Click Your Heart

Click Your Heart
Part 116


__ADS_3

Cindy diam-diam memeriksakan kandungannya ke dokter. Ia beralasan pergi ke toko roti miliknya saat izin dengan suaminya tadi. Ia hanya ingin memberi kejutan ada suaminya setelah benar-benar dipastikan bahwa dirinya hamil.


"Jadi bagaimana dok?" Tanya Cindy usai dokter memeriksa rahimnya melalui USG.


"Selamat Bu anda positif hamil, usia kandungannya baru empat minggu, tapi..." Dokter itu menjeda omongannya.


"Tapi apa dok?" Tanya Cindy penasaran.


"Saya lihat di sekitar perut anda terdapat banyak jahitan selain bekas operasi sesar, apa anda pernah mengalami kecelakaan atau apa yang membuat perut anda dirobek?" Selidik dokter.


"Ah, iya dok saya pernah dua kali operasi di bagian perut, pertama tertusuk pisau yang kedua operasi usus buntu," jawab Cindy dengan jujur.


"Kapan tepatnya anda terakhir kali operasi?" Tanya Dokter kandungan itu lagi.


"Sekitar enam bulan yang lalu dok."


"Menurut saya kehamilan anda ini akan rawan Bu. Karena jahitan di bagian perut anda belum pulih sepenuhnya. Biasanya butuh hampir dua tahun agar perut tidak robek." Cindy sedikit takut mendengarnya.


"Jadi bagaimana dok?" Cindy meremas tangannya sendiri.


"Saya harap kehamilan ibu baik-baik saja," perkataan dokter sedikit membuat Cindy down. Pasalnya ia khawatir akan terjadi sesuatu pada bayinya kelak.


Usai mendapatkan resep vitamin itu, Cindy ke toko roti sebentar. Ia mengendarai mobil sendiri.


Tak butuh waktu lama Irma melihat kedatangan Cindy ketika satu jam lagi anak-anak. "Tumben mau tutup toko baru mampir? Emangnya darimana" Tanya Irma. Ia melihat wajah Cindy seperti tidak sedang baik-baik saja.


Cindy duduk di kursi yang kebesarannya. Ia hanya diam tak menanggapi. Ia lebih cenderung melamun. Irma menepuk bahunya pelan. "Kalau ada masalah cerita sama aku," kata Irma.


"Aku hamil," jawab Cindy singkat.


Irma mengembangkan senyum karena ikut bahagia mendengarnya. "Lalu kenapa kamu sedih? Harusnya bahagia dong, bumil nggak boleh stress."


"Kata dokter kehamilan aku beresiko soalnya aku berkali-kali operasi di bagian perut dan jaraknya baru enam bulan dari operasi terakhir yang aku jalani," terang Cindy panjang lebar.


Irma mencoba memahami temannya itu. "Apapun itu mulai sekarang kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik. Aku saja yang udah lama menantikan buah hati belum dikasih juga sama Yang Kuasa," ucap Irma dengan wajah sendu.


Cindy jadi merasa kasian dengan Irma. "Nanti juga dikasih, kamu yang sabar aja," kata Cindy menyemangati. Ia mengusap punggung Irma karena dia peduli. Cindy tahu kalau Irma aslinya itu orang baik, maka dia memberi kesempatan untuk Irma. See, dia bekerja dengan baik sesuai perintah Cindy.


"Padahal hampir tiap hari aku digempur suami tapi belum hamil-hamil juga, padahal dulu hanya melakukan sekali tapi langsung hamil." Irma diam-diam curhat pada Cindy.


Cindy terkekeh mendengarnya. "Ya ambil hikmahnya kalian melakukan hubungan di luar nikah jadi Tuhan mengambil kembali apa yang dititipkan pada kalian. Kalau kali ini belum dapat momongan ya kalian nikmati aja masa pacaran setelah kalian nikah." Cindy menasehati.

__ADS_1


"Kamu benar," jawab Irma.


"Ngomong-ngomong di mana Irene?" Tanya Cindy.


"Irene lagi pergi sama Tommy, katanya mau pesen undangan."


Bruss


Cindy menyemburkan minuman dari mulutnya. "Emangnya mereka mau nikah? Bukannya waktu lalu mereka putus ya?" Cecar Cindy.


"Iya putus tapi habis itu mereka balikan. Gue bahkan lihat mereka lagi ciuman di depan kosannya Irene," terang Irma mengingat kejadian yang sempat membuatnya kesal.


"Ckckck, dasar pasangan labil. Sebentar sebentar putus sebentar sebentar balikan, semoga aja nanti pas mereka menikah nggak kaya gitu ya?" seru Cindy.


"Woi lagi ngomongin siapa, hayo?" Irene mengejutkan Irma dan Cindy.


"Kok bisa tiba-tiba ada di sini?" Tanya Irma pada Irene.


"Iya, mau mampir bawain kue buat camer," jawab Irene sambil terkekeh kecil.


"Cie udah akur nih?" Ledek Cindy. Ia tahu Maya sempat tak menyetujui hubungan Tommy dan Irene.


"Ssstth, jangan keras-keras ada anaknya nih. Ntar diaduin sama emaknya," ucap Irene sambil melirik ke arah Tommy.


"Ngomong-ngomong kapan kalian nikah?" Tanya Cindy penasaran.


"Kalau nggak ada halangan bulan depan," jawab Irene malu-malu.


"Wah kami ikut seneng, selamat ya Ren?" Cindy memeluk Irene karena bahagia.


"Ehem," suara deheman itu membuat ketiga wanita itu menoleh.


"Sayang, kita udah ditunggu mama di rumah," ajak Tommy.


"Cie cie yang ditunggu calon mertua." Irene tak henti-hentinya mendapatkan ledekan dari teman-temannya.


...***...


Sore ini Ruby janjian dengan teman-teman di sebuah kafe. "Gila gue habis lihat film biru, bet sumpah si cewek agresif banget," kata salah satu teman Ruby yang mulai percakapan.


"Buset, punya temen omes amat yak. Sadar woi belum tujuh belas tahun," yang lain menimpali.

__ADS_1


"Kalian baru lihat yang ada di video ada heboh gimana kalau lihat secara live," cibir Ruby.


Teman-temannya saling melempar pandang satu sama lain. "Maksud lo, lo udah pernah lihat yang bagaimana By?" Tanya salah satu teman Ruby yang penasaran.


Ruby mencondongkan badannya. Yang lain ikut mendekat. "Gue lihat om sama Tante gue ciuman," bisik Ruby.


Ekspresi yang ditunjukan ketiga teman Ruby berbeda-beda. Ada yang menutup mulut, ada yang menelan ludah dengan susah payah hingga geleng-geleng kepala.


"By, sehot apa ciumannya?" Tanya salah satu temannya yang iseng.


Ruby berdiri lalu mempraktekkannya seorang diri. "Kek gini?" Bibirnya manyun lalu tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Ruby juga bertingkah genit hingga teman-temannya terkekeh geli melihat tingkah konyol Ruby.


Cup


Ruby tak sengaja bertabrakan bibir sekilas dengan seorang pemuda yang dikenalnya. Saat itu ia berjalan mundur dan menoleh.


Keduanya sama-sama kaget. "Elo," tunjuk masing-masing dari mereka.


"Cuih, apes banget gue ketemu sama elo di sini," umpat Ruby.


"Heh, cewek bar-bar nggak kebalik, yang ada gue yang rugi karena elo udah nyuri ciuman pertama gue," umpat Jaden.


Julian yang baru masuk ke kafe itu jadi mengerutkan keningnya. "Hei, kenapa kalian bertengkar?" Tegur Julian.


"Ini nih bang, ada cewek main sosor aja kaya soang," ledek Jaden.


"Apa lo kata?" Geram Ruby hingga ingin menjambak rambut Jaden tapi Julian melarangnya.


"Sudah sudah maafkan dia karena sudah berkata tidak sopan padamu," kata Julian dengan lembut. Ruby pun jadi luluh.


Seorang teman wanita Ruby bangkit dari duduknya. "Kalian gaung sini saja!" Ajaknya.


Ruby melotot tak percaya. Ketiga temannya itu malah mengajak orang yang menurutnya sangat menyebalkan.


Julian mengulas senyum. "Boleh nggak masalah," jawab Julian yang menerima ajakan teman Ruby.


Meski malas Jaden ikut duduk dan menarik kursi mengikuti abangnya.


...♥️♥️♥️...


Hay yuk dukung karya ku dengan memberikan hadiah kalian bisa pilih bunga atau kopi jika memiliki poin lebih atau tonton saja iklannya kalau tidak banyak poin.

__ADS_1



__ADS_2