Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 167


__ADS_3

...Semua orang punya masa lalu yang kelam. Tapi keadaan bisa berubah kapan pun. Apabila ada niatan orang tersebut untuk memperbaiki diri maka akan Tuhan memberikan jalan yang mudah untuk mencapai tujuannya....


...Flashback on...


"Aku hamil," kata Anisa pada kekasihnya.


"Apa? kita kan hanya melakukannya sekali, masak bisa langsung hamil?" Tanya kekasih Anisa tak percaya.


Anisa membulatkan matanya. "Jadi kamu kira aku berbohong padamu?" ucapnya dengan nada tinggi.


"Bisa saja kan kamu melakukan itu dengan laki-laki lain selain aku," jawabnya sinis.


Plak


Anisa memberikan sebuah tamparan kepada kekasihnya. "Kamu kira aku wanita seperti apa? Aku menyesal pernah tidur bareng kamu."


sang kekasih memegangi pipinya yang terasa nyeri. "Menyesal? bukannya kamu sendiri yang meminta lebih dulu?" ucapnya dengan sinis.


"Kamu bilang aku perlu membuktikan cintaku padamu karena orang tua kita tidak merestui, bukankah waktu itu aku sudah membuktikannya?"


"Aku tidak bisa bertanggung jawab. Orang tuaku pasti menolak karena malu."


Anisa meneteskan air mata. "Tapi bagaimana denganku?"


"Gugurkan saja!" Anisa tak percaya dengan omongan yang keluar dari mulut kekasihnya.


"Tak kusangka kau setega itu. Biarlah anak ini aku yang rawat sendiri," tolaknya.


*


*


*


Anisa berusaha menyembunyikan kehamilannya. Namun, orang tuanya curiga ketika dia mulai mual muntah di pagi hari.


"Kamu kenapa?" Tanya sang ibu.


"Mungkin hanya masuk angin Bu," jawab Anisa berbohong.

__ADS_1


"Ayo periksa ke dokter!" Ajak sang ibu tapi Anisa tetap menolak dengan alasan hanya penyakit ringan.


Namun, ketika dia pingsan di tempat kerja, orang tuanya tahu kalau Anisa sedang hamil.


Plak


Sebuah tamparan dari ayahnya mendarat di pipi Anisa. "Apa kau hamil anak kekasihmu itu?" bentaknya.


Anisa tak mau mengaku. Tapi ayahnya mencari tahu sendiri. Namun, ketika keluarga Anisa mendatangi keluarga kekasihnya, mereka tidak disambut dengan baik. Alhasil ayahnya menyembunyikan kehamilan Anisa demi menjaga nama baik keluarganya.


Pada saat ia melahirkan, orang tuanya menyuruh Anisa membuang bayinya agar mereka tak menanggung malu. Anisa terpaksa menurut pada orang tuanya karena dia tidak punya pilihan lain. Dia pikir dia berhak bahagia tanpa adanya anak yang tak diinginkan itu. Dia ingin mencari jodohnya kelak tanpa ada penghalang.


Lalu Anisa putuskan mencari tempat untuk membuang bayinya. Pada dasarnya dia tidak tega. Maka dia tidak membuang bayinya di sembarang tempat. Dia memilih sebuah mobil mewah yang kebetulan saat itu dalam keadaan terbuka.


...Flashback off...


"Kamu yakin akan menemui wanita itu?" Tanya Tommy pada istrinya.


"Tidak ada salahnya mencoba. Kamu doakan saja semoga aku berhasil membujuknya agar Kevin bisa tetap bersama kita," jawab Irene.


"Apakah kamu akan membawa Kevin?"


"Tidak, aku belum siap kalau dia mengambilnya saat itu juga. Aku akan meninggalkan Kevin bersama mama."


Lalu Tommy mengantar Irene ke kantor polisi untuk menemui Anisa. "Selamat siang Pak, bisa saya menemui tahanan bernama Anisa?" Tommy meminta izin kepada petugas polisi yang berjaga.


"Silakan isi buku tamu ini dulu, nanti akan saya panggilkan."


Tommy dan Irene menunggu di sebuah kursi panjang yang tersedia di sana. Polisi tersebut membawa Annisa keluar untuk menemui Tommy dan Irene.


Irene mengulurkan tangan. "Kenalkan namaku Irene, aku istrinya Mas Tommy. Anakmu sekarang ada di rumahku."


Anisa tidak membalas uluran tangan Irene tapi dia malah bertanya dengan histeris. "Di mana anakku? kenapa tidak kalian bawa? Aku sangat merindukannya," ucapnya sambil menangis.


"Apa kamu benar-benar merindukannya? Bukankah kamu sendiri yang membuang anak kamu kenapa sekarang tiba-tiba merindukannya?" Tanya Irene tak terima.


"Aku salah, aku ingin merawat anakku. Tolong lepaskan aku dari penjara ini, kembalikan anakku!" mohon Anisa.


"Apa kamu yakin bisa merawat anakmu dengan baik? kalau dulu saja kamu tidak menginginkannya sampai membuangnya. Aku ragu kamu berjanji agar kamu bisa lepas dari penjara."

__ADS_1


"Tidak, aku benar-benar ingin merawatnya saat ini."


"Tapi apa kamu siap menerima konsekuensinya? apalagi kamu belum menikah tapi sudah memiliki anak di luar nikah?" Irene mengingatkan.


Anisa tak menjawab omongan irene. "Lalu aku harus bagaimana? Aku benar-benar menyesal dengan perbuatanku. Aku tidak berpikir sampai sejauh ini akibatnya."


"Kita lihat keputusan pengadilan nanti tapi sejujurnya aku sangat menyayangi anakmu meskipun baru beberapa hari dia bersamaku tapi aku merasa memiliki ikatan batin dengannya, aku ingin merawatnya kalau kau ijinkan. Aku ingin mengadopsi dia sebagai anakku." Irene berharap Anisa mengabulkan permintaannya.


"Sejujurnya aku tidak begitu menginginkannya karena mantan kekasihku tidak mau bertanggung jawab aku tidak bisa menghidupi anakku sendirian. Aku hanya ingin lepas dari penjara, aku tidak mau hidup di dalam sel tahanan."


"Kami akan bantu kamu agar hukumanmu diringankan tapi dengan syarat kamu harus merelakan anakmu untuk kami adopsi." Tommy mencoba bernegosiasi.


"Baiklah apapun syaratnya asal aku bisa keluar dari penjara."


"Kalau kamu memang setuju kami akan mengirimkan surat perjanjian bahwa kamu menyetujui kalau anakmu kami adopsi." Anisa mengangguk menanggapi omongan Tommy.


Setelah itu Tommy dan Irene pamit pulang mereka merasa lega karena Anisa mengizinkan anaknya diadopsi.


"Akhirnya kita bisa memiliki anak aku sangat menyayangi Kevin. Aku akan menjaganya sampai dia besar nanti," ucap Irene sambil menangis haru.


"Selamat sayang kamu akan menjadi seorang ibu yang sebenarnya," ucap Tommy pada istrinya.


Mereka berdua menyampaikan kabar bahagia itu kepada orang tuanya.


"Kalian sudah pulang, bagaimana hasilnya?" Tanya Maya sambil menggendong Kevin yang sedang tertidur.


"Alhamdulillah ma, Anisa mengizinkan kami mengadopsi anaknya," jawab Irene.


"Aku akan bicara pada Pak Baskara agar membuat surat perjanjian sekaligus mengurus kasus Anisa agar dia mendapatkan keringanan hukuman," kata Tommy. Irene mengangguk setuju.


Irene membawa Kevin masuk ke dalam kamar. "Akhirnya kita akan jadi satu keluarga untuk selamanya, nak," ucapnya pada bayi laki-laki yang berada di pangkuannya sekarang.


Irene sangat bahagia meskipun dia tidak melahirkan Kevin dari rahimnya sendiri tapi dia berjanji akan merawat Kevin dengan baik. Dia berharap pengadilan mau mengabulkan permohonan adopsinya.


...Semua orang punya jalan kehidupan yang telah diatur oleh Tuhan. Tuhan tidak akan merubah kehidupan seseorang melainkan orang itu sendiri yang berusaha mengubahnya....


Tommy pun menghubungi pengacaranya. Dia akan meminta Pak Baskara untuk mengurus semua berkas-berkas yang diperlukan.


Seminggu kemudian, Anisa menghadiri sidangnya. Dia langsung divonis 6 bulan masa tahanan.

__ADS_1


Usai persidangan Irene mengajak Kevin bertemu dengan ibu kandungnya. Anisa menangis terharu, dia menciumi anak yang telah dilahirkan.


"Maafkan Ibu nak, karena Ibu telah menyia-nyiakan kamu sekarang kamu sudah memiliki keluarga baru. Ibu hanya bisa mendoakan supaya kamu bahagia." Anisa mencium Kevin untuk yang terakhir kali.


__ADS_2