Click Your Heart

Click Your Heart
Part 92


__ADS_3

Cindy dan Cello sampai di sekolah. "Ayo kita temui kepala sekolah dan membayar uang sekolahmu," ajak Cindy pada putranya.


"Selamat pagi, Bu," sapa Cindy ketika baru memasuki ruangan kepala sekolah.


"Selamat pagi juga silakan duduk."


"Jadi berapa yang harus saya bayar Bu?" Tanya Cindy to the point.


"Totalnya enam juta empat ratus Bu, setelah pelunasan kami akan memberikan buku dan seragam ya," kata kepala sekolah itu.


"Untuk jam sekolahnya dimulai pukul tujuh lebih tiga puluh pagi sampai pukul sepuluh saja ya Bu. Masuknya hari Senin sampai Jumat, week end libur," imbuh kepala sekolah tersebut.


"Baik, Bu."


Setelah itu Cindy mengantarkan anaknya ke kelas. Cello sangat antusias mengikuti kegiatan sekolahnya. Cindy senang karena anaknya tidak canggung saat mendapat teman baru.


Pukul sepuluh berlalu, waktunya mereka pulang. "Habis ini atu mau mamam ya ma di lestoran," kata Cello dengan bahasanya sendiri.


"Iya," jawab Cindy.


Lalu mereka menuju restoran langganan mereka. Cello memesan banyak makanan. Namun, ketika Cindy akan membayarnya uang yang ada di kartu itu tidak cukup untuk membayar tagihan makanan.


"Maaf Bu, kartu ini saldonya tidak cukup untuk membayar tagihan."


"Apa?" Kata Cindy yang kaget. Bagaimana dia membayar semua makanan itu karena dia tidak memiliki uang cash.


Cindy panik lalu hendak menelepon Devon. "Ah, aku lupa kalau kami miskin sekarang bagaimana kalau mas Devon memarahiku karena hal ini?" Batin Cindy.


"Bagaimana Bu?" Tanya pelayan itu meminta kepastian.


"Sa-saya tidak punya uang lagi. Bagaimana kalau saya menggantinya dengan cuci piring," kata Cindy memberikan usulan.


Lalu tiba-tiba seseorang datang memberikan kartu ATMnya kepada pelayan. "Pakai ini saja," kata pria itu.


"Pak Arya, kenapa bisa bertemu di sini?" Tanya Cindy.


"Saya biasa makan di sini." Arya berbohong.


"Yang tadi itu..." Cindy sedikit malu.


"Anggap saja saya yang traktir," kata Arya sambil tersenyum.


"Saya pasti akan mengganti uang anda, saya janji," kata Cindy yang merasa tidak enak.

__ADS_1


"Tidak usah sungkan."


"Anda telah dua kali menolong saya, entah bagaimana cara saya berterima kasih."


"Apa anda punya nomor telepon? Mungkin kita bisa bertukar nomor telepon." Cindy sama sekali tidak menaruh curiga pada Arya. Ia pun memberikan nomor teleponnya begitu saja.


"Kalau begitu saya permisi," Cindy menganggukkan kepala hormat. Arya membalas dengan senyuman.


"Hah untung saja ada laki-laki itu, aku benar-benar tertolong," batin Cindy ketika berada di dalam mobil.


"Jalan pak, kita pulang ke rumah," perintah Cindy pada supir pribadinya.


"Baik, Bu."


Baru setengah perjalanan Cello tertidur di mobil. "Kasian kamu pasti capek ya," gumam Cindy seraya mengusap kepala anaknya. Cello hanya menggeliat.


Di tengah-tengah perjalanan pulang mobil Cindy di hadang oleh sekelompok preman. "Bu, sepertinya kita dalam masalah," kata sopir Cindy memperingatkan.


Cindy pun menelepon Devon. "Mas angkat mas angkat," gumam Cindy yang tak juga mendapat jawaban dari suaminya.


Dari arah luar dua orang preman memukul kaca mobil Cindy dari samping. "Bagaimana ini Pak?" Cindy benar-benar ketakutan.


"Biar saya keluar Bu, ibu di sini saja menjaga anaknya." Lalu sopir itu keluar dengan membawa obeng karena hanya itu yang bisa dijadikan senjatanya.


Saat itu salah seorang dari mereka menyeret Cindy dan anaknya keluar. Cindy memberontak. Mereka bahkan memisahkan Cindy dengan Cello.


"Jangan apa-apakan anakku, kumohon!" Pinta Cindy sambil menangis.


"Mama mama mama." Hati Cindy terasa perih mendengar suara tangisan Cello.


Sementara itu sopirnya jatuh tak berdaya sehabis dipukuli. Cindy makin panik melihat sopirnya tak sadarkan diri.


Cindy mencoba berteriak agar ada orang yang menolongnya. "Tolong, to..." salah satu dari mereka membungkam mulut Cindy. Cindy hanya bisa meneteskan air matanya.


Devon saat itu sedang meeting dengan kliennya. Saat kembali dia melihat panggilan dari istrinya beberapa kali. Akhirnya ia balik menelepon. Tapi tak ada jawaban dari Cindy. "Bay, aku punya firasat buruk," kata Devon.


Lalu Bayu mengikuti atasannya itu keluar dari ruangannya. "Anda mau kemana pak?" Tanya Bayu.


"Entahlah, aku mau melacak keberadaan Cindy sekarang. Firasatku mereka sedang tidak baik-baik saja. Bayu pun mendahului langkah Devon untuk membukakan pintu mobil.


Kembali ke lokasi di mana Cindy dan anaknya sedang dalam bahaya.


Tiba-tiba seseorang menepikan mobil lalu ia menghajar para preman tersebut. "Lepaskan mereka!" Perintah Arya dengan tegas.

__ADS_1


"Laki-laki itu lagi? Kenapa dia selalu ada setiap kali aku mendapatkan masalah." Batin Cindy.


"Jangan ikut campur, hajar dia!" Perintah salah seorang yang menjadi ketua preman itu.


Tiga orang maju untuk menghajar Arya. Tapi serangan mereka bisa ditangkis dengan mudah. Cindy mencoba menggunakan kesempatan saat orang yang memeganginya lengah. Ia menggigit tangan pria itu lalu menginjak kakinya.


"Aw, dasar cewek sialan," umpat laki-laki itu.


Cindy berlari secepat mungkin ke arah Cello. "Diam atau akan ku sakiti anakmu," ancam laki-laki itu dengan menodongkan belati ke arah Cello.


"Jangan, jangan sampai kau buat dia lecet sedikitpun, atau aku akan melemparmu dengan sepatu," Cindy membuka sepatu hak tingginya lalu melempar sepatunya ke kepala laki-laki yang memegangi Cello.


Ia pun akhirnya melepas Cello saat lengah. Cello berlari ke arah ibunya. Saat yang lain akan menyerang Cindy tiba-tiba tangannya ditangkis oleh seseorang.


"Berani menyakiti istriku kamu akan berhadapan denganku," ancam Devon sambil mencengkeram kuat tangan preman itu hingga kesakitan.


Arya melihat ke arah Devon. "Sial kenapa dia datang di saat yang tidak tepat." Batin Arya.


"Kalian cepat pergi sebelum mereka memanggil polisi," kata Arya pada salah seorang preman yang ada di hadapannya.


"Siapa yang kamu perintah tolol," bentak laki-laki itu. Arya jadi terkejut mendengarnya. Karena kesal dia memukulnya. "Bukankah aku mengirim uang pada bosmu agar kalian berpura-pura menakut-nakuti wanita itu bodoh," Arya sama geramnya.


"Aku tidak memiliki bos," jawabnya. Arya kaget mendengarnya. "Sial mereka preman asli."


Devon dan Bayu berhasil melumpuhkan preman-preman itu. Lalu Devon mendekat ke arah laki-laki yang ikut berkelahi dengannya.


"Sayang, dia ini Pak Arya." Cindy memperkenalkan laki-laki asing itu.


Devon mengerutkan keningnya sambil memandang Arya dengan tatapan curiga.


"Saya hanya kebetulan lewat lalu melihat ada yang butuh pertolongan jadi saya turun dari mobil," terang Arya agar alibinya sesuai.


"Terima kasih banyak atas bantuan anda," Devon mengulurkan tangannya sebagai ucapan terima kasih.


Arya dengan ragu menerima uluran tangan Devon. "Senang berkenalan dengan anda," ucap Devon sinis saat menjabat tangan Arya.


Lalu Arya masuk ke dalam mobilnya. Ia pergi lebih dulu. Bayu menolong sopir yang tergeletak itu agar segera mendapatkan pengobatan.


"Bayu, kamu antar dia ke rumah sakit! Pakai saja mobilnya, aku dan Cindy akan naik taksi," kata Devon.


"Tidak Mas nanti kalau uang kita tidak cukup untuk membayar taksi bagaimana?" Cindy masih ingat saat ia hampir saja cuci piring gara-gara tidak mampu membayar tagihan di restoran.


Devon tersenyum. "Jangan khawatir aku masih ada yang cash."

__ADS_1


__ADS_2