
Tommy masuk ke dalam rumah itu tapi Devon tidak melihat pemilik rumah itu karena pemilik rumahnya tidak keluar. Devon sabar menunggu sampai Tommy keluar.
Hampir satu jam Devon menunggu di dalam mobil akhirnya Tommy keluar. Devon melihat seorang wanita berambut panjang tapi dia membelakangi Devon jadi ia tak melihat jelas siapa wanita itu.
"Sial, sia-sia aku menunggu," umpatnya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari mobil setelah memastikan Tommy meninggalkan rumah itu.
Devon keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya ke rumah itu. Laki-laki itu kemudian menekan bel. Cindy mendengar bel rumahnya berbunyi. "Mbak, tolong bukakan pintu," perintah Cindy pada asisten rumah tangganya.
Semenjak bisnis kuenya lancar dan berkembang, Cindy bisa membayar dua orang pekerja dan satu asisten rumah tangga yang tinggal bersamanya.
"Baik, Bu," jawab asisten rumah tangga Cindy yang bernama Sari itu.
"Ada keperluan apa?" Tanya Sari pada laki-laki tampan yang berpakaian casual itu.
"Apakah anda pemilik rumah ini?" Tanya Devon ragu.
"Siapa mbak yang datang?" Suara yang sngat dikenli itu mmebuat jantung Devon berdebar. Dan wanita itu benar Cindy.
Cindy terkejut ketika melihat laki-laki yang merupakan ayah dari anak yang ia kandung itu tiba-tiba datang ke rumahnya. Cindy tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya seolah kelu ketika berhadapan dengan Devon.
"Cindy," panggil Devon.
"Untuk apa anda datang kemari?" Cindy seoalh tidak menerima kedatangan Devon.
"Aku mencarimu kemana-mana," ucapnya lalu melihat ke arah perut Cindy. Cindy yang melihat tatapan Devon itu jadi memegangi perutnya. Ia sangat takut dan cemas jika Devon kelak mengambil anaknya.
__ADS_1
"Apa kamu hamil..." Devon tak meneruskan kata-katanya. Cindy bingung haruskah dia mengaku pada laki-laki di hadapannya itu.
"Apa yang kamu kandung itu anak kita?" Tanya Devon sekali lagi.
Deg
"Anak kita? Apakah dia akan mengakui anak ini jika aku berkata jujur?" batin Cindy ia sungguh merasa dilema.
Tiba-tiba Tommy datang. Laki-laki itu melupakan handphone nya yang tertinggal di rumah Cindy sehingga ia memutar balik ke ruamah Cindy. Melihat mobil seseorang terparkir di depan rumah Cindy, Tommy merasa curiga dan ia pun masuk.
Ia terkejut saat melihat Devon ada di dalam rumah Cindy. "Untuk apa kamu datang ke sini?" Suara berat itu membuat Devon menoleh ke sumber suara.
Tommy membawa Cindy ke belakang punggungnnya. Ia menoleh ke arah Cindy yang sudah meneteskan air mata. Tommy mengangguk pada Cindy memberikan kode agar Cindy percaya padanya kalau ia akan melindungi Cindy.
"Cindy, katakan padaku yang sebenarnya?" Desak devon.
"Baiklah, maafkan aku sudah membuat kalian terusik," Devon pun keluar dari rumah itu.
Cindy kemudian menangis sesenggukan di pelukan Tommy. " Tidak apa-apa, beristirahatlah, aku janji tidak akan membiarkannya mengganggumu," kata Tommy ketika melonggarkan pelukannya.
"Terima kasih," kata Cindy. tommy mengangguk.
Setelah Tommy pulang, Cindy berpesan pada Sari agar tidak membuka pintu untuk sembarangan orang mulai sekarang.
"Baik, Bu," jawab Sari.
Cindy masuk ke dalam kamar. "Maafkan ibu, nak, karena tak jujur pada ayahmu," Cindy berbicara pada bayi di dalam perutnya.
Saat ini usia kandungan Cindy sudah memasuki trimester tiga, dimana sebentar lagi ia akan melahirkan dalam waktu dekat.
__ADS_1
...***...
Irma yang menunggu Devon cukup lama menjadi tidak sabar. Ia berharap Devon tertarik dengan informasi yang ia berikan. Tapi Irma memiliki niat lain. Ia ingin memeras Devon setelah memberikan informasi tentang Cindy.
Irma pun menelepon ke nomor Devon. Devon yng menerima panggilan dari nomor yang tidak ia kenal jadi mengabaikannya.
"Sialan, dia tidak tertarik pada informasi tentang Cindy lagi, padahal aku bisa mengeruk keuntungan yang banyak hanya dengan memberi tahu dimana tempat tinggal Cindy saat ini," gumam Irma yang merasa kesal.
Irma pun menyambangi kantor Devon. "Katakan pada atasanmu aku ingin bertemu dengannya," perintah Irma pada Bayu. Tapi Bayu tk menghiraukan omongan Irma.
"Kurang ajar sekali kau, aku ingin mengatakan dimana Cindy tinggal apa kau tidak paham hah?' Bentak Irma pada Bayu.
"Pak Devon sudah mengetahui dimana Cindy tinggal kau tidak perlu repot memberitahunya," kata Bayu dengan ekspresi wajah datarnya.
Irma membelalak. Ia tak menyangka Devon mengetahui tempat tinggal Cindy sebelum ia mengatakannya.
"Sial," Ia menghentakkan kaki karena kesal lalu pergi. Irma sangat kecewa karena ia tidak bisa memeras Devon dengan informasi yang ia punya tetang Cindy.
Bayu masuk ke dalam ruangan Devon. " Siapa yang datang?" Tanya Devon.
"Irma pak."
"Hah, wanita itu mungkin akan memerasku jika aku mendapat informasi darinya," duga Devon.
"Bayu aku minta kamu awasi rumah Cindy, aku hanya khawatir dia tiba-tiba melahirkan, kulihat perutnya sudah besar," Perintah Devon pada Bayu.
"Jadi apa anda menarik kesimpulan bahwa anak yang sedang dikandung nona Cindy adalah anak anda, Pak?" Tanya Bayu lebih lanjut.
"Entahlah tapi kita bisa membuktikannya kalau anak itu sudah lahir, Cindy tidak akan bisa mengelak lagi jika kita sudah membuktikannya, aku berharap itu memang anakku," kata Devon dengan jujur.
__ADS_1