
...Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya....
Meski Tommy sempat kecewa dengan keputusan Cindy yang pada akhirnya menikah dengan Devon, Tommy berusaha untuk ikhlas.
Hari ini acara pernikahan Cindy telah usai. Tommy mengantarkan orang tuanya ke rumah besar mereka. "Apa kau tidak tinggal saja bersama kami nak?" Pinta Maya.
"Tidak, Ma. Tommy ingin mandiri."
"Alah bilang saja kamu tidak mau mendengar omelan mama setiap hari," ledek Maya.
"Itu salah satunya," jujur Tommy kemudian terkekeh.
"Tommy pamit ya ma, pa."
Tommy pun menyalakan mesin mobilnya dan kembali ke apartemen. Ketika ia berhenti di lampu merah, Tommy tak sengaja berpapasan dengan Irene yang sedang dibonceng oleh Alan.
Tommy sangat penasaran dengan Irene setelah pertemuannya di pesta pernikahan Cindy dan Devon. Lalu diam-diam Tommy membuntuti Irene dari belakang. Ia ingin tahu dimana Irene tinggal.
"Terima kasih ya Lan udah nganter gue, oh iya berkat dandanan elo gue jadi nggak malu-maluin," puji Irene akan kemampuan merias yang dimiliki Alan.
"Ya dong, say. Alan mah udah terampil kalau masalah merias wajah," kata Alan memuji dirinya sendiri.
"Hati-hati lo, jangan sampai dikejar anjing pemilik rumah yang ada di depan sono," ledek Irene diiringi tawa mengejek.
Setelah Alan pergi Tommy juga ikut pergi dari area itu. Ia sudah mengetahui dimana Irene tinggal. Lalu Tommy memutar arah untuk kembali ke apartemen. Dia benar-benar kembali ke apartemen saat ini.
"Ternyata pesta pernikahan itu melelahkan," keluh Tommy yang juga ikut mempersiapkan pesta pernikahan Cindy.
"Bagaimana kalau aku yang menikah nanti," gumam Tommy sambil memejamkan mata.
"Mas Tommy," panggil wanita yang ia kenali.
Tommy pun menoleh. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Tommy yang bingung tiba-tiba saja Irene ada di belakangnya.
Irene melingkarkan tangannya ke leher Tommy. "Aku mencarimu," kata-kata Irene membuat wajah Tommy memerah.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Tommy memastikan. Irene mengangguk.
Irene segera menutup pintu kamar itu lalu menguncinya.
"Hei apa yang kamu lakukan, kenapa kamarnya dikunci?" Tanya Tommy yang bingung
Irene menarik pinggang Tommy lalu menatap matanya dalam. "Mas Tommy sejak pertama kali aku melihatmu aku sangat tertarik padamu, apa kau juga merasakan demikian?" Tanya Irene dengan suara yang dibuat-buat.
Cup
Tommy mendaratkan kecupan sekilas di bibir Irene. Gadis itu tersentak kaget mendapatkan serangan dadakan dari laki-laki tampan yang ada di depannya.
"Mas aku..." Irene tidak bisa meneruskan kalimatnya. Mulutnya sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir Tommy.
Tommy mencium Irene dengan sangat lembut. Irene pun mulai meremang merasakan hawa aneh yang menyelimuti dirinya.
Tak mau larut dalam kehaluannya. Irene mendorong dada bidang Tommy. Tommy mengusap bibirnya yang basah.
"Apa itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaanmu?" tanya Tommy sambil tersenyum pada Irene. Tommy menangakup wajah Irene.
"Aku Aku mencintaimu Mas," Irene memejamkan matanya setelah mengatakan hal itu. Tommy tersenyum senang karena Irene membalas cintanya.
Lalu laki-laki tampan itu menepis jarak di antara keduanya. Ia mencium bibir Irene untuk kesekian kali. Irene hanya bisa pasrah. Tommy menggigit bibir bawah gadis itu agar ia membuka mulutnya. Setelah itu Tommy mengeksplor bagian dalam mulut Irene. Gadis itu mulai terbuai. Ia pun pada akhirnya membalas ciuman Tommy.
Semakin lama ciuman mereka semakin panas dan menuntut. Tommy membawa Irene dalam kungkungannya. "I love you."
Bug
Tommy terjatuh dari atas ranjang. "Shiiit gue mimpi mesum," gumam Gimny merutuki kebodohannya.
...***...
Di tempat lain Maya sedang memikirkan nasib anaknya. "Tommy kasian ya Pa. Harus ditinggal nikah sama wanita yang dia cintai, coba aja dulu Cindy lebih dulu bertemu dari pada suaminya pasti Cindy udah jadi menantu mama," kata Maya panjang lebar.
Namun, suaminya itu tidak merespon karena sedang sibuk membaca koran. "Hissh si papa neyebelin banget diajak istri ngomong malah cuek," gerutu Maya. Wanita yang masih cantik di usianya itu pun bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan suaminya sendiri di meja makan.
__ADS_1
"Suntuk banget nggak ada yang bisa diajakin jalan, apa aku telepon Tommy saja ya, ah pasti dia sedang sibuk di kantor, atau Cindy, ah pasti dia repot mengurus anak dan suaminya," Maya sibuk bermonolog.
Akhirnya dia pergi seorang diri ke mall untuk berbelanja. Ketika dia sampai di mall tak sengaja Maya bertemu dengan Lisa. "Kamu kan wanita yang datang ke pernikahan Cindy dan Devon iya kan?" Tanya Maya pada Lisa.
"Ah iya tante, saya ingat kalau tante ini adalah ibunya Tommy bukan?" Lisa mencoba mengambil hati Maya.
"Tidak salah lagi, kalian berteman kan?" Tebak Maya tapi sayangnya Maya belum tahu kalau Lisa adalah tunangan Bayu. Lisa menarik ujung bibirnya. Ia berharap bisa mendekati Tommy melalui Maya. Lisa merasa bosan harus berhubungan dengan manusia es macam Bayu.
"Tante mau belanja apa?" Tanya Lisa dengan ramah.
"Kebetulan tante tidak ada kerjaan, tante hanya ingin menyibukkan diri, kalau kamu mau temani tante belanja di toko perlengkapan bayi, tante mau belikan kado buat anaknya Cindy," kata Maya.
"Lho mereka kan baru nikah kemaren tante?" tanya Lisa.
"Kamu belum tahu ya, mereka menikah karena kecelakaan, Devon menghamili Cindy di luar nikah, seandainya iti tidak terjadi mungkin saya akan meminta Cindy menjadi menantu saya, karena Tommy sangat mencintai Cindy," ungkap Maya.
Lisa tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia jadi merasa kasihan dengan Tommy. "Tidak apa tante, mungkin ada wanita yang lebih baik dari pada Cindy yang tengah dipersiapkan untuk Tommy," kata Lisa sok bijak.
Ya kmu benar, tante berharap anak tante bisa menemukan jodoh terbaik untuknya."
Lisa menarik ujung bibirnya. Ia seolah memiliki harapan untuk mendekati Tommy. Tentu saja tanpa sepengetahuan Bayu.
...***...
"Jadi kamu kenal Lisa dimana?" Tanya Devon penasaran. Pasalnya selama ini asisten pribadinya itu tidak pernah mengenalkan wanita ke hadapan Devon.
"Dia dijodohkan oleh orang tua saya pak," akunya.
"Tapi aku rasa dia cocok denganmu, cantik dan terlihat smart," puji Devon ketika mengingat Lisa.
"Hah, anda tidak tahu seberapa liciknya wanita itu pak," gumam Bayu di dalam hatinya.
Setelah ia dijodohkan dengan Lisa, Bayu menyelidiki kehidupan Lisa. Wanita itu sering bergonta-ganti pasangan yang kaya. Ia hanya berhubungan dengan laki-laki sampai ia pias memeras kekayaan laki-laki yang ia kencani.
Berbahaya seperti parasit, mungkin itu sebutan yang pantas untuk Lisa.
__ADS_1