
Brak
Seseorang menjatuhkan dokumen-dokumen penting yang ia bawa. "Kamu bisa kerja nggak sih?" Tegur salah seorang senior yang melihat berkas-berkas yang dibawanya berserakan. Pegawai magang itu berjongkok dan memunguti kertas itu satu per satu.
"Angga, mana berkas yang yang minta kamu untuk difotokopi?" Tanya atasannya.
"Ini baru akan saya fotokopi, Pak," jawabnya gugup.
"Cepat selesaikan, sebentar lagi akan ada meeting!" Sarkasnya.
"Baik, Pak."
Angga pun berjalan ke mesin fotocopy kemudian menyetel mesin tersebut. "Angga, kamu sudah selesai belum?" Angga segera mendekat dan memberikan kertas itu pada atasannya.
Lalu ia melihat dua orang sedang lewat di depannya. Ia melihat aura kepemimpinan yang kuat. "Kamu kenapa ngelihatin orang kaya gitu?" Tanya teman Angga yang sama-sama pegawai magang.
"Dia siapa?" Tanya Angga.
"Itu CEO di sini, Pak Devon dan asisten pribadinya pak Bayu. Kamu belum pernah lihat wajah mereka?" Angga menggeleng.
"Andai saja aku bernasib beruntung seperti mereka," batin Angga.
"Angga, kemari!" Salah seorang seniornya memanggil Angga. "Periksa laporan keuangan bulan lalu? Lalu laporkan jika ada penyimpangan!" Perintahnya.
"Tapi saya sudah mengeceknya dan menyerahkan hasilnya ke meja Bapak." protes Angga.
"Tapi saya tidak melihat berkas itu di meja saya pagi ini. Ulangi pekerjaan kamu!" Bentaknya.
Sebagai pegawai magang, dia hanya bisa pasrah dengan perlakuan seniornya. Berharap tidak ada masalah dalam penilaiannya. Dengan langkah gontai Angga kembali ke mejanya dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh atasannya.
"Ah, melelahkan sekali," keluh Angga yang sejak pagi berada di depan komputer tanpa beranjak sedikitpun.
"Ayo kita makan siang!" Ajak temannya. Saat Angga akan mengikuti temannya, teleponnya berbunyi. Atasannya meminta berkas yang telah diperiksa diserahkan ke mejanya.
"Nasib, nasib." Gerutu Angga sambil menyambar berkas yang diminta lalu ia menuju ke ruangan atasannya.
Ia meletakkan lampiran itu di meja. "Tunggu sebentar biar saya periksa." Angga pun menurut.
Brak
"Apa ini? Kamu ingin membuat kita rugi ya?" Tuduhnya pada Angga. Pemuda itu tersentak kaget.
"Perbaiki laporannya, jangan pulang sebelum kamu tahu diana letak kesalahanmu."
Angga menarik nafasnya berat. "Dapat atasan gini amat," lagi-lagi ia mengeluh.
"Sabar, bro. Kita hanya magang di sini jadi ikuti saja perintah atasan." Teman Angga memberi saran.
Hampir setiap hari ia lembur hanya untuk mengerjakan pekerjaan tambahan dari atasannya.
__ADS_1
Suatu hari ia mendapat telepon dari keluarganya. "Nak, bisakah kamu kirim uang ke kami?" Tanya orang tua Angga melalui sambungan telepon.
"Ada apa, Bu?" Tanya Angga.
"Ayahmu mengalami komplikasi jadi kamu membutuhkan banyak uang untuk biaya perawatannya di rumah sakit."
"Butuh biaya berapa?"
"Lima belas juta," jawab sang ibu.
Angga meraup wajahnya kasar. "Baik, Bu. Akan segera aku kirimkan." Setelah itu ia menutup sambungan teleponnya.
Keesokan harinya Angga menyempatkan diri untuk menghadap kepala bagian keuangan agar dia bisa meminjam uang.
"Kamu ini hanya pegawai magang mana bisa meminjam uang dari perusahaan," tolaknya. Angga sangat kecewa karena ia tak bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan ayahnya.
Ia pun merasa stress. Dia tak tahu kemana ia harus mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam. Saat ini hanya tinggal dia yang ada di ruangan itu sedangkan yang lain sudah pulang.
Lalu ia keluar sebentar untuk membeli camilan dan minuman kaleng untuk menamainya lembur malam ini seperti biasa. Tapi kali ini Angga membeli minuman beralkohol yang banyak dijual di minimarket.
Cetak cesss...
Angga membuka kaleng minuman itu dan meneguknya perlahan sambil memeriksa laporan di layar komputernya.
Tap
Buul
Api seketika menyala lumayan besar saat lilin tersebut jatuh bersamaan dengan kaleng minuman beralkohol. Angga panik tapi ia langsung mencari APAR. Sayangnya api semakin membesar ketika membakar kertas-kertas yang ada di ruangan itu.
Asap mengepul dari ruangan itu cukup pekat sehingga membuat Angga kesulitan bernafas. Namun, alarm kebakaran gedung yang berbunyi membuat semua orang panik.
Kebakaran yang melanda gedung kantor Devon membuat sebagian ruangannya terbakar habis. Api di kantor yang masih satu gedung dengan tempat penginapan itu semakin menyebar.
Pemadam kebakaran yang baru datang mencoba melakukan yang terbaik agar api segara dipadamkan.
*
*
*
"Mas baru sampai?" Cindy menyambut suaminya yang baru tiba di rumah.
"Hari ini banyak pekerjaan sehingga aku merasa lelah," keluhnya.
"Sekali-kali agendakan liburan ke luar kota bersama anak-anak." Cindy memberikan saran pada suaminya.
"Aku rasa idemu itu tidak buruk, sayang" puji Devon pada Cindy.
__ADS_1
"Apa anak-anak sudah tidur?" Tanya Devon. Cindy menganggukkan kepalanya.
Lalu Devon memeluk istrinya dai belakang lalu menciumi leher bagian belakangnya. "Kamu wangi," pujinya dengan suara setengah berbisik di telinga sang istri. Ia lanjut mencium bagian bahu Cindy yang terbuka.
"Dasar mesum," umpat Cindy.
"Apa tidak boleh dengan istri sendiri?" Godanya.
Drrt drrtt drrtt
"Haish mengganggu saja," gerutu Devon ketika kesenangannya sedang diganggu.
Lalu ia mengambil ponselnya. "Ya ada apa?" Tanya Devon sedikit kesal.
"Pak, hotel kebakaran," lapor salah seorang anak buah Devon yang bekerja di sana.
"Apa? Bagaimana bisa terjadi?" Devon menjambak rambutnya kasar. Cindy jadi curiga ketika wajah suaminya berubah frustasi.
"Ada apa, Mas? Apa ada sesuatu yang terjadi saat kamu meninggalkan kantor?" Tanya Cindy pada suaminya. Ia tak ingin suaminya menanggung beban hidup seorang diri.
"Maafkan aku, sayang. Aku harus pergi, hotel mengalami kebakaran."
Cindy kaget mendengar penuturan suaminya. "Mas hati-hati," pesan Cindy pada suaminya. Devon mengangguk patuh.
Laki-laki itu menyambar jaket dan kunci mobilnya. Ia segera melesat dengan kecepatan tinggi.
Tak lama kemudian Ruby bangun. "Nungguin papa pulang ya Ma?" Tanyanya saat melihat Cindy masih berada di ruang tamu.
"Tadi dia sudah pulang tapi dia harus kembali saat seseorang menelepon dirinya. Sepertinya urusan penting." Cindy asal jawab agar anaknya tak khawatir.
Lalu Devon menepikan mobilnya di depan area parkir. Keadaan di sana sungguh kacau saat dia tak ada.
"Bagaimana bisa ini terjadi padahal sudah memutuskan?" Tanya Devon mengintrogasi anak buahnya.
"Kami belum tahu pasti penyebabnya pak, masih dalam tahap penyelidikan polisi. Nanti akan dijelaskan setelah hasilnya keluar." Devon kecewa mendengar jawaban tersebut.
Api berkobar dan semakin membesar. "Apa ada korban jiwa?" Dokter itu sungguh peduli.
Lalu Devon menelepon Bayu. "Bay, ke hotel sekarang! Hotel kebakaran."
*
*
*
Di rumah Bayu
"Mas mau kemana?" Tanya sang istri pada Bayu ketika melihat suaminya menyambar jaket malam-malam begini.
__ADS_1