Click Your Heart

Click Your Heart
Part 76


__ADS_3

Irma sengaja tinggal jauh dari lingkungannya yang dulu. Selain menjauhi orang-orang yang mengenalnya, dia juga menyembunyikan kehamilannya. Dia juga tidak mau lagi berurusan dengan mucikari yang menaunginya selama ini.


Pagi itu Irma keluar untuk berbelanja di pasar. Ia hampir saja tertabrak mobil yang lewat. Beruntung mobil itu mengerem tepat waktu hingga nyawa Irma pun selamat.


"Kamu tidak apa-apa?" Seorang laki-laki berjongkok hendak membantu wanita yang terjatuh itu.


Irma mendongak. Bayu terkejut ketika melihat wanita yang hampir di tabraknya itu adalah wanita yang selama ini dia cari.


Irma mencoba bangun tapi ia merasakan sakit di bagian perutnya. Tanpa aba-aba Bayu segera menggendongnya dan memasukkan Irma ke dalam mobil.


Bayu sangat panik. Ia tidak tahu kenapa perut Irma sakit padahal tidak ada yang luka sedikitpun.


"Tahanlah sebentar aku akan membawamu ke rumah sakit," kata Bayu sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Itma masih meringis kesakitan. Tanpa sadar darah keluar dari sela pahanya.


Tak lama kemudian Bayu mengentikan mobilnya di depan ruang UGD sebuah rumah sakit yang tak jauh dari situ.


Bayu kaget ketika melihat darah yang keluar dari paha Irma. "Tolong dia!" Teriak Bayu pada perawat di rumah sakit itu.


Bayu terlihat panik apalagi dia mengingat kalau Irma seperti orang pendarahan. Tunggu, pendarahan? Wanita itu sedang hamil, pikirnya.


"Tuan silakan urus bagian administrasi nya dulu!" Perintah salah seorang perawat.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya dokter yang baru keluar.


"Anda siapanya?" Tanya dokter itu.


"Saya suaminya," jawab Bayu tanpa berpikir panjang.


"Untung anda segera membawanya ke sini kalau tidak nyawa bayi yang ada di dalam kandungan istri anda tidak terselamatkan."


Deg


"Benar dugaanku," batin Bayu.


"Saya belum tahu kalau istri saya hamil dok," akunya.


"Usia kandungannya sekitar dua belas minggu pak, masih rentan jadi saya harap lain kali anda bisa menjaga istri anda dengan baik." Bayu mengangguk lemah.


"Apa dia sudah menikah dengan laki-laki lain," batin Bayu. Hatinya terasa berdenyut sakit membayangkan Irma telah menikah dengan orang lain. Padahal Bayu sudah lama mencari keberadaan wanita itu.

__ADS_1


...***...


Devon menunggu kedatangan Bayu tapi sepertinya tidak ada tanda-tandanya. Lalu ia menghubungi asisten pribadinya itu melalui sambungan telepon.


"Kamu di mana?" Tanya Devon.


"Maaf, pak. Saya cuti sehari ada yang harus saya urus," kata Bayu melalui sambungan telepon.


"Tidak biasanya kamu mengajukan cuti. Baiklah, segera kembali aku membutuhkan diri mu," kata Devon.


...***...


Bayu kembali fokus pada Irma. Sudah setengah hari ia berada di rumah sakit. Irma akhirnya sadar. Bayu memanggil dokter agar ia segera diperiksa.


"Anda beruntung sekali suami anda begitu perhatian," kata seorang perawat.


Irma mengerutkan keningnya. Dia belum menikah bagaimana bisa ada laki-laki yang mengaku suaminya. Lalu ia memutar ingatannya kembali. "Mana mungkin dia," lirih Irma.


Setelah dokter keluar, Bayu masuk. Irma sangat terkejut. Kini Irma sangat gugup. Ia tak tahu bagaimana menghadapi Bayu.


Irma memegang perutnya. Pergerakan itu tidak lolos dari pandangan Bayu. "Anakmu baik-baik saja," kata Bayu dengan suara yang lembut.


Ia mendekat ke arah Irma. Irma rasanya ingin lari tapi tubuhnya begitu lemas. "Jangan bangun dulu, kamu perlu istirahat."


"Apa kau sudah menikah?" Tanya Bayu to the point.


"Bukan urusan anda," jawab Irma lalu ia memalingkan wajahnya agar tidak ketahuan berbohong.


"Jadi kau belum menikah?" Bayu mengambil kesimpulan karena ia tak melihat cincin tersemat di jari Irma.


"Apa pedulimu?"


"Aku peduli karena kau telah menyita pikiranku," jawab Bayu dengan jujur. Ia ingin Irma tahu kalau dia mencarinya selama ini.


Jantung Irma berdegub kencang. Belum pernah ada laki-laki yang menyatakan perasaannya pada Irma.


Bayu memegang dagu Irma agar wanita itu menoleh padanya. "Anak siapa itu?" Tanya Bayu sambil menatap ke dalam mata Irma.


Irma hanya terdiam. Irma tidak bisa bilang kalau itu anak Bayu karena dia tidak yakin. Sedangkan waktu itu dia berhubungan dengan banyak pria.


"Aku akan senang jika kamu mengatakan itu anakku meskipun kamu berbohong," Irma terkejut dengan penuturan Bayu.

__ADS_1


"Aku tidak yakin dia anakmu," akhirnya Irma bersuara. Ia menangis di hadapan Bayu.


"Usianya tiga bulan, bukankah tiga bulan yang lalu kita berhubungan?" Tanya Bayu.


"Tapi aku juga berhubungan dengan laki-laki lain. "Mana mungkin aku bisa meminta pertanggungjawaban dari mu," Irma semakin menunduk.


Bayu mengangkat dagu Irma. "Aku mencintaimu, aku tidak tahu kenapa aku mencintaimu tapi itulah yang ku rasakan sekarang," Bayu mencoba memberi pengertian pada Irma. Hati Irma tersentuh mendengar pengakuan Bayu.


"Aku bukan wanita baik-baik kenapa kau malah tertarik padaku, bukankah kau sudah punya tunangan?"


Bayu menghela nafanya dalam. "Kami sudah putus, lagi pula aku tidak mau menjadikan wanita licik itu sebagai istriku." Bayu mengingat kelicikan Lisa yang menjebak Devon sehingga pernikahannya hampir saja berantakan.


"Ikutlah pulang bersamaku, aku akan menjagamu dan anak yang berada di dalam kandunganmu," bujuk Bayu.


Irma berpikir sejenak. Ia bingung, akankah ia harus menerima tawaran Bayu. Tapi kalau ia tidak menerimanya hidupnya akan sengsara karena tabungannya semakin menipis. Dia belum mendapatkan pekerjaan setelah wanita itu berhenti dari pekerjaannya.


Irma memejamkan mata sejenak. "Baiklah aku putuskan ikut denganmu. Tapi aku mohon jangan sakiti aku dan anakku."


"Tidak akan, aku akan menjadikan ratu dalam hidupku karena aku akan menikahimu." Sontak Irma makin tidak percaya dengan omongan Bayu.


"Tidak, aku tidak pantas untukmu," tolak Irma. Ia hanya tidak mau Bayi mendapatkan hinaan ketika orang tahu akan pekerjaannya dulu.


"Aku tidak peduli dengan penilaian orang terhadapmu, yang jelas aku sudah jatuh cinta padamu, aku tidak mau kehilanganmu lagi."


Bayu membuktikannya dengan menempelkan bibirnya ke bibir Irma sekilas. Irma hanya diam mendapatkan perlakuan manis Bayu.


Seketika air mata harunya lolos begitu saja. "Jangan menangis," kata Bayu sambil mengusap air mata di pipi Irma.


"Aku tidak bersedih melainkan terharu karena belum pernah ada laki-laki yang mencintaiku dengan tulus," akunya.


Bayu mengulas senyumnya. Ia memegang tangan Irma dan sesekali menciumnya yang mengisyaratkan betapa cintanya dia pada wanita yang tengah hamil itu.


Setelah sehari menginap, Irma diperbolehkan pulang. Bayu langsung membawa Irma ke apartemen miliknya.


"Beristirahatlah, sementara kita tinggal di sini. Aku akan mengurus semua keperluan yang menyangkut persiapan pernikahan kita," kata Bayu sebelum pergi.


Ia meninggalkan Irma di apartemen sendirian. Devon telah menunggunya di kantor. Bayu hanya izin sehari, dia tidak mau membuat atasannya itu marah.


Saat Irma baru duduk ia mendengar suara bel di depan unit apartemen Bayu ditekan. Irma lalu membukakan pintu.


"Cari siapa?"

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


Kira-kira siapa yang datang ya?


__ADS_2