
Tommy bangun lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi dan berganti pakaian dia memberikan sejumlah uang kepada Anita.
"Apa ini? Aku tak butuh uangmu," tolaknya pura-pura.
"Katakan! Berapa jumlah uang yang mau inginkan agar kau melupakan kejadian malam ini?"
Anita tersenyum menyeringai. "Aku tak butuh uangmu. Bagaimana kalau aku hamil anakmu? Apa kau tidak ingin bertanggung jawab?"
"Hemfh jangan mimpi, aku sudah beristri."
"Bukankah kau bilang istrimu tidak akan bisa punya anak lagi karena operasi pengangkatan rahim yang dia jalani?"
Tommy tak bisa menjawab apa-apa. "Apa benar aku telah berbicara seperti itu di depan wanita ini?" Batin Tommy.
Anita mendekat. "Apa kau tidak ingin memiliki anak?" Tanyanya sambil membelai dada bidang Tommy tak tahu malu.
Tommy membuang tangan Anita. Ia merasa jijik pada wanita itu. "Aku hanya akan menginginkan anak dari wanita baik-baik," ucap Tommy dengan penuh penekanan.
"Dasar laki-laki munafik." Umpat Anita.
Tommy mencengkeram dagu Anita. "Jaga bicaramu!"
"Bukankah kau sendiri yang menginginkan anak? Kamu pikir ada wanita yang mau dengan laki-laki tidak setia sepertimu?" Tantang Anita.
Tommy membuang dagu Anita. "Aku tidak ada waktu meladeni wanita sepertimu," ucapnya dengan angkuh.
Tommy baru ingat kalau ia meninggalkan istrinya sendiri di rumah sakit. Tommy keluar dari tempat terkutuk itu lalu menyalakan mobilnya. Ia melaju dengan kecepatan tinggi kembali ke rumah sakit di mana Irene dirawat.
Tak butuh waktu lama mobilnya telah memasuki halaman parkir. Sebelum turun dari mobil Tommy bercermin di kaca spionnya. Setelah itu ia berjalan menuju ke ruangan Irene.
Di saat yang sama, dokter baru saja keluar dari ruangan Irene. "Tunggu, Dok. Bagaimana keadaan istri saya? Apa operasinya berjalan lancar?"
Sebelum menjawab pertanyaan Tommy, dokter memindai penampilan Tommy. "Anda kemana saja? Operasinya berjalan lancar kita tunggu sampai dia siuman."
Setelah itu, Tommy masuk untuk melihat keadaan Irene. Istrinya masih belum sadarkan diri.
Tak lama kemudian handphonenya berbunyi. Ia melihat panggilan yang masuk ke ponselnya. "Dari mama," gumam Tommy. Ia berpikir sejenak untuk mencari alasan yang tepat untuk mengelabui ibunya.
"Hallo, Ma."
"Kamu di mana? Kenapa semalam tidak pulang ke rumah tapi nggak bilang-bilang? Mama khawatir denganmu dan juga Irene." Tanya sang mama melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Aku mengantar Irene ke kampung halamannya, Ma. Ayahnya mendadak sakit jadi kami semalam pergi tanpa pamit. Tommy minta maaf ya, Ma."
"Lain kali jangan seperti itu lagi ya nak. Mama sangat cemas. Oh ya sampaikan salam mama untuk mertuamu yang sedang sakit. Sampaikan permintaan maaf mama karena tidak bisa mengunjunginya."
"Iya, Ma." Setelah itu Tommy menutup panggilan telepon itu.
Ia bernafas lega karena sang ibu percaya dengan apa yang dia katakan. "Maafkan aku harus berbohong padamu, Ma."
Tommy setia menunggui Irene yang masih terpejam. Sesekali ia keluar untuk membeli makanan.
"Apa aku manfaatkan wanita tadi untuk melahirkan anakku?" Tiba-tiba ia memikirkan tawaran Anita.
"Pak, ini kopinya," seorang pelayan kantin rumah sakit memberikan pesanan Tommy.
Tommy memberikan uang untuk membayar pesanannya lalu kembali ke ruangan Irene.
Lama kelamaan Tommy merasa bosan akhirnya dia merebahkan diri di atas sofa yang ada di ruangan itu.
Selang beberapa lama, Irene akhirnya terbangun pasca operasi. Dia memindai ke sekelilingnya. "Di mana aku?" Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Ia melihat sang suami tidur di atas sofa.
Lalu Irene memanggil Tommy. Tapi Tommy tak juga bangun. Lalu ia berniat bangun sayangnya badannya tak cukup kuat untuk berdiri. Irene pun terjatuh bersama tiap infus yang ambruk.
Suara gaduh itu membuat Tommy bangun. "Kamu kenapa bisa sampai jatuh seperti ini?" Tanya Tommy pada istrinya.
"Kenapa tidak memanggilku saja?"
"Aku sudah memanggilmu tapi kamu tidak dengar," jawab Irene.
"Jangan banyak bergerak dulu kamu baru saja dioperasi," ucap Tommy.
"Operasi apa, Mas?" Irene sebelumnya tak merasa memiliki penyakit serius.
"Kamu terkena kanker rahim, jadi dokter terpaksa mengangkat rahimmu," jawab Tommy dengan berat hati. Tapi bagaimana pun istrinya harus tahu tidak mungkin selamanya ia menyembunyikan hal itu.
Jeduaarr
Irene seperti disambar petir di siang bolong. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti. Irene menangis histeris mendengar penuturan Tommy. Tommy berusaha menenangkan Irene dengan memeluknya. Ia baru melepas pelukannya hingga Irene sedikit lebih tenang.
Tommy menidurkan Irene. Air matanya sudah habis dikeluarkan semua. Sungguh cobaan yang begitu berat bagi seorang wanita. Tidak bisa memiliki anak adalah masalah besar untuk kelangsungan rumah tangganya.
"Mas, apa kau akan meninggalkan aku karena aku tidak bisa memiliki anak?" Tanya Irene sambil menarik tangan suaminya.
__ADS_1
Tommy bingung menjawabnya. Di satu sisi ia mencintai Irene di sisi lain keluarganya pasti akan menuntut seorang pewaris. "Jangan banyak bicara sebaiknya kamu kembali beristirahat. Yang lebih penting sekarang adalah kesehatanmu," jawab Tommy.
Irene hanya bisa pasrah jika setelah sembuh nanti ia akan diceraikan oleh suaminya. Lalu siapa yang akan menikahinya? Apa selamanya ia akan hidup seorang diri tanpa seorang pasangan karena tidak bisa memiliki anak? Kepala Irene rasanya ingin pecah memikirkan itu. Ia lebih baik mati daripada mendapatkan banyak hinaan di luar sana.
Mulut manusia lebih tajam daripada belati. Sakit tapi tidak berdarah tapi luka yang ditimbulkan teramat dalam dan sulit diobati. Entah bagaimana selanjutnya Irene akan menjalani kehidupannya.
Tommy tampak tak peduli dengan keadaannya. Laki-laki memang selalu begitu. Kalian hanya bisa diam tapi selalu menyangkal kalau dibilang tidak perhatian. Othor sebel.
*
*
*
Sudah lebih dari tiga hari Irene dirawat di rumah sakit tapi tak seorangpun yang menjenguknya. Harapan mendapatkan dukungan dari keluarganya hanyalah semu. Tommy bahkan tak menghubungi keluarganya yang ada di kampung.
Pagi ini Tommy entah kemana. Ia sama sekali belum menampakkan batang hidungnya sejak semalam.
"Apa dia bosan menunggui aku yang sedang sakit?" Tak terasa air mata Irene menetes ke pipinya.
Ceklek
"Selamat pagi, Bu," sapa dokter yang memeriksa Irene.
"Bagaimana keadaan anda hari ini?" Tanya Dokter itu ramah.
"Saya baik, Dok. Kapan saya boleh pulang, Dok?" Tanya Irene.
"Saya periksa dulu ya, saya mau lihat luka bekas operasinya," jawab dokter wanita itu.
"Sepertinya mulai besok anda sudah bisa berobat jalan. Lukanya harus selalu dibersihkan ya, Bu. Obatnya harus rutin diminum setiap hari," saran dokter tersebut.
"Terima kasih banyak, Dok."
Sampai pukul sebelas siang, Tommy sama sekali belum kembali. Irene semakin yakin Tommy meninggalkan dirinya. "Ya Allah, apa aku lebih baik mati saja? Aku tidak bisa menanggung aib ini sendirian. Bahkan suamiku tak peduli lagi padaku." Irene benar-benar terpuruk.
Di saat ia sedang bersedih suaminya tak memberikan dukungan sama sekali untuknya.
Irene memilih bangun dan berjalan keluar. Meskipun tubuhnya dalam keadaan sakit, tapi rasa sakitnya tak sepadan dengan rasa sakit di hatinya.
Ia menaiki lift menuju ke rooftop gedung rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan oleh Irene?