Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 187


__ADS_3

Ibunya Tania penasaran dengan orang yang membeli rumah mereka. Dia pun mendatangi rumahnya dulu. Namun ketika dia sampai di sana rupanya rumah itu terlihat kosong. "Apa dia belum pulang kerja ya?" Gumam ibunya Tania.


Tak lama kemudian Alan tiba di rumahnya. Wanita tersebut menoleh ketika melihat seseorang yang menghentikan motor di depannya. Alan melepas helm yang dia kenakan. "Ibu ini cari siapa?" Tanya Alan dengan sopan.


"Apa kamu pemilik rumah ini?" Tanya wanita itu. Alan mengangguk membenarkan omongan wanita asing yang berdiri di hadapannya itu.


Ibu Tania memindai penampilan Alan dari rambut hingga ujung kaki. "Dia lumayan tampan, penampilannya juga rapi."


"Saya ibunya Tania orang yang dulu tinggal di sini." Dia memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan.


"Saya Alan." Alan menangkupkan tangannya. Dia merasa tidak enak ketika bersalaman dengan wanita yang bukan mahromnya. "Apakah anda ingin masuk?" Tanya Alan.


"Boleh. Apakah saya tidak mengganggu?" Tanya ibunya Tania yang antusias menunggu jawaban Alan. Alan tersenyum. Dia membuka kunci pintu rumahnya.


"Silakan masuk! Maaf kalau rumahnya agak berantakan."


Ibunya Tania memindai ke setiap sudut ruangan tersebut. "Rapi dan bersih." Kesannya pada rumah yang ditinggali Alan.


"Mau saya buatkan minuman apa?"


"Apa saja nak," jawabnya sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Alan kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh hangat untuk ibunya Tania. Alan duduk di hadapan wanita tersebut.


"Jadi ada apa anda mencari saya?" Tanya Alan.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu? Tapi kamu tidak boleh tersinggung." Alan mengangguk sambil tersenyum.


"Saya tidak melihat anggota keluargamu yang lain apakah kamu belum menikah?" Tanya ibunya Tania. Alan terkejut mendengar pertanyaan wanita itu.


"Saya belum menikah dan saya tinggal seorang diri di sini. Orang tua saya ada di kampung," jawab Alan apa adanya.


Ibunya Tania menahan senyum. Dia senang karena laki-laki yang duduk di hadapannya itu belum memiliki pasangan.


Setelah menyeruput teh hangat yang dibuat oleh Alan, ibunya Tania bertanya kembali kepada laki-laki yang seusia dengan putrinya itu.


"Kamu kerja di mana? Pulangnya kok sampai sore sekali."


"Saya bekerja di toko roti yang tak jauh dari sini."


"Jadi kamu bekerja sebagai apa? Apa kamu pemilik toko itu atau hanya karyawan biasa?" Alan sedikit curiga kepada ibunya Tania dia terus mengajukan pertanyaan yang menyangkut privasinya.


"Saya hanya karyawan biasa bu," jawab Alan merendah.


"Saya rasa kita sudah cukup ngobrolnya. Lain kali saya akan mampir lagi jika ada kesempatan." Ibunya Tania bangun dari tempat duduknya.

__ADS_1


Entah kenapa Alan menangkap kesan jika ibunya Tania kecewa ketika mendengar Alan mengaku bekerja sebagai karyawan biasa.


"Baik terima kasih telah menyempatkan waktu untuk bermampir ke rumah saya." Alan mengantar wanita itu sampai ke depan rumah. Dia terlihat menaiki taksi ketika meninggalkan rumah Alan.


*


*


*


Tania baru saja tiba di rumahnya tapi dia tidak mendapati ibunya berada di dalam rumah. "Tumben sekali jam segini tidak ada orang di rumah," gumam Tania.


Tak lama kemudian Tania mendengar sebuah mobil taksi berhenti di depan rumahnya. Tania melihat ke depan. "Ibu dari mana?" Tanya Tania penasaran.


"Keluar sebentar untuk beli sesuatu," bohongnya.


"Lalu mana belanjaannya? Aku tidak lihat tangan ibu membawa kresek." Tania curiga ibunya berbohong


"Ibu hanya membeli lipstik di mini market yang tak jauh dari sini." Ibunya berbohong. Tapi Tania tidak bertanya lagi.


Ibu Tania kembali untuk memata-matai Alan. Dia penasaran dengan pekerjaan Alan lalu dia mendatangi toko roti tempat Alan bekerja.


"Apa ada pegawai di sini yang bernama Alan?" Tanya ibunya Tania pada salah satu pelayan toko roti tersebut.


"Oh Pak Alan."


"Dia kepala toko di sini. Apa ibu ingin bertemu dengannya? Saya akan panggilkan dia."


"Oh tidak perlu saya cuma ingin lihat-lihat dan membeli roti di sini." Usai membeli roti ibunya Tania pulang dia telah mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


Sepulang kerja Tania heran ketika melihat banyak kue yang dibeli ibunya. "Tumben sekali banyak camilan yang ibu beli hari ini?"


"Oh ibu dengar dari teman ibu, kue yang dijual di toko ini rasanya enak." Sang ibu menunjukkan cap yang ada di plastik pembungkusnya.


"Memang enak, aku kenal sama pemiliknya," ungkap Tania.


"Oh ya Apa kamu tertarik dengannya?"


Tania tersenyum. "Dia sudah berkeluarga Bu,"


"Loh mana yang benar katanya kemarin dia bilang belum menikah tapi kenapa Tania bilang dia sudah berkeluarga?" Batin ibunya.


*


*

__ADS_1


*


Irene sudah lama tidak main ke toko roti milik Cindy. Setelah menjemput anaknya sekolah dia mampir sebentar ke toko roti tempatnya bekerja dulu. Irene berpapasan dengan Alan, secara tak sengaja ketika dia akan memasuki toko.


"Long time no see," sapa Irene. Keduanya mengobrol di depan toko.


Ibunya Tania ingin sekali bertanya kepada Alan secara langsung karena dia penasaran pada pengakuannya kemarin yang tidak sesuai dengan Tania. Padahal yang dimaksud Tania sebagai owner toko roti tersebut adalah Cindy.


Ibunya Tania mengerutkan kening ketika melihat alan bercakap-cakap dengan seorang wanita yang membawa anaknya. "Jadi benar dia sudah berkeluarga. Apa itu anak dan istrinya?" gumam wanita itu dari kejauhan.


Karena merasa kecewa, wanita tersebut meninggalkan tempat itu. Ibunya Tania merasa sedih karena tiap kali ingin menjodohkan anaknya dengan laki-laki dia selalu gagal.


Suatu hari ibunya Tania diundang ke acara ulang tahun pernikahan temannya. "Tan nanti malam kamu ikut ya ke acara undangan teman mama!"


"Tania capek ma baru pulang kerja," tolaknya.


"Nanti siapa yang anterin mama ke sana? masa mama sendirian di sana? Kan mama tidak kenal dengan para tamu dengan yang lain."


Tania memutar bola matanya jengah. "Emangnya pesta apa sih Ma?"


"Ulang tahun pernikahan."


"Ya sudah nanti malam Tania temani," jawabnya dengan terpaksa.


Tania kaget ketika tempat yang didatangi adalah rumah atasannya sendiri. "Kamu diundang oleh mama juga Tan? Maaf saya lupa mengundang kamu," ucap Tommy sedikit menyesal.


"Siapa dia Tan?" Tanya sang ibu.


"Ini atasan Tania di kantorku," jawab Tania.


"Jadi kamu putranya Maya?" Tommy mengangguk.


"Silakan masuk tante dan nikmati pestanya."


Di sana mereka tak sengaja berpapasan dengan Alan. "Mas Alan di sini juga?" Tunjuk Tania.


"Kebetulan saya yang mengurus catering malam ini tapi saya cuma mengecek saja."


"Kamu tidak mengajak anak dan istrimu Lan?" Tanya ibunya Tania. Alan mengerutkan keningnya. Padahal seingatnya waktu itu dia telah bertanya kepada Alam dan pria itu menjawab dengan jujur kalau dia masih single.


Tak lama kemudian Irene dan putranya menyapa Tania dan ibunya. "Beliau ini siapa Tan?" Tanya Irene pada sekretaris suaminya tersebut.


"Ini Ibu saya bu." Jawab Tania.


Ibunya heran ketika Tania berbicara dengan sopan di depan Irene. "Bu kenalkan ini istri dan anaknya Pak Tommy, atasan Tania."

__ADS_1


Ibunya terkejut ternyata dia salah paham tentang Alan. "Jadi yang kamu sebut sebagai pemilik roti tempat ibu membeli roti kemarin itu bukan Alan?" Tanya ibunya memastikan.


"Bukan Bu, pemilik toko roti tersebut namanya Bu Cindy, istrinya pak Devon, kolega bisnisnya Pak Tommy."


__ADS_2