
Bayu sampai di depan rumah Devon. Devon dan istrinya keluar setelah mendengar mobil yang sedang berhenti di depan rumahnya.
Bayu membantu Ruby keluar. "Apa dia pingsan?" Tanya Devon yang khawatir.
"Tidak pak dia sedang mabuk," jawab Bayu.
Devon membelalakkan matanya. Cindy pun tak percaya kalau Ruby bisa pergi ke diskotik.
"Bawa dia masuk!" Perintah Devon dengan nada bicara yang dingin.
Cindy mengikuti dari belakang. Bayu memapah Ruby hingga ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar Ruby memuntahkan isi perutnya. Cindy segera memanggil asisten rumah tangga untuk membersihkan lantai yang terkena muntahan Ruby.
"Mbak tolong ambilkan saya air hangat juga, saya mau bersihkan badannya." Perintah Cindy pada asisten rumah tangga di rumah itu.
Lalu dengan perlahan Cindy membuka baju Ruby dan menggantikannya dengan yang bersih. Ia juga mengelap badan Ruby yang kotor.
"Aku tidak menyangka kamu senekat ini, aku jadi mengerti kenapa ibuku khawatir jika kamu ditinggal sendirian di rumah," gumam Cindy.
Ruby tampaknya tidak mendengar omongan Cindy. Gadis itu tertidur karena pengaruh alkohol.
Seusai membersihkan badan Ruby, Cindy kembali ke kamarnya. "Bagaimana keadaan Ruby, sayang?" Tanya Devon pada istrinya.
"Dia tidur, sebaiknya kita istirahat." Cindy mengajak suaminya masuk ke dalam kamar.
Keesokan harinya Ruby terbangun ketika sinar matahari masuk melalui sela-sela jendelanya. Ia menutup mukanya dengan telapak tangan yang dibalik.
Saat ia akan bangun, Ruby merasakan kepalanya sedikit pusing. Ia memegang kepalanya sambil berdiri. Tak lama kemudian ia jatuh. Cindy yang baru masuk ke dalam kamar berjongkok lalu membantunya bangun.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Cindy.
"Tidak," jawab Ruby.
"Aku ambilkan teh panas ya supaya kamu baikan," Cindy pun keluar dari kamar.
Tak lama kemudian Cindy membawa secangkir teh untuk diberikan pada Ruby. "Ini minumlah!" kata Cindy.
__ADS_1
Ruby menurut perkataan Cindy. Setelah itu ia merasa baikan. "Siapa yang mengantarku pulang semalam?" Tanya Ruby.
"Anak buah Pak Bayu menemukanmu di depan diskotik, lalu Pak Bayu menjemputmu dan membawamu pulang," terang Cindy.
"Maafkan aku," kata Ruby. Ia tiba-tiba menangis. Ia ingat perkataan temannya semalam jika niat ibunya adalah untuk menghancurkan rumah tangga Cindy dan Devon.
"Yang penting setelah ini kau tidak mengulangi lagi," perintah Cindy.
"Aku berjanji akan menjadi anak yang baik dan tidak merepotkan keluarga kalian lagi," kata Ruby diiringi air mata yang menetes di pipinya
Setelah itu Devon masuk ke dalam kamar Ruby. "Ruby om minta penjelasan dari kamu!" Perintah Devon dengan nada suara yang terdengar dingin.
"Maafkan aku om, aku sudah membuat kesalahan," kata Ruby.
"Om kecewa sama kamu karena kamu sudah membuat ulah selama tinggal di sini, apa om harus meminta ibumu pulang sekarang agar kau bisa pulang bersamanya?" Gertak Devon.
"Ya om aku pantas dimarahi, om bisa hukum aku apa saja," jawab Ruby dengan pasrah.
"Lupakan! Yang penting kamu mau berjanji pada kami agar tidak mengulangi perbuatanmu yang kemaren," tegas Devon.
"Baik om, aku sangat berterima kasih om mau memaafkan aku," kata Ruby sambil menunduk.
Cindy mengantarkan suaminya sampai keluar. "Terima kasih mas sudah memaafkan Ruby," kata Cindy.
"Iya, aku berangkat sekarang ya," kata Devon berpamitan sekali lagi pada istrinya lalu ia mengecup kening istrinya. Setelah itu ia benar-benar pergi.
Cindy masuk ke dalam rumah. Ia melihat Ruby turun. "Ruby ayo sarapan dulu," ajak Cindy. Ruby mengangguk.
"Apa kepalamu sudah baikan?" Tanya Cindy penuh perhatian.
"Sudah lebih baik tante," jawab Ruby dengan sopan. Kini ia akan mulai menghormati Cindy. Lagipula taka ada salahnya jika menghargai pemilik rumah. Toh dia yang menumpang jadi sudah seharusnya dia bersikap sopan pada pemilik rumah.
"Tante ambilkan kamu sarapan ya." Ruby mengangguk tak enak.
"Terima kasih tante," ia menerima piring yang lengkap dengan nasi dan lauk-pauknya.
__ADS_1
Cindy meninggalkan Ruby sendirian di meja makan karena ia ingin melihat anaknya yang sedang tertidur di box bayi. Tiba-tiba Ruby berada di belakang Cindy.
"Eh kamu mengagetkan tante saja." Cindy berkata sambil tersenyum.
"Namanya siapa tante? Maaf seharusnya aku berkenalan ketika baru tiba di sini," kata Ruby sedikit menyesal.
"Kamu bisa panggil dia Cello," jawab Cindy.
"Nama yang bagus, bolehkah aku menganggapnya adik, bukan bermaksud apa-apa tante, aku ini anak tunggal jadi tidak memiliki saudara," terang Ruby memberi alasannya.
"Tentu saja boleh," jawab Cindy antusias. Ini akan jadi awal yang bagus untuk merebut hati Ruby seperti yang dikatakan Celine.
"Terima kasih tante," kata Ruby yang merasa senang. Ini kebahagiaan tersendiri baginya karena memiliki tambahan keluarga.
Setelah memperhatikan wajah Cello Ruby sedikit gemas hingga ia ingin menggendongnya. "Apakah tidurnya akan lama seperti itu?" Tanya Ruby.
"Bayi seusianya memang selalu tidur," jawab Cindy.
"Sambil menunggu dia bangun bagaimana kalau kamu bantu tante membuat kue, keponakan tante janji mau datang kemari." Ruby menerima ajakan Cindy.
"Kamu pakai celemek ini dulu ya!" Kata Cindy memberikan sebuah celemek padanya.
Ruby menerimanya, seumur hidupnya ia baru pertama kali menginjakkan kaki di dapur. Dulu sebelum Siska mendapat warisan peninggalan almarhum suaminya, Ruby dan ibunya hidup berdua di sebuah rumah kecil. Namun, ibunya tak pernah menyuruh Ruby membiarkan mengerjakan pekerjaan rumah. Ia memperlakukan Ruby layaknya putri meskipun mereka hidup sederhana.
Setelah ayah mertua Siska mewariskan semua kekayaan pada putri Fathan, nama ayah Ruby, Siska semakin memanjakan Ruby. Ia menjadi anak yang suka memerintah seenaknya pada asisten rumah tangganya jika berada di rumah.
Namun, berbeda kali ini dia mau diajak untuk membantu Cindy menyiapkan kue untuk keponakan Cindy yang akan datang.
"Harus kuapakan semua bahan-bahan ini Tante?" tanya Ruby yang bingung bagaimana cara memulainya.
"Kamu bantu memecahkan telur saja, pisahkan kuning dan putihnya ya," perintah Cindy pada Ruby.
"Baik tante," Ruby tak tahu cara memecahkan telur yang baik. Ia memukul telur itu sampai mengenai wajahnya. Ruby kaget saat mencium bau amis daro telur yang ia pecahkan. Cindy tertawa dibuatnya.
Lalu ia memberikan contoh cara memecahkan telur yang benar. Ruby mengikutinya. "Aku bisa tante," teriak Ruby kegirangan.
__ADS_1
Cindy senang bisa mengajari sesuatu yang bermanfaat. Tak lama kemudian suara bel rumah berbunyi. "Kamu teruskna sampai telur yang dimeja habis ya, tante akan lihat siapa yang datang," perintah Cindy.
Cindy keluar setelah mencuci tangannya. Ia membuka pintu rumahnya dengan perlahan. "Eh kalian kok jam segini sudah pulang?" Kata Cindy pada dua pemuda yang masih memakai seragam sekolah.