hasan supir pribadi Cello. "Tolong bersihkan mobil saya tapi jangan sampai istri saya tahu." Perintah Devon pada Pak Hasan.


Paka Hasan hanya mengangguk patuh menaati perintah majikannya.


Devon masuk ke dalam rumah dengan perlahan agar tidak membangunkan anggota keluarganya. Kebetulan Cindy belum tidur karena usai menyusui Daisy.


"Mas, kok malam sekali pulangnya?" Tanya Cindy pada suaminya yang berjalan mengendap-endap.


Cindy mengamati baju yang dipakai Devon. Seingatnya suaminya itu memakai setelan jas dengan kemeja warna biru tapi yang dilihat sekarang kemejanya berubah warna menjadi warna toska.


"Mas Devon ganti baju ya tadi? Biasanya dari pagi sampai pulang kerja tetap pakai kemeja yang sama," tegur Cindy yang sedikit curiga.


"Ah itu..." Devon berfikir sejenak.


"Ah tadi sewaktu aku sedang meeting kemejaku tidak sengaja ketumpahan jus jadi aku pinjam kemeja Bayu," bohong Devon agar istrinya tidak bertanya lagi.


"Oh, ya sudah aku siapkan air hangat dulu ya Mas untuk mandi," kata Cindy lalu berjalan ke kamar mandi.


Ketika Devon sedang mandi, Cindy tak sengaja melihat Pak Hasan mencuci mobil suaminya. Waktu itu dia akan menutup jendela kamarnya. Matanya tak sengaja mengarah ke bawah.


"Tumben sekali mobil mas Devon dicuci jam segini," Karena merasa ada yang tidak beres Cindy pun turun ke bawah.


"Pak Hasan, apakah suami saya yang menyuruh Anda mencuci mobilnya?" Tanya Cindy yang tengah mengintrogasi sopirnya. Pak Hasan mengangguk.


"Kenapa dicuci jam segini apa tidak bisa dicuci besok pagi? Biasanya dibawa ke tempat cuci mobil langganannya?"


Tangan Pak Hasan gemetar. "Saya hanya menuruti perintah tuan Devon saja nyonya," jawabnya tak mau ambil resiko.


Saat Devon keluar dari kamar mandi, dia tak melihat Cindy di dalam kamar. Lalu dia mengintip dari arah balkon yang tidak jadi ditutup.


"Wah gawat," ucapnya ketika melihat sang istri sedang menanyai sopirnya.

__ADS_1


__ADS_2