
Bayu mengantarkan Lisa pulang menuju ke rumahnya. Tapi di tengah perjalanan Lisa menolak pulang ke rumahnya. "Aku ingin main ke apartemenmu," katanya.
"Tidak, besok aku harus bekerja jadi jangan macam-macam," kata Bayu.
"Bukankah kita sudah lama tidak melakukan itu?"
Bayu memicingkan matanya. "Kau memang wanita penggoda, kamu kira aku tidak tahu di pesta Cello tadi kamu terus-terusan menatap Tommy dengan intens, apa kau menaruh hati padanya?" Cecar Bayu.
Lisa menjadi salah tingkah. Ia seolah tertangkap basah. "Mana mungkin, aku tidak mengenalnya bagaimana bisa aku menyukainya," bohong Lisa.
"Bukankah kalian sudah pernah bertemu ketika aku mengajakmu ke acara pernikahan atasanku?" Tanya Bayu.
"Aku hanya berkenalan dengannya itupun dia mengacuhkanku," sesal Lisa mengingat kejadian saat pertama bertemu dengan Tommy.
"Tapi itukan yang membuatmu penasaran?"
Lisa tampak gelagapan mendengar tuduhan Bayu. "Sebenarnya apa maumu, kenapa selalu membicarakan Tommy?" Tanya Lisa.
"Kau boleh memiliki Tommy asal kau melepaskan aku, batalkan perjodohan kita!" Lisa tidak menyangka Bayu menentang perjodohan mereka.
"Aku mau saja tapi apa orang tua kita menyetujuinya?" Tanya Lisa meminta pendapat.
"Bilang saja kalau kau mencintai laki-laki lain."
"Kau gila orang tuaku alan membunuhku jika terang-terangan menentang mereka, bagaimana kalau jau saja, bilang kalau kau mencintai orang lain," usul Lisa.
"Ya, aku memang mencintai orang lain," gumam Bayu.
Lisa memberikan tatapan tajam pada Bayu. "Sejak kapan? Dasar pembohong, kenapa kamu menerima perjodohan ini kalau kamu mencintai orang lain?" Cecar Lisa.
"Aku baru merasakan perasaan itu baru-baru ini saja," ungkap Bayu.
Tak terasa Bayu sampai di depan rumah Lisa. "Baiklah, kau perlu menjelasakan semuanya padaku besok, terima kasih sudah mengantar," kata Lisa. Ia hendak mencium Bayu tapi Bayu menolaknya.
Lisa terkejut. "Dasar sok suci," umpatnya. Lalu ia membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar.
Bayu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Lisa. Sedangkan Lisa masuk ke dalam rumahnya. Seperti biasa orang tuanya memang tidur lebih awal. Rumahnya terasa sunyi.
Plok plok plok
__ADS_1
Suara heels yang Lisa kenakan pun terdengar nyaring. Ia menaiki tangga menuju ke dalam kamarnya. Di kamar yang cukup luas itu Lisa membuang tasnya begitu saja. Lalu ia duduk di tepi ranjang.
"Aku harus bisa menguasai Tommy," ucapnya dengan seringai licik.
...***...
Hari ini Lisa menyelidiki jadwal Tommy yang ia tahu dari Bayu. Bayu mengatakan bahwa Tommy akan makan malam dengan Devon di sebuah restoran di salah satu hotel milik Devon.
Lisa memanggil seorang waitress. "Kau lihat laki-laki itu?" Tunjuk Lisa ke meja nomor sebelas.
Waitress itu mengarahkan pandangannya pada laki-laki tampan berjas abu-abu.
"Berikan minuman yang kau campur dengan obat ini padanya!" Lisa mengeluarkan sebuah botol kecil berisi obat tidur.
"Tapi saya takut," ucap waitress tersebut.
"Tenang saja ini bukan racun melainkan obat tidur yang aku berikan pada suamiku," akunya. Waitress tersebut akhirnya menuruti perintah Lisa seteah ia memberikan sejumlah imbalan padanya.
Lisa menoleh ke arah Tommy. "Kau akan jadi milikku malam ini," ucapnya dengan seringai licik.
Lalu ia memanggil orang suruhannya. "Bawa laki-laki yang ada di meja nomor sebelas setelah ia tertidur!" Perintah Lisa pada dua orang laki-laki bertubuh besar itu..
"Apa kau sendirian hari ini?" Tanya Tommy pada Devon. Pasalnya ia tak melihat Bayu yang biasa menemani Devon kemanapun dia pergi.
"Aku menugaskannya ke luar kota karena aku akan membuka cabang resort di kota M," jawab Devon.
"Kau sendiri kenapa selalu datang meeting sendirian? Apa kau tidak punya asisten pribadi?" Tanya Devon pada Tommy.
"Ada, tapi perempuan namanya Tania," jawab Tommy.
"Kenapa tidak kau jadikan dia sebagai kekasihmu?" Gurau Devon.
"Sayangnya dia sudah memiliki tunangan," jawab Tommy sambil terkekeh.
"Permisi, ini minumannya," kata waitress suruhan Lisa tadi.
"Tapi kami sudah pesan minuman," kata Devon.
"Ini adalah minuman gratis untuk hari ini saja Pak," kata waitress tersebut.
__ADS_1
"Oh ya, aku baru tahu kalau ada program seperti itu di restoranku," kata Devon.
"Untuk hari ini saja pak, karena penjualan kami sudah melebihi target," kata waitress itu menambahkan agar keduanya percaya.
"Baiklah, kita nikmati saja minumannya," seru Tommy yang tak mau menolak minuman semacam avocado kocok itu.
Setelah memberikan minuman tersebut waitress itu pergi ke belakang.
Tommy mulai mencicipi minuman yang dihidangkan. "Emm, sangat enak, kemungkinan aku akan sering datang kemari untuk mencicipi minuman ini," kata Tommy memuji.
Devon juga melakukan hal yang sama setelah mendengar pujian Tommy pada minuman itu. "Ya kau benar, aku juga baru tahu kalau ada menu minuman seenak ini," imbuh Devon.
Setelah itu Tommy pamit pulang lebih dulu karena ia harus kembali ke rumah orang tuanya. "Terima kasih untuk traktiran makan hari ini," kata Tommy sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Devon.
Devon membalas uluran tangan dari Tommy. "Sama-sama, lain kali ajaklah pasangan ke rumahku, buktikan kalau kau sudah move on dari istriku," ledek Devon.
"Baik, lagi pula aku sudah menemukannya tinggal menyatakan perasaanku saja," kata Tommy penuh percaya diri.
Usai berpisah dengan Tommy Devon merasakan kepalanya pusing. Ia berjalan sempoyongan ke arah mobilnya. Saat itu parkiran mobil sedang sepi. Ia pingsan tapi tak seorangpun yang mengetahuinya.
Lalu dua orang membopong tubuh Devon dan membawanya ke sebuah kamar hotel yang sudah dipesan oleh Lisa.
Mereka membaringkan tubuh Devon di atas ranjang. Lalu meninggalkan dia setelahnya. Lisa yang baru keluar dari kamar mandi merasa terkejut saat yang dibawa anak buahnya bukanlah Tommy melainkan Devon, atasan Bayu.
"Dasar orang suruhan bodoh, diperintahkan begitu saja tidak becus," gerutu Lisa mengomentari kinerja orang suruhannya.
Tiba-tiba Devon menggeliat ketika merasakan tubuhnya yang memanas akibat obat pera*ngsa*ng yang kini sedang bereaksi.
Lisa hendak membuka selimut yang melilit tubuh Devon, tidak disangka tangannya ditarik oleh laki-laki yang sedang dalam pengaruh obat perang*sang tersebut.
Tubuh Lisa jatuh ke atas dada bidang Devon. "Sial mungkin obatnya sedang bereaksi," gerutu Lisa.
Tangan Devon mengusap-usap punggung Lisa. "Cindy, aku sangat mencintaimu," katanya.
Lisa menarik senyum liciknya. "Kalau ku perhatikan dia sangat tampan bahkan lebih tampan dari Tommy, aku rasa tidak ada salahnya bercinta dengan laki-laki konglomerat ini," gumam Lisa sambil.
Ia pun mencium bibir Devon. Devon mengira wanita yang menciumnya adalah Cindy. Ia pun membalas ciuman Lisa. Bahkan ia melakukannya dengan brutal. Ia seolah haus akan sentuhan istrinya.
Devon membalik tubuh Lisa. Ia membuka handuk kimono yang dikenakan oleh wanita itu. Pandangannya semakin berkabut ketika melihat tubuh Lisa yang polos tak sehelai kain pun.
__ADS_1
Lisa mengalungkan tangannya ke leher Devon. Devon memeluk tubuh Lisa. Mereka pun memulai pergumulan malam itu.