Click Your Heart

Click Your Heart
Part 127


__ADS_3

Devon merasa risau ketika menunggu kabar dari Bayu. "Aku tidak bisa tinggal diam, aku akan menyusul mereka," ucapnya sambil bangkit dari kursi kebesarannya. Ia menyambar jas yang tergantung di badan kursi.


Dengan langkah cepat Devon menuju ke area parkir. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju ke lokasi di mana Ruby disekap. Bayu sempat memberi tahukan padanya sebelum asistennya itu pergi bersama anak-anak buahnya.


Devon melihat kekacauan saat mobilnya baru saja berhenti. Lalu turun dari mobil seraya mengambil senjata api yang ia simpan di bagian dashboard mobilnya.


Dengan tampilan kemeja yang bagian lengannya digulung tanpa jas yang menempel di badannya, Devon turun dengan membawa senjata api.


Devon melihat Arya sedang menginjak paha Bayu sambil mengancamnya. "Kau memang tidak ada gunanya. Bodoh kau diperalat oleh Devon sedangkan dia hanya duduk manis di kursinya," ucap Arya yang sesuka hatinya mencibir sikap Devon.


Devon geram mendengar ejekan Arya yang ditujukan padanya.


Dor


Dor


Dor


Ia menembakkan peluru ke atas sebanyak tiga kali. Seketika pandangan semua orang tertuju pada Devon. Devon mengarahkan pistol yang ia pegang kepada Arya.


"Berani sekali kau menghinaku," ucapnya seraya berjalan mendekat ke arah Arya.


Arya menginjak paha Bayu semakin kuat. Bayu mengerang kesakitan. Bayu tidak bisa melawan Arya karena dia menodongkan tongkat baseball ke arahnya.


Sejenak langkah Devon terhenti. "Berhenti menyakitinya!" Gertak Devon.


"Kamu pikir aku takut dengan senjatamu? Maju selangkah lagi aku akan mengarahkan tongkatku ke kepalanya," ancam Arya yang sudah siap memukul Bayu.


"Hahaha," Devon menertawakan Arya. Kamu pikir lebih cepat mana peluruku atau tongkatmu?" Tantang Devon.


"Baik, apa kau ingin membuktikannya?" Arya tak mau kalah. Arya benar-benar ingin memukul Bayu dengan tongkatnya. Namun, dengan sigap Devon mengarahkan pistolnya ke lengan Arya. Arya menjatuhkan tongkat itu seketika.


Devon berlari ke arah Bayu lalu segara membantunya bangun. "Kalian jangan diam saja bantu dia ke rumah sakit!" Perintah Bayu pada beberapa orang yang berpakaian rapi serba hitam.


Tapi saat mereka akan bergerak, rupanya anak buah Arya tidak tinggal diam setelah bosnya tertembak. Arya memberikan kode agar mereka menyerang Devon dan anak buahnya.


Perkelahian pun tidak bisa dihindari. Sementara anak buah mereka saling menyerang, Devon mengangkat tubuh Bayu. Ia berniat membawa Bayu masuk ke dalam mobilnya. Namun, Arya yang tak terluka di bagian kaki melayangkan kakinya ke arah Devon.

__ADS_1


Tanpa Devon sadari ia mendapat tendangan di bagian punggungnya. Devon dan Bayu terjungkal.


Nahas, senjata api yang dipegang oleh Devon terjatuh di bawah kaki Arya. Arya berjongkok saat melihatnya lalu ia memungut senjata api itu. "Kamu pikir aku selemah itu, aku masih bisa menggunakan kedua kakiku dan satu tanganku," ucap Arya dengan penuh penekanan. Ia mengarahkan senjata yang ia pegang pada Devon.


Devon berusaha tenang. "Kamu yakin akan membunuhku? Aku tahu kamu menginginkan harta Ruby berpindah ke tanganmu. Tapi apa kamu tahu jika kamu membunuhku kamu tidak bisa mengambil hartanya karena akulah yang saat ini diberikan kuasa olehnya untuk mengelola aset yang ditinggalkan Siska. Dengan kata lain kamu butuh tanda tanganku," Devon berkata panjang lebar untuk mengukur waktu.


Di saat yang bersamaan Bayu merebut pistol yang ada di tangan Arya ketika ia lengah. Bayu berguling dan menodongkan pistol itu ke pelipis Arya. "Menyerahlah!" Ancam Bayu.


Cekrik


Cekrik


Cekrik


Bayu mengisi peluru pistol yang sedang ia pegang. Arya menegang. Namun, ia tak gentar. Ia menarik tangan Bayu dan mematahkan pistolnya. Pistol itu terjatuh. Devon yang melihat Bayu dipukul balas memukul Arya. Ia mengepalkan kedua tangannya lalu memukul dengan kuat di bagian belakang kepala Arya.


Seketika Arya pingsan. Anak buah Arya juga berhasil dilumpuhkan. Polisi datang ke lokasi setelah perkelahian itu berakhir.


"Bay, dimana Ruby?" Tanya Devon yang tak melihat anak angkatnya itu. Ia malah fokus berkelahi tadi.


"Tadi Jaden datang untuk menyelamatkan dia, Pak. Mungkin sekarang dia berada di rumah sakit," jawab Bayu.


Devon menarik ujung bibirnya. "Baiklah, aku kabulkan permintaanmu, kau juga bisa sekalian honeymoon," ledek Devon.


Ia menuntun Bayu ke dalam mobil. Devon akan mengantar Bayu sampai ke rumah seperti permintaanya.


...***...


Jaden menghubungi Cindy setelah Ruby berhasil dibawa ke rumah sakit. Cindy segera menuju ke rumah sakit bersama Cello.


"Jaden, bagaimana keadaan Ruby?" Tanya Cindy yang panik.


"Tante tenang dulu, tarik nafas lalu keluarkan pelan-pelan." Cindy mengikuti instruksi Jaden.


"Katakan di mana Ruby, Tante sangat khawatir."


"Ada di dalam Tante mari saya antar ke dalam," ajak Jaden. Sementara Julian sedang menggendong adik sepupunya itu.

__ADS_1


"Kak Ruby kenapa masuk rumah sakit Bang Jul?" Tanya Cello dengan polos.


"Kak Ruby lagi sakit," jawab Julian singkat.


"Kakak sudah beberapa hari nggak pulang apa dia sakit karena tidur di luar?" Tanya Cello dengan wajah sendunya. Julian tak menjawab ia membawa anak itu masuk ke dalam mengikuti Tante dan saudara kembarnya.


"Ruby kamu baik-baik saja, nak?" Tanya Cindy ketika melihat Ruby terbaring lemas.


"Aku baik-baik saja, Ma." Ruby tak ingin membuat orang tua angkatnya itu cemas.


"Bagaimana kata dokter?" Cindy mengalihkan pandangannya ke arah Jaden.


"Di dehidrasi dan kurang makan Tante."


"Kasian sekali kamu nak. Apa mereka tidak memberimu makan. Lihat tanganmu sampai biru-biru begini." Tak terasa Cindy meneteskan air mata.


Ruby mengangkat tangannya sebelah untuk menghapus air mata Cindy. "Terima kasih, Ma. Meskipun aku bukan anak kandungmu tapi kamu menyayangiku melebihi kasih sayang seorang ibu kandung," ucap Ruby dengan tulus.


Jaden dan Julian menjadi terharu melihat kedekatan Ruby dan Cindy. Ikatan keduanya terlihat kuat. Bisa mereka bayangkan seberapa besar kasih sayang Cindy pada Ruby saat ini.


Tak lama kemudian Devon menyusul mereka.


Tok tok tok


Laki-laki itu mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan tersebut. "Om, kenapa nggak langsung masuk aja," tegur Julian.


"Apa kabarmu sayang?" Tanya Devon pada Ruby yang baru masuk.


"Lebih baik," jawab Ruby. Tiba-tiba ia menangis karena trauma mengingat kejadian yang ia alami sebelumnya.


Devon membawa gadis itu dalam pelukannya. "Tenanglah, aku tidak akan biarkan seorang pun menyakitimu lagi," janji Devon. Ia mengusap rambut panjang Ruby dengan sayang.


"Om, Tante kami ingin pamit," sela Julian.


"Jaden, Julian terima kasih banyak sudah membantu Ruby." Kedua saudara kembar itu menganggukkan kepala dengan kompak.


...♥️♥️♥️...

__ADS_1


Sambil nunggu up mampir ke novel teman aku ya



__ADS_2