Click Your Heart

Click Your Heart
Part 85


__ADS_3

...Siapa bilang wanita itu lemah? Wanita itu lebih kuat dari apa yang kamu lihat. Lebih tangguh dari apa yang kamu kira. Jika kamu ingin tahu seberapa kuat mereka maka gantikan pekerjaan wanita....


...Laki-laki selalu mengeluh capek ketika dia sampai di rumah. Kamu tidak tahu saja seberapa repotnya wanita ketika dia sudah dihadapkan dengan pekerjaan rumah. Kamu pikir ketika dia sedang beristirahat dan kamu melihat rumahmu berantakan maka kamu bilang istrimu tidak melakukan pekerjaannya? SALAH. Mereka berkali-kali mengulang pekerjaan mereka tapi hal itu tidak terjadi pada saat kamu berada di rumah. Lalu kamu menyimpulkan kalau mereka malas?...


...Kamu tahu betapa beratnya menjaga anak yang sedang sakit? Mereka bahkan bisa menahan sakit demi menjaga anak-anak mereka. Itulah kenapa wanita disebut makhluk yang paling kuat, tidak hanya bisa menahan sakit bahkan mereka juga bisa menyembuhkan penyakitnya tanpa minum obat....


...***...


Devon menunggui Cello dengan sabar. Ia bahkan tidak bisa tidur pada tengah malam karena Cello tiba-tiba menangis. Otomatis ia harus menggendong anaknya agar diam.


Devon juga merasa kerepotan ketika Cello meminta susu tapi anaknya tidak mau turun dari gendongannya.


"Ya Allah, berdosa aku pada istriku telah meremehkan kemampuannya menjaga anakku selama ini," batin Devon yang ingin menangis.


Akhirnya dia meminta tolong pada perawat untuk membantu membuatkan susu. Lalu setelah Cello bisa ditenangkan, Devon menghubungi Bayu.


"Bay, carikan baby sitter untuk menemaniku merawat Cello di sini, aku sangat kerepotan."


"Baik, Pak," jawab Bayu melalui sambungan telepon.


"Tunggu, ingat besok pagi harus sudah ada baby sitter yang datang," perintah Devon dengan tegas.


Devon sungguh kelelahan karena selama dua malam ini dia menjaga anaknya sendirian. "Semoga kamu cepat pulang ya sayang," gumamnya ketika berada di samping anaknya.


Kemudian Devon berbaring di sofa untuk melepas penatnya. Belum ada 5 menit dirinya memejamkan mata Cello kembali memanggilnya.


"Mimik cucu papa," rengek anak kecil itu.


Devon hanya bisa mendesah. "Tunggu sebentar sayang papa akan buatkan susu." Setelah itu Devin kembali merebahkan diri di sofa. Matanya sudah berat untuk terbuka.


Sudah dua malam Cindy dirawat. Dia merasa cemas dengan keadaan anaknya. Cindy memaksakan diri berjalan sambil membawa infus ke ruangan Cello.


Ia mengintip dari balik pintu. Dia melihat suaminya tertidur di sofa. Penampilannya saat ini sangat berantakan. "Kasihan kamu Mas sepertinya kamu sangat kelelahan."


...***...


"Tadi itu telepon dari siapa mas tengah malam begini?" Tanya Irma.


"Dari Pak Devon. Aku harus mencari orang untuk merawat putranya."

__ADS_1


"Oh ya aku mau nitip makanan untuk mereka. Apa kau bersedia memberikannya? Ini sebagai tanda peduliku karena aku tidak bisa menjenguk anak mereka," mohon Irma.


"Tentu saja, sayang."


Deg


"Sayang, mas Bayu memanggil ku dengan sebutan sayang. Apa aku tidak salah dengar?" Batin Irma yang merasa bahagia.


...***...


Keesokan harinya Cindy meminta perawat untuk melepas selang infus yang menancap di tangannya. "Tolong dok saya ingin kembali merawat anak saya kasihan suami saya sampai tidak bekerja selama 2 hari," mohon Cindy pada dokter yang merawatnya.


Dokter pun mengizinkan Cindy setelah dia memastikan keadaan wanita itu dalam baik-baik saja.


Keesokan harinya Cindy masuk ke ruangan anaknya. "Sayang kamu baik-baik saja? Kenapa infusmu sudah dilepas, apa dokter sudah mengizinkan kamu?" Cecar Devon.


Cindy mengulas senyum. "Iya, sudah. Bagaimana dengan keadaan Cello? Kapan dia diperbolehkan pulang?" Tanya Cindy.


"Alhamdulillah hari ini dia sudah boleh pulang," jawab Devon. Cindy merasa bahagia penuturan Devon.


"Syukurlah. Terima kasih Mas sudah menjaga saya dengan baik," kata Cindy dengan tulus.


Devon memeluk istrinya. "Tidak sayang. Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena selalu ada di samping Cello saat dia sakit. Aku jadi tahu betapa beratnya menjadi seorang ibu. Maafkan aku telah meremehkan kemampuanmu," ucap Devon dengan penuh penyesalan.


Kemudian Bayu datang dengan membawa seorang baby sister. "Pak saya bawakan seseorang untuk menjaga Cello."


"Bagus mulai hari ini kamu bisa bekerja," kata Devon pada baby sitter baru itu.


"Mas tapi aku bisa mengurus dia sendiri, bukankah ada Sari yang membantuku tapi sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya."


"Aku sudah memecatnya setelah mengetahui kalau dia lalai dalam menjaga putraku."


"Mas, kasihan dia."


"Tidak, itu pantas dia dapatkan karena kelalaiannya." Cindy pun tidak mau mendebat suaminya lagi.


"Cello akan pulang hari ini tolong kemasi barang-barangnya!"


Pada sore harinya, mereka sampai di rumah. "Tolong jaga anak saya dengan baik jangan sampai kamu lalai menjaganya apalagi dia sedang dalam masa pemulihan." Devon menasehati pegawai barunya itu.

__ADS_1


"Baik,pak."


"Mas kamu menakutinya." Cindy menegur suaminya.


"Anggaplah ini sebagai rumahmu sendiri dan tolong bantu saya menjaga anak saya dengan baik," pinta Cindy pada wanita itu.


"Oh ya siapa nama kamu?"


"Nana, Bu," jawabnya.


"Tolong antarkan dia ke kamarnya!" Pinta Cindy pada asisten pribadi suaminya itu. Bayu mengangguk.


Tak lama kemudian keluarga Darren datang ke rumah Devon. "Maaf kami baru tahu berita tentang kecelakaan yang menimpa anakmu," kata Celine dengan penuh penyesalan.


"Tidak apa mbak, Alhamdulillah dia sudah boleh pulang tapi dalam masa penyembuhan."


"Aku dengar kamu juga sampai sakit ketika menjaganya. Apa sekarang kamu sudah baikan?" Tanya Celine. Cindy mengangguk.


"Om di mana Cello?" Tanya Jaden.


"Ada di kamar sebaiknya jangan diajak main dulu."


"Kami tahu kami hanya ingin memberikan mainan padanya semoga dia suka dengan mainan yang kami beli untuknya," terang Julian.


Jaden dan Julian pun melangkahkan kakinya ke kamar Cello. "Hai, jagoan apa kabar?" Tanya Julian berbasa-basi.


"Atit kak," Cello menunjukkan tangannya yang sedang diperban.


"Sini biar kakak tiup." Jaden meraih tangan anak kecil itu pelan kemudian pura-pura meniupnya.


"Nah sudah sembuh," katanya untuk menghibur Cello. Cello pun tersenyum. Jaden dan Julian merasa iba melihat Cello yang sedang sakit.


"Oh ya kami bawakan mainan untukmu, ini," Julian menyodorkan sebuah paper bag besar pada adik sepupunya itu.


Cello yang penasaran kemudian meraih paper bag yang dibawa oleh kakak sepupunya. Tapi dia sedih ketika satu tangannya tidak bisa digunakan untuk memegang.


Julian yang tanggap akan hal itu membantu Cello mengeluarkan isinya. Cello tersenyum lebar ketika dia melihat mainan yang dia sukai.


"Wah, lobot. Makacih Kak aku cuka ama mainannya," kata Cello dengan logat anak-anaknya.

__ADS_1


Jaden dan Julian juga merasa senang bisa membahagiakan adik kecilnya itu. "Anak-anak yang keluar biarkan dia beristirahat," Perintah Darren.


Cello yang mulai mengantuk kemudian mencari ibunya. Cindy segera ke kamar Cello. Sementara Devon berbincang dengan keluarga kakaknya.


__ADS_2