Click Your Heart

Click Your Heart
Part 87


__ADS_3

Lisa memilih pergi daripada dia sakit hati mendengar tuduhan Bayu. "Aku memang pernah berbuat jahat tapi orang juga bisa berubah," katanya dengan tatapan sinis.


Tega sekali Bayu menuduhnya yang bukan-bukan padahal dialah yang membawa istrinya ke rumah sakit.


Devon menghalangi langkah Bayu ketika akan memukul Lisa. "Sebaiknya kamu temui istrimu!" Perintah Devon.


Bayu pun masuk ke dalam ruangan Irma. Bagaimana keadaan istriku dok?" Tanya Bayu pada dokter yang merawat istrinya.


"Istri anda baik-baik saja saat ini, tapi kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda."


Deg


Dunia Bayu seolah runtuh mendengar berita buruk yang menimpanya. "Apa maksud dokter?" Tanyanya untuk memastikan dengan suara bergetar.


"Bayi anda meninggal sesaat setelah dilahirkan," terang dokter itu.


Bayu meneteskan air mata. Namun cepat-cepat ia menghapusnya. "Dimana dia aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali," kata Bayu dengan tubuh bergetar dan langkahnya yang melemah.


Bayu keluar dari ruangan Irma mengikuti dokter menuju ke ruangan bayi. "Silakan urus pemakamannya!" Perintah dokter itu.


Bayu mulai melangkah, dengan berat hati. Ia pun membuka penutup bayinya. Air matanya semakin mengalir deras dan meraung-raung. "Aku tidak menyangka kau pergi secepat ini nak? Ayah ingin sekali bermain denganmu kenapa kau tinggalkan ayah," kata Bayu dengan suara lirih.


Setelah itu ia menciumi bayinya sepuas yang ia mau. Karena setelah ini ia tak akan bisa memggendong maupun menciumnya.


Setelah agak tenang Bayu kembali ke ruangan Irma. Di sana Devon masih menunggu Bayu di luar ruangan.


"Pak, anda tidak pulang?" Tanya Bayu.


"Aku turut berduka Bay. Maafkan aku kalau saja aku tidak memerintahkan kamu ke luar kota pasti tidak akan seperti ini kejadiannya," kata Devon dengan penuh penyesalan.


"Tidak pak, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita di masa depan. Saya anggap ini sebagai tabungan saya di akhirat nanti. Semoga saya dan istri saya bisa bertemu dengannya di surga."


Devon bisa merasakan kesedihan yang mendalam pada Bayu. Ia pun memeluk Bayu. Bayu sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri mengingat usia mereka yang tak terlampau jauh.


"Aku pamit," kata Devon. Bayu pun mengangguk.


Kemudian Bayu masuk ke ruangan Irma. "Mas, kamu datang?" Tanya Irma yang baru siuman dari pingsannya.


"Jangan bangun dulu kamu masih belum pulih," kata Bayu.


"Dimana anak kita Mas? Apa dia terlahir dengan selamat?" Mendengar pertanyaan istrinya, Bayu tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk Irma dengan erat.

__ADS_1


"Apa yang terjadi Mas, kenapa kamu menangis?" Tanya Irma yang bingung.


"Sebaiknya kamu beristirahat, temui anak kita kalau kamu sudah pulih."


"Tapi aku ingin menyusuinya," kata Irma kekeuh.


"Sayang dokter belum mengizinkan mengertilah," Bayu sedikit meninggikan suaranya. Irma tersentak kaget.


"Maaf, maafkan aku," Bayu kembali memeluknya.


"Tolong istirahatlah dulu!" Kata Bayu dengan lembut. Irma mengangguk.


"Apa dia menyembunyikan sesuatu padaku?" Tanya Irma dalam hatinya.


Kemudian Bayu pulang untuk mengurus pemakaman anaknya. Di rumah sakit Irma sendirian. Ketika ada suster yang memeriksanya dia bertanya pada suster itu.


"Sus, kenapa anak saya tidak dibawa kemari? Saya ingin menyusui dia," kata Irma setengah memohon.


Suster itu mengerutkan keningnya. "Maaf Bu, apa suami anda tidak menyampaikan kalau anak anda meninggal sesaat setelah dia dilahirkan?" Tanya suster itu balik.


Seolah tersambar petir di siang bolong, Irma mendadak pusing. Ia menangis histeris. Perawat sudah mencoba menenangkan dirinya tapi tidak berhasil. Karena Irma nekad membuang selang infus di tangannya, dokter terpaksa memberikan suntikan penenang untuknya.


"Sabar sayang," kata Bayu sambil memeluk istrinya agar lebih tenang.


"Mas, kenapa kamu tidak cerita kalau anak kita sudah meninggal?" Irma mengguncang tubuh suaminya.


"Aku tidak mau membuat kamu khawatir," jawab Bayu sambil menunduk.


"Ini semua salahku karena tidak menurut perintahmu," kata Irma menyesali perbuatannya.


Byu memeluk istrinya berharap dia akan lebih tenang. "Jangan menyalahkan diri kamu, anggap semua sudah takdir dari yang kuasa. Kita harus sabar dan tabah. Ini hanya sebagian kecil dari cobaan hidup. Ada aku yang akan selalu menemanimu sayang."


Meski sebenarnya Bayu sendiri merasakan sesak di dadanya setelah kehilangan sang anak, tapi dia mencoba tegar di hadapan istrinya.


Bayu menggendong Irma dan menidurkannya di atas ranjang kembali setelah lelah menangis.


Bagas kakak Bayu beserta istrinya datang untuk menengok keadaan Irma. "Bagaimana keadaan istrimu?" Tanya Bagas.


"Dia syok ketika mengetahui anaknya telah meninggal," jawab Bayu lemah.


"Semua orang tua pasti sedih kehilangan buah hatinya. Kamu harus selalu di samping Irma agar dia tidak stress dengan musibah yang dialami, kamu tahu wanita itu kelihatannya kuat di luar tapi sebenarnya mereka sangat rapuh," kata kakak ipar Bayu

__ADS_1


"Baik, kak. Sebisa mungkin aku akan menemaninya."


...***...


"Mas, kamu baru pulang?" Tanya Cindy.


"Aku lembur karena aku harus mengerjakan pekerjaan Bayu," kata Devon.


"Mas apa tidak bisa dikerjakan oleh anak buahmu yang lainnya?"


"Bisa, tapi tetap aku yang akan mengerjakan bagian finish nya." Cindy merasa kasian dengan suaminya.


"Apa perlu aku bantu Mas selama pak Bayu cuti untuk menamani istrinya?" Cindy menawarkan bantuan.


"Tidak usah sayang, kamu jaga saja Cello dengan baik itu sudah cukup. Tugas kamu bukan untuk mencari nafkah biarkan aku saja yang bekerja," kata Devon dengan lembut.


Istrinya tersentuh mendengar penuturan suaminya. "Semoga kamu selalu bersikap lembut seperti ini mas, hari ini besok dan seterusnya," batin Cindy sambil menatap suaminya penuh cinta.


Cindy pun berjinjit dan mencium bibir suaminya. Devon tersentak kaget mendapatkan serangan tiba-tiba dari sang istri. Namun, ia langsung membalas ciuman sang istri dengan lembut. Ciuman itu mereka lakukan di ruang tamu. Tanpa mereka ketahui Cello memperhatikan mereka.


"Papa, mama, atu juja engen dicium," kata Cello dengan suara khas anak kecilnya.


Cindy dan Devon yang kaget langsung melepas pagutannya. Cindy yang malu kemudian berlalu ke belakang. Sedangkan Devon malah terkekeh lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan Cello.


Cup


"Sudah cukup?" Tanya Devon pada anaknya setelah ia menciumnya di bagian pipi sebelah kiri.


"Atu lagi," Cello menunjuk pipi kanannya.


Cup


"Mana lagi?" Tanya Devon. Kini ia sedang menahan tawanya melihat tingkah lucu Cello.


"Sini," tunjuk Cello di bagian kening.


Devon mencium kening putranya dengan lama hingga membuat Cello protes. "Ucup ucup."


"Kok ucup Cel?" Tanya Devon bingung dengan bahasa anaknya.


"Ucup Pa. Ciumnya ucup, jan lama-lama." Tawa Devon seketika pecah. Dia pun menggendong anaknya sambil menggelitiki tubuh mungilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2