
Malam ini Irma diajak oleh pelanggannya ke hotel milik Devon. Ia janjian di kamar nomor 24 di lantai tiga. Ketika ia akan memasuki lift ia berpapasan dengan Devon yang baru saja keluar dari lift.
"Tunggu," Irma menghentikan langkah Devon.
"Saya mengenal anda," kata Irma.
Devon mengerutkan keningnya pasalnya ia tak kenal dengan wanita yang ada di hadapannya itu.
"Bukankah anda teman lelaki Cindy yang teman lelaki Cindy."
Deg
"Darimana wanita ini tahu?" Batin Devon seraya mengingat-ingat barangkali ia pernah bertemu dengannya.
"Siapa anda?" Tanya Devon.
"Saya Irma teman satu kost Cindy dulu, sekarang kami tidak tinggal bersama lagi, oh iya apa anda juga yang membelikan Cindy rumah baru?"
"Saya tidak mengerti maksud anda," Devon akan melangkah pergi tapi langkahnya tertahan.
"Jadi anda tidak tahu kalau selama ini Cindy hami?"
Deg
Devon menoleh ke arah Irma. Perkataan Irma membuat Devon penasaran. "Apa yang anda bicarakan?' Tanya Devon.
"Ini kartu nama saya, temui saya di restoran ini besok pagi, hibungi saya jika anda berminat dengan informasi yang akan saya berikan." Devon mengepalkan tangannya. Ia sangat penasaran dengan ucapan wanita itu.
Devon meninju udara lalu memijit pangkal hidungnya. "Breng*sek, jadi yang diajak Tommy itu Cindy." Devon membuat kesimpulan sendiri. "Sialan si Tommy, mereka benar-benar berselingkuh waktu itu," ucap Devon dengan berapi-api.
Ia berjalan menuju ke parkiran mobil. Devon melajukan mobilnya kencang karena merasa kecewa dengan Cindy. Namun setelah itu ia menepikan mobil. Devon merogoh ponselnya yang ia simpan di dalam saku jasnya.
"Hallo, Bayu segera cari keberadaan Cindy," titah Devon pada asisten pribadinya.
__ADS_1
"Baik, Pak," jawab Bayu melalui sambungan telepon.
Bayu pun mulai melaksanakan perintah dari atasannya itu. Pertama-tama ia menanyakan pada dua sahabatnya, Alan dan Irene.
Bayu mendatangi tempat kos Alan dan Irene bergantian. "Apa kamu tahu dimana keberadaan Cindy?" Tanya Bayu pada Alan. Alan menggeleng. Ia pura-pura tidak tahu karena Cindy sudah berpesan agar tidak memberi tahu keberadaannya kepada siapapun.
"Kamu yakin kamu tidak tahu?" Tanya Bayu sekali lagi.
"Benar, Pak," jawab Alan singkat tapi terkesan ambigu. Bayu masih belum percaya pada Alan. Ia pun mendatangi Irene.
"Ren, jawab dengan jujur, dimana Cindy tinggal sekarang?" Tanya Bayu pada gadis berkacamata itu.
"Saya tidak tahu, Pak," jawab Irene sedikit cuek.
"Saya akan beri kamu imbalan jika kamu berkata jujur," Bayu mulai mengiming-imingi uang agar Irene mau buka mulut.
"Maaf, Pak. Saya memang butuh uang tapi bukan dengan cara seperti ini," tolak Irene lalu kemudian masuk agar Bayu tidak bertanya lagi padanya.
...***...
Tommy memijit keningnya yang terasa pening ketika ibunya mengajaknya membeli roti yang dibuat Cindy.
"Emm gimana ya, baiknya. Ah bilang saja kalau dia temanku, iya betul kenapa aku harus takut," gumam Tommy.
Keesokan harinya Maya benar-benar menagih janji agar Tommy mengantarnya membeli kue di tempat yang dimaksud oleh putranya itu.
"Lho nggak ada toko, Tom?" Maya bingung ketika Tommy mengajaknya ke sebuah rumah.
"Rotinya dibuat homemade ma, fresh from the oven," kata pemuda itu pada ibunya.
Setelah itu mereka turun dan menekan bel rumah Cindy. Cindy yang mendengar bel itu kemudian membuka pintu.
"Selamat pagi," sapa Tommy. Ia mengedipkan mata memberi petunjuk bahwa ia datang bersama ibunya. Cindy mengerti maksud Tommy.
__ADS_1
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Cindy.
"Bukankah kamu wanita yang pernah mengembalikan dompetku?" Tanya Maya.
"Iya, betul. Saya juga baru ingat, maaf."
Maya memindai penampilan Cindy. "Kamu sedang hamil ya?" Tanya Maya. Cindy tersenyum menjawab pertanyaan Maya.
"Ma, bukankah kita ke sini untuk memesan kue, aku harus berangkat ke kantor setelah ini," sela Tommy. Ia mulai was-was.
"Oh iya, boleh saya masuk," Maya meminta izin.
Maya mulai menyebutkan kue yang akan ia pesan pada Cindy. Setelah selesai Maya dan Tommy pamit pulang. "Baik, saya akan meminta pegawai saya mengantarkan kue-kue yang ibu pesan besok tepat waktu," kata Cindy.
"Kalau begitu kami permisi," pamit Maya. Cindy mengangguk.
...***...
Bayu melaporkan pada Devon jika kedua teman Cindy tidak mengetahui keberadaan wanita itu. "Tommy, mungkin dia yang menyembunyikan Cindy selama ini?" Tuduh Devon.
Lalu ia pun memiliki ide untuk mengikuti Tomny sepulang kantor. "Bayu aku pinjam mobilmu agar tidak ada yang mengenaliku," pintanya pada asisten pribadinya.
"Baik, Pak." Bayu menyerahkan kunci mobilnya. "Apa bapak akan bergerak sendiri?" Tanya Bayu yang merasa khawatir.
"Ya, akan lebih leluasa jika aku sendiri yang mengawasi dia."
Kemudian Devon mengganti bajunya yang semula memakai setelan jas kini hanya memakai celana jins dan kaos hitam pendek. Tak lupa ia memakai topi hitam dan masker dengan warna yang sama untuk menyamarkan wajahnya.
Kini Devon berada di depan kantor Tommy. Ia akan mengikuti mobil Tommy jika ia sudah keluar dari area parkir.
Setelah hampir satu jam menunggu, Devon melihat mobil Tommy keluar. Ia pun mulai menjalankan mobilnya di belakang Tommy. Setelah berkendara cukup jauh, Tommy berbelok ke sebuah rumah. Yang pasti itu bukan rumah Tommy, karena setahu Devon, Tommy tinggal di apartemen mewah.
"Jadi rumah siapa itu?" Gumam Devon yang mengawasi dari kejauhan.
__ADS_1