
Setelah Irma dirawat dua hari di rumah sakit, wanita itu diperbolehkan pulang hari ini. Bayu membantu Irma mengemasi barang-barang yang ia bawa dari rumah.
"Mas, setelah ini maukah kamu membawaku ke makam anak kita?" Pinta Irma setengah memohon.
Bayu mengangguk setuju. "Tapi sebentar saja ya, kamu harus banyak beristirahat," kata Bayu menasehati istrinya.
"Iya, Mas. Aku janji." Irma memeluk suaminya sayang. Bayu membalasnya dengan kecupan di bagian keningnya.
Setelah itu Bayu mendorong Irma sampai ke parkiran mobil. "Sini biar aku bantu," kata Bayu saat istrinya akan masuk ke mobil.
"Apakah makamnya jauh dari sini?" Tanya Irma penasaran.
"Tidak jauh, kita akan sampai dalam waktu sepuluh menit," jawab Bayu.
Kemudian Bayu memutar ke kursi kendali. Ia melajukan mobil dengan pelan mengingat Irma baru saja operasi jadi takut terkena goncangan yang akan membuat perutnya sakit.
Irma menatap suaminya diam-diam. Ia tahu mengapa Bayu melaju dengan pelan. "Luka ini tidak seberapa mas dibanding luka di hatiku karena kehilangan dia," batin Irma menangis dalam hati. Sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak menetes.
"Kita sudah sampai," kata Bayu.
Lalu ia melepas sabuk pengamannya lebih dulu kemudian membantu Irma turun. "Hati-hati," kata Bayu penuh perhatian.
"Terima kasih, Mas."
"Apa kau mau ku gendong saja?" Tanya Bayu pada sang istri.
"Tidak Mas. Aku masih kuat jalan," tolaknya.
"Baiklah, hati-hati jalannya, tidak usah terburu-buru."
"Mas, aku beruntung memiliki suami sepertimu, semoga kau jodohku sampai maut memisahkan," Irma berdoa dalam hati.
Mereka sampai di sebuah makam kecil bertuliskan nama Cantika. "Kau yang menamainya mas?" Tanya Irma pada Bayu.
"Ya, aku menamainya Cantika karena dia terlahir dengan wajah yang sangat cantik, aku masih ingat bagaimana wajahnya," kata Bayu.
"Mas apa kau sempat memotret wajahnya saat itu?" Tanya Irma bersemangat. Bayu menggeleng.
"Aku begitu sedih kehilangan dia, sampai tak memikirkan hal itu," jawab Bayu setengah menyesal.
"Tidak apa-apa Mas. Dia akan hadir saat aku bermimpi karena aku merindukannya Dari situlah aku akan tahu bagaimana wajahnya."
__ADS_1
Hati Bayu seolah teriris perih mendengar perkataan istrinya itu. Ia tahu Irma lebih sedih dibanding dirinya. Karena dialah yang melahirkan putrinya.
Irma duduk sambil menebarkan bunga yang sempat dibeli. "Sayang, maafkan ibu yang tidak bisa menjagamu. Ibu sedih harus berpisah seperti ini. Jika kau rindy pada kami maka hadirlah pada mimpi kami."
Air matanya mengalir seperti banjir, begitu deras. Bayu membiarkan istrinya menumpahkan kerinduannya pada sang anak. Sungguh jika waktu berputar kembali dia ingin seharian di rumah waktu itu.
"Sudah siang, mari kita pulang. Kamu juga harus beristirahat," kata Bayu. Irma mengangguk.
Lalu Bayu menggendong Irma. "Mas lepaskan biarkan aku berjalan sendiri."
"Aku tidak mau kamu kecapekan," jawab Bayu tak terbantahkan.
Setelah hari itu Bayu mempekerjakan asisten rumah tangga di apartemennya. Ia tidak membiarkan istrinya memegang pekerjaan rumah selama masa pemulihan.
...***...
"Mas, apa boleh aku menjenguk Irma istrinya Pak Bayu?" Tanya Cindy meminta izin pada suaminya.
"Boleh bawakan dia makanan yang enak," perintah Devon. Cindy tersenyum senang mendengar tanggapan suaminya.
Setelah itu Devon berangkat ke kantor. Hari ini Bayu sudah kembali bekerja setelah libur dua hari untuk menemani istrinya di rumah sakit.
"Bagaimana kabarmu Bay?" Tanya Devon ketika baru memasuki ruang kerjanya.
"Syukurlah, aku senang kau bisa kembali bekerja padaku."
"Apa yang harus saya kerjakan hari ini Pak?" Tanya Bayu. Dia sadar telah meninggalkan banyak pekerjaan selama dia tidak masuk.
"Kerjakan pekerjaanmu seperti biasa. Aku sudah mengerjakan bagianmu selama kamu tidak berangkat."
"Baik, Pak."
"Oh ya hari ini istriku akan mengunjungi istrimu. Tolong kabari istrimu kalau Cindy akan berkunjung!" Perintah Devon pada Bayu.
"Baik, Pak."
Setelah itu Bayu keluar dari ruangan Devon. Ia merogoh ponselnya yang ada di saku jasnya. Lalu memencet nomor kontak sang istri.
"Sayang, Bu Cindy akan datang mengunjungimu hari ini."
"Ada urusan yang akan dibicarakan denganku ya?" Tanya Irma penasaran.
__ADS_1
"Tidak, dia hanya ingin menjengukmu karena belum sempat mengunjungimu ketika di rumah sakit."
"Iya, Mas," jawab Irma melalui sambungan teleponnya.
...***...
Cindy mengajak anaknya ke rumah Irma. Ia diantar oleh sopir. "Lantai berapa ya?" Gumam Cindy yang lupa menanyakan alamat apartemen Bayu pada Devon.
"Sebaiknya aku tanya saja pada Pak Bayu langsung," Cindy pun menelepon Bayu. Tapi ketika ia sedang menunggu jawaban, Irma berjalan keluar.
"Apa kau ingin menemuiku?" Tanya Irma pada Cindy. Cindy segera mematikan ponselnya.
"Ya,Bagaimana kamu tahu aku akan datang? Apa kau sengaja turun untuk menemuiku?" Cecar Cindy.
"Iya," jawab Irma singkat. "Hallo," Irma menyapa anak yang sedang meminum susu botol itu.
"Seharusnya kau tidak usah turun. Biarkan aku yang naik," kata Cindy yang tidak enak.
Cindy mendorong stroller Cello sambil berjalan menuju lift. "Unitmu ada di lantai berapa?" Tanya Cindy pada Irma.
"Lantai lima," jawab Irma.
Mereka pun sampai. "Mari silakan masuk!" Ajak Irma.
"Aku hanya membawakan makanan sedikit untukmu." Cindy memberikan paper bag berisi roti yang sempat ia beli di perjalanan menuju ke rumah Irma.
"Terima kasih banyak. Duduk dulu aku akan meminta asisten rumah tangga ku menyiapkan minuman untukmu. Mau minum apa?" Tanya Irma.
"Teh hangat saja," jawab Cindy.
Ia melihat anaknya tertidur di stroller. "Aku iri melihatmu bisa mengajak anakmu kemana saja," kata Irma.
"Aku tahu perasaanmu saat ini. Tenanglah Tuhan pasti akan memberimu anak tahun depan. Tetap berdoa dan bersemangat meski orang yang kita cintai sudah tidak ada bersama kita. Tuhan lebih sayang dengannya."
"Kau benar, tapi aku ini tetap seorang ibu yang merindukan anaknya apalagi sudah ku kandung selama sembilan bulan. Tentu saja aku sidah memiliki ikatan yang kuat dengannya." Irma mulai berderai air mata.
"Aku juga pernah hampir kehilangan Cello. Aku juga sama sepertimu. Tapi teruslah berdoa agar kau selalu kuat. Jangan egois pikirkan suamimu yang mencintaimu dengan tulus. Jika kau bahagia dia juga bahagia. Begitu juga sebaliknya." Cindy hanya berusaha membuat Irma tegar.
"Apakah ini bagian dari hukuman Tuhan terhadapku. Dulu aku begitu hina menjual diri demi uang. Tapi aku sadar jika uang tidak bisa membeli kebahagiaan." Irma sungguh menyesal dengan perbuatannya dulu.
"Percayalah Tuhan punya rencana terbaik untuk kita. Yang penting kita bisa yakin untuk menjalaninya."
__ADS_1
"Terima kasih banyak. Aku pernah bersalah padamu tapi kamu tetap baik padaku," kata Irma penuh penyesalan.