
Cindy terkejut ketika melihat tanaman kaktus hampir membusuk. "Astaga siapa yang menyiram kaktus ini sampai becek seperti ini?" Gumamnya.
"Apa jangan-jangan ibu yang menyiramnya padahal semua pembantu di sini kan sudah aku peringatkan supaya menyiram dalam jumlah sedikit itupun 2 hari sekali."
Cindy masuk ke dalam kamarnya dengan sedikit kesal. Dia naik ke ranjang lalu menarik selimut. "Kamu kenapa sayang?" Tanya Devon.
"Aku ngantuk, Mas."
Devon mengusap-usap lengan Cindy. "Jangan bohong!" Devon menciumi bagian leher istrinya. Cindy meremang. "Jangan begini Mas," protesnya.
Lalu dia membalik badan sang istri. "Ubah posisi supaya lebih nyaman melakukannya." Devon mulai menggoda istrinya. Dia menempelkan bibirnya. Tangannya sudah meraba ke mana-mana. Cindy makin terbuai.
Devon menggigit kecil bibir istrinya agar mau membuka mulut sehingga dia bisa mengeksplor bagian dalam mulutnya. Tangan Cindy mengalung ke leher suaminya. Entah sejak kapan posisi miring itu berubah. Kini Cindy berada di bawah Kungkungan suaminya.
Devon membisikkan sesuatu y ke telinga Cindy. "Aku menginginkanmu malam ini."
Cindy tersenyum. "Lakukan!" Jawab Cindy dengan yakin.
Mereka pun mulai pergumulan itu. Malam panas yang sangat menyenangkan dan menggairahkan.
Di kamar lain, Bu Susi sedang menerima panggilan telepon dari anaknya. "Bu kapan ibu pulang? Aku tidak enak jika ibu lama-lama menetap di rumah Cindy."
"Besok ibu pulang. Lagipula ibu juga tidak bisa bersamamu. Kamu bahkan enggan mengunjungi ibu."
"Maaf Bu, tadi sore aku mau ke sana tapi malah ketiduran. Ini juga lagi bangun makanan aku langsung telepon ibu. Ibu tidak menyusahkan mereka bukan?" Tanya Alan.
"Tentu saja tidak. Ibu di sini bantu masak. Tadi ibu masakin pepes ikan mas."
"Emangnya ibu tahu pasar di sini?"
"Ibu tidak membeli ikan mas di pasar, orang mereka memelihara sendiri di kolam jadi ibu ambil satu lalu ibu masak," jawabnya tanpa merasa bersalah.
Alan mengingat-ingat kembali. Setahunya Cindy hanya memiliki kolam ikan koi. "Bu, jangan-jangan ibu masak ikan koi?"
"Koi? Apa itu? Tidak ada ikan koi adanya ikan Mas."
Bahu Alan meluruh mendengarnya. Lututnya tiba-tiba menjadi lemas. "Alamat ganti rugi," gumam Alan.
"Oh iya Lan, kemaren ibu pecahin guci di rumah Cindy pas mau jalan nggak sengaja tersenggol karena gelap. Waktu itu ibu mau nyalain lampu tapi ibu nggak bisa melihat."
Ingin sekali Alan menjerit tapi tak mungkin dia lakukan di depan ibunya. Alan menutup teleponnya sepihak.
"Uang tabungan yang aku kumpulin buat nikah bisa habis buat beli ikan koi kalau gini jadinya." Alan memukul-mukul bantal karena kesal.
Keesokan harinya, Alan mencarikan tiket kereta api hari itu juga. Dia tidak mau sang ibu semakin mengganggu keluarga Cindy.
"Lho Alan belum sampai?" Tanya Cindy ketika melihat meja Alan kosong.
__ADS_1
"Mas Alan sedang ke stasiun sebentar Bu buat beli tiket kereta katanya," jawab salah seorang karyawannya.
"Tiket kereta? Berarti buat ibunya dong," gumam Cindy.
Sesaat kemudian Alan kembali. Cindy berjalan mendekat. "Katanya kamu beli tiket kereta ya?" Tanya Cindy memastikan.
"Iya, aku mau ibu pulang hari ini juga," jawab Alan.
"Kamu sudah tanya beliau?"
Alan menggeleng. "Tapi aku akan pastikan beliau mau, aku tidak mau merepotkan kamu lagi. Oh ya aku akan mengganti ikan koi yang dimasak ibuku."
"Dari mana kamu tahu?"
"Semalam aku menelepon dia. Dia bilang telah membuatkan pepes ikan mas. Setahuku di rumah kalian tidak ada kolam ikan mas."
"Ada, tapi yang diambil ibumu kebetulan ikan koi," jawab Cindy sambil terkekeh.
"Kok malah ketawa sih? Apa kamu tidak marah? Itu kan peliharaan suamimu."
"Aku nggak marah. Mas Devon yang marah." Alan mere*mas tangannya yang dingin.
"Tapi kamu jangan khawatir. Kami bisa beli lagi kok. Kamu tidak usah menggantinya." Ada perasaan lega setelah Cindy mengatakan demikian.
*
*
*
"Bayu aku mau lihat penghasilan bulan lalu. Tolong berikan data tiga bulan terakhir." Perintah Devon pada asisten pribadinya.
"Baik, Pak." Bayu keluar untuk memberi tahu bagian keuangan. Setelah itu dia kembali ke ruangan Devon.
"Kamu tahu tidak?" Belum selesai Devon berkata Bayu lebih dulu menjawab.
"Tidak, Pak."
"Saya belum selesai bicara kamu sudah nyahut duluan," protes Devon.
"Maaf, Pak."
"Ibunya Alan kemarin memasak ikan koi saya menjadi ikan pepes bakar."
Perkataan Devon membuat Bayu menahan tawa. "Ngapain kamu ketawa? Kamu tidak tahu harga per ekornya hampir dua juta."
"Maafkan saya, Pak."
__ADS_1
"CK, kamu nggak asyik kalau diajak curhat. Mana laporannya? Saya sudah menunggu lama."
Bayu mengeluarkan ponselnya lalu dia menelpon karyawan bagian keuangan. "Bawa laporan itu kemari!" Perintah Bayu dengan tegas.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Ini laporan yang anda minta, Pak." Seorang pegawai laki-laki menyerahkan laporan penghasilan 3 bulan terakhir.
Devon tidak mengecek keseluruhan. Dia hanya membandingkan angka-angka di bulan tersebut. "Apa ini? Kenapa penghasilan tidak stabil? Kenapa tidak bisa naik dari bulan ke bulan, ini malah naik turun naik turun," omel Devon sambil melempar berkas yang ia pegang.
Pegawai laki-laki tersebut tersentak kaget. Dia bisa diam.
"Kalian harus punya inovasi. Bayu suruh bagian marketing untuk banyak promosi supaya hotel kita banyak pengunjungnya sehingga penghasilan kita dari bulan ke bulan bisa meningkat. Uang ini juga untuk mengaji kalian semua kalian."
"Baik, pak." Bayu dan pegawai keuangan tersebut keluar dari ruangan Devon.
"Gila serem banget kalau Pak Devon sedang mengamuk seperti itu," gerutu pegawai keuangan tersebut.
"Ini semua gara-gara koi yang dimasak jadi pepes bakar." Bayu tertawa terbahak-bahak setelah mengatakannya. Namun pegawai keuangan tersebut tidak mengerti maksud omongan Bayu.
*
*
*
Alan menjemput ibunya di rumah Cindy. Dia akan mengantarkan ibunya naik kereta pukul lima sore ini.
"Ibu sudah berkemas?" tanya Alan. Bu Susi mengangguk pelan. Sebenarnya dia ingin tinggal sehari lagi di rumah Cindy tapi Alan bersikeras mengantarnya pulang.
"Mari kita berpamitan dulu pada anggota keluarga Cindy."
"Nenek mau pulang ya?" tanya Daisy.
"Iya," jawabnya singkat.
"Hati-hati di jalan ya Bu." Pesan Cindy pada ibunya Alan. Lalu dia memberikan sejumlah uang kepada Bu Susi.
"Ibu tidak perlu uang ini, Nak. Seharusnya ibu yang mengganti vas bunga dan ikan koi yang ibu masak," ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa Bu. Ini saya anggap sebagai sedekah kepada orang tua karena saya tidak memiliki orang tua jadi saya anggap ibu sebagai orang tua saya."
Bu Susi terharu mendengar ucapan Cindy. "Terima kasih banyak, nak. Maafkan Ibu jika banyak berbuat salah dan merepotkan kalian." Cindy mengangguk.
Setelah itu Bu Susi dan Alan pergi menggunakan taksi. Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Devon sampai di depan rumahnya.
__ADS_1