
Hari ini Cindy mencoba berbesar hati untuk menerima kehadiran Ruby di rumahnya. Meski ada rasa sesak dalam hatinya ketika suaminya menerima permintaan mantan kekasihnya untuk menjaga anaknya. Wanita mana yang tidak cemburu akan hal itu. Akankah Devon lebih mementingkan Ruby dibanding dirinya?
Cindy tidak mungkin terus bersembunyi di dalam kamar. Ia putuskan untuk keluar setelah membersihkan diri dan memandikan anaknya. Lalu ia menitipkan Cello pada mbak Sari.
Sarapan sudah disiapkan oleh asisten rumah tangganya. Ia keluar dari kamar anaknya lalu bergabung di meja makan.
"Sayang, aku senang kamu mau sarapan bareng kami," kata Devon pada istrinya. Cindy hanya tersenyum menjawab omongan suaminya.
Ia melirik ke arah Ruby, "Gadis kurang ajar itu tidak tahu sopan santun ya," batin Cindy.
"Om aku berangkat sekarang ya," pamit Ruby. Tapi dia keluar begitu saja tanpa mencium tangan pada Devon maupun Cindy.
"Mau berangkat bareng om?" Devon menawarkan tumpangan. Ruby melirik ke arah Cindy. "Oke om aku nggak keberatan," jawab Ruby sambil tersenyum sinis.
"Sayang, kami berangkat dulu ya," pamit Devon lalu mengulurkan tangannya agar Cindy mencium tangannya itu. Cindy mengangguk. "Hati-hati di jalan ya Mas," pesan Cindy pada suaminya.
Cindy memegang sendoknya dengan erat. "Sabar, Cin, kamu nggak boleh marah, dia hanya anak kecil," Cindy bermonolog lalu menghembuskan nafas agar emosinya mereda.
Devon membukakan pintu mobil untuk Ruby. "Om tidak tahu dimana kamu bersekolah, jadi beri tahu om dimana alamatnya," kata Devon pada Ruby. Ruby mengangguk.
Sepanjang jalan Ruby hanya diam dan melihat ke arah jendela. "Ruby, om boleh minta tolong sama kamu," kata Devon.
Ruby menoleh. "Apa itu om?" Tanya Ruby.
"Bersiap baiklah pada istri om, kamu juga harus menghormati dia seperti kamu menghormati om, oke?" Pinta Devon.
Ruby berfikir sejenak. "Iya, om," jawabnya setuju.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit dari rumah Devon, mereka sampai di depan sekolah Ruby.
"Terima kasih om sudah mengantar saya," kata Ruby.
"Ini uang untuk kamu naik taksi jika pulang sekolah nanti." Devon memberikan dua lembar uang merah pada Ruby.
__ADS_1
"Nggak usah om, aku masih ada kok," tolak Ruby yang merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa ambil saja!" Perintahnya. Ruby pun mengambil uang yang diberikan oleh laki-laki yang masih duduk di depan kendali setir itu.
"Makasih banyak om," kata Ruby. Devon kemudian melajukan mobilnya menuju ke kantor.
Sesampainya di sekolah seorang siswi yang tak lain teman satu kelas Ruby mengejek Ruby yang baru datang. "Gila si Ruby, sukanya sama om-om," cibir siswi tersebut.
Ruby mendekat ke arah sisiwi tersebut. "Ngomong apa lo?" Ruby mencengkeram kerah siswi yang meledeknya.
"Lepasin, atau gue teriak," ancam siswi tersebut.
"Dasar tukang ngadu lo, kalau nggak tahu jangan suka mencibir orang lain," Ruby merasa geram. Ia melepas cengkeraman tangannya.
Lalu ia melenggang ke dalam kelas. Ruby memang bukan gadis yang gampang ditindas, tapi gara-gara sikapnya yang dingin dan arogan itu, banyak temannya yang enggan berteman dengan Ruby.
...***...
Ketika bel istirahat, seorang siswi dari kelas lain menyambangi Ruby ke kelasnya. Siswi tersebut mengklaim bahwa Ruby telah mendekati pacarnya.
Ruby memang gadis yang cantik. Ia termasuk most wanted di sekolahnya. Siswi itu merasa tidak terima dengan omongan Ruby lalu ia pun menjambak rambut Ruby. Ruby membalasnya. Ia menjambak rambut anak itu sampai ia mendongak ke atas. Teman-temannya tidak ada yang melerai justru mereka malah mengadu dua gadis yang saling bertengkar itu.
Karena Ruby membuat ulah di sekolahannya, Devon diminta oleh pihak sekolah untuk datang ke sekolah Ruby. Sebenarnya yang diminta datang adalah orang tua Ruby tapi Siska sedang berada di luar negeri maka dialah yang menggantikan Siska datang ke sekolah.
"Permisi pak, saya wali Ruby," kata Devon.
"Baik, silakan duduk pak."
"Begini pak, Ruby bertengkar dengan temannya, mereka saling jambak-menjambak. Untuk itu kami mohon maaf untuk menskors Ruby selama dua hari," putus kepala sekolahnya.
Devon sedikit kecewa dengan Ruby baru sehari bersamanya sudah direpotkan seperti ini. "Ayo kita pulang," ajak Devon. Ruby hanya menunduk. Ia tak bersuara sama sekali.
Cindy mengerutkan keningnya saat melihat mobil suaminya berada di depan rumah. "Mas kok sudah pulang?" Tanya Cindy.
__ADS_1
"Aku hanya mengantarkan Ruby pulang," jawab Devon.
Cindy melihat ke arah Ruby dengan baju yang berantakan dan rambut acak-acakan. "Kamu kenapa jadi seperti ini?" Tanya Cindy yang cemas.
"Nggak usah sok perhatian, Tante," ucap Ruby sambil berlalu memasuki kamarnya.
Cindy tak percaya Ruby berani melawannya di depan Devon. "Sayang, bersabarlah menghadapi Ruby, dia memang anaknya rada keras kepala," Devon memberi pengertian pada istrinya.
"Iya mas akan aku coba, semoga amarahku ini tidak meledak," cibir Cindy.
Devon hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia berharap Cindy dapat akur dengan Ruby selama gadis itu tinggal di rumahnya.
"Baiklah, aku akan kembali ke kantor mungkin hari ini aku akan lembur karena ada waktu yang terbuang ketika aku berada di sekolah Ruby tadi," terang Devon.
"Mas, apa aku boleh minta nomor mbak Celine? Aku rasa aku belajar darinya menghadapi anak seusia Ruby, bukankah Ruby sepantaran dengan keponakanmu?" Usul Cindy.
"Ya kau benar, aku akan menghubungi Celine dan memintanya datang kemari," kata Devon.
"Tidak, aku ingin keluar, aku saja yang main ke sana, lagipula kau akan lembur kan?" Tanya Cindy.
"Aku hanya pergi sebentar, Ruby pasti aman di rumah bersama mbak Sari," kata Cindy agar Devon tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Ruby.
"Ya baiklah, aku akan menghubungi Celine kalau kau akan mampir ke sana," kata Devon. Setelah itu dia kembali ke kantor.
Cindy berganti pakaian lalu mengajak Cello lengkap dengan barang kebutuhan bayi yang ia bawa. "Ibu mau kemana?" Tanya Sari.
"Saya mau ke tempat kakak ipar saya sebentar mbak, tolong jaga rumah, dan jangan biarkan Ruby keluar tanpa seizin saya ataupun bapak ya," pesan Cindy pada Sari.
"Baik, bu," jawab Sari.
Cindy pun pergi bersama bayinya ke rumah Celine diantarkan oleh sopir sampai ke sana.
Ruby yang mengetahui tidak ada orang di rumah itu selain asisten rumah tangga, mencoba keluar diam-diam.
__ADS_1
Ia dihubungi oleh teman-temannya untuk ikut clubbing malam ini. "Aku harap wanita itu pulang malam atau kalau perlu nginap sekalian biar aku nggak ketahuan."
Ruby turun dari balkon menggunakan sprei yang diikat sehingga menjadi tali.