
Devon mengantar Anwar dan ibunya pulang ke rumah. "Terima kasih sudah mengantarkan kami. Maaf kalau mantan suami saya memperlakukan nyonya dengan tidak baik."
"Sebenarnya saya hanya ingin tahu siapa yang menyebarkan fitnah kalau suami saya selingkuh. Waktu itu mantan suami anda memperlihatkan foto anda dengan suami saya sedang berada di depan teras rumah anda."
"Itu saat aku mengantar Anwar yang habis pingsan pulang ke rumah, Ma," sahut Devon agar istrinya tidak salah paham.
"Iya, Pa. Aku percaya kamu tidak selingkuh. Hanya saja mantan suaminya mungkin tak terima saat aku mengusir dia dari rumah waktu itu sehingga dia menyebarkan gosip bahwa suamiku berselingkuh."
"Sekali lagi saya minta maaf sudah membuat keributan."
"Tidak, jangan menyalahkan diri sendiri. Ini bukan salah anda." Cindy memberikan sejumlah uang untuk Murni.
"Saya hanya punya uang sedikit untukmu semoga bermanfaat. Mulai sekarang kalian bebas tidak akan ada lagi yang memeras kalian. Jika ada uang lebih dari hasil kerja anda, maka mulai sekarang anda bisa menabung untuk biaya sekolah Anwar ke jenjang yang lebih tinggi."
Murni menangis terharu ketika mendapatkan uang dari Cindy. "Anda begitu baik, nyonya."
"Kami permisi dulu," pamit Cindy.
Cello pulang bersama orang tuanya. Dia masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan Anwar dan ibunya.
"Akhirnya masalah keluarga Anwar bisa selesai ya Ma." Cindy mengangguk menanggapi omongan putranya.
"Mama tidak apa-apa kan?" Tanya Devon.
"Seperti yang papa lihat hanya saja...."
"Hanya apa Ma?" Tanya Devon khawatir.
"Hanya saja perutku lapar, bisakah kita mampir makan dulu di restoran?" Cindy meminta pendapat suaminya.
"Tidak, kita langsung pulang saja. Kamu perlu membersihkan diri. Lagipula Daisy juga pasti sudah menunggumu di rumah."
"Oh, astaga. Aku lupa hari ini aku berjanji pada Daisy untuk mengajarkannya melukis."
*
*
*
Setelah insiden waktu itu, keluarga Devon kembali damai. Mereka menjalani aktivitas seperti biasanya.
Hari ini ibunya Alan mengabarkan akan mengunjungi anaknya di kota. Alan izin pada Cindy untuk menjemput ibunya di stasiun kereta.
"Buk," sapa Alan sambil mencium tangan ibunya. Dia meraih tas besar di tangan ibunya.
"Ayo kita ke tempat kosku," ajak Alan.
Sesampainya di tempat kos, ibunya mengeluh tempat kosnya sempit karena dia berencana tinggal beberapa hari. "Ibu mau aku carikan penginapan?" Tanya Alan.
__ADS_1
"Bayarnya kan mahal, tidak usahlah."
Alan menghela nafas. Tinggal di kosnya tidak mau tapi dicarikan penginapan juga tidak mau. "Ya sudah bagaimana kalau kita bahas ini nanti, sementara ini ibu istirahat di sini dulu ya. Alan mau balik kerja."
"Kamu pulangnya jam berapa, Lan?" Tanya ibunya.
"Sekitar jam lima sore. Apa ibu mau aku belikan makanan dulu?" Tanya Alan.
"Tidak usah, bekal ibu masih ada," tolaknya.
"Ya sudah aku pergi ya, Bu." Alan meraih tangan ibunya untuk berpamitan. Setelah itu, Alan meninggalkan ibunya sendiri di tempat kos.
Alan kembali ke toko sebelum jam makan siang. "Bagaimana kabar ibumu, Lan?" Tanya Cindy.
"Baik, Alhamdulillah."
"Dia ada di kosanmu?" Alan mengangguk.
"Kenapa wajahmu terlihat murung begitu, Lan?"
"Ibuku rencananya ingin tinggal beberapa hari di sini tapi dia mengeluh tempat kosku kecil. Aku ingin mencarikan penginapan untuknya tapi dia tidak mau," terang Alan.
"Kalau begitu suruh saja tinggal di rumahku."
"Ah tidak usah. Aku tidak enak dengan pak Devon. Nanti ibuku merepotkan di sana."
"Tidak apa. Hanya beberapa hari kan?" Alan mengangguk ragu.
"Apa tidak sebaiknya izin dulu pada suamimu?" Alan merasa tidak enak.
"Mas Devon pasti mengerti. Lagipula orang tuamu seperti orang tuaku juga. Sejak kecil kita kan tumbuh bersama."
Usai pulang kerja Alan membawa ibunya ke rumah Cindy. "Bu, ibu bisa kan jaga sikap. Tolong jangan buat masalah ya di sini."
"Iya ibu janji."
"Assalamualaikum," Alan memberi salam pada pemilik rumah.
"Waalaikumsalam, eh kalian silakan masuk. Apa kabar, Bu?" Tanya Cindy.
"Baik, wah sudah lama kita tidak bertemu tapi kamu sudah sesukses ini, nak."
"Mari masuk!" Ajak Cindy. Alan dan ibunya dipersilakan duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian, Devon kembali dari bekerja.
"Rupanya ada tamu," ucap Devon ketika melihat Alan dan seorang wanita paruh baya.
"Mas kenalkan ini ibunya Alan. Beliau akan tinggal di sini beberapa hari."
Devon menarik tangan istrinya. "Apa kita butuh pembantu baru?" Bisiknya pada sang istri.
__ADS_1
"Bukan, Mas. Beliau hanya menumpang beberapa hari di sini. Bolehkan?"
Devon ingin sekali menolak karena dia sebenarnya tidak suka jika ada orang asing menginap di rumahnya. Namun, karena yang meminta adalah istri tercintanya maka dia tidak bisa menolak.
"Baik, tapi janji tidak akan ada masalah."
Cindy mengulas senyum. "Terima kasih banyak suamiku," ucapnya sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
Lalu Cindy kembali menemui ibunya Alan. "Mari saya antar ke kamar ibu."
"Kalau begitu aku langsung pulang saja," sahut Alan. Dia merasa tidak enak bertamu malam-malam di rumah Cindy.
"Iya, hati-hati nak," ucap sang ibu.
Ketika Cindy dan ibunya Alan berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat, mereka berpapasan dengan Daisy dan Cello yang sedang bermain kejar-kejaran.
"Cello, Daisy beri salam pada nenek," panggil Cindy pada kedua anaknya yang sedang berlarian.
Mereka berhenti sejenak lalu meraih tangan wanita itu. "Hallo nek. Namaku Daisy nama nenek siapa?" Tanya anak kecil berusia enam tahun itu.
"Nama nenek Susi," jawabnya.
"Dia nenek kita, Ma?" Tanya Cello pada Cindy.
"Ini ibunya om Alan. Beliau akan tinggal beberapa hari di sini menemani kalian. Apa kalian mau?" Tanah Cindy pada kedua anaknya.
"Mau, Ma," jawab kedua anak kecil itu dengan kompak.
"Baiklah, mainnya besok saja ya. Ini sudah malam sebaiknya kita tidur. Lagipula besok kalian kan harus sekolah." Cindy menasehati kedua anaknya.
"Baik, Ma."
Cindy mengantar ibunya Alan hingga masuk ke dalam kamarnya. "Ini kamar ibu. Kalau butuh sesuatu tinggal minta tolong sama asisten rumah tangga saja, Bu."
"Asisten rumah tangga itu siapa namanya?" Tanya ibunya Alan bingung.
"Maksud saya tanya saja pada pembantu di sini," jawab Cindy.
"Baiklah, nak."
"Selamat beristirahat ya, Bu. Saya tutup pintunya."
Setelah Cindy keluar, Bu Susi merasa kagum dengan kamar yang begitu luas ditambah dengan perabot mahal yang mengisinya.
"Wah kapan Alan bisa membangun rumah semegah ini?" Gumamnya sambil mengusap kasur yang begitu lembut.
Keesokan harinya, Bu Susi bangun ketika subuh. Namun, dia heran penghuni rumah tersebut belum ada yang bangun sama sekali. Dia pun ingin memasak di dapur sebagai tanda terima kasih pada pemilik rumah tapi rumah begitu gelap sehingga dia tidak bisa melihat ketika berjalan.
Tiar...
__ADS_1
Sebuah vas bunga yang ukurannya lumayan besar pecah karena tak sengaja tersenggol olehnya. Semua penghuni rumah jadi terbangun. Salah satu dari mereka menyalakan lampu.
"Ibu?"