Click Your Heart

Click Your Heart
Bab 169


__ADS_3

Setiap pekerjaan pasti ada hambatannya. Tergantung bagaimana cara kita menghadapi masalah tersebut.


Alan sudah bekerja lebih dari 2 bulan di toko Cindy. Hari ini ada seorang ibu-ibu yang komplen setelah memakan roti yang dibeli di tokonya.


"Roti yang dibuat di sini kok bisa bikin anak saya sakit perut setelah memakannya?"


"Tidak mungkin Bu. Roti yang dibuat di sini selalu baru jika ada yang berjamur sedikit saja akan kami buang"


"Buktinya anak saya muntah-muntah setelah makan roti yang dibeli di sini," kata ibu itu ngotot.


"Ada apa ini?" Tanya Alan.


Alan sudah tidak seperti Alan yang dulu. Sikapnya sekarang lebih tegas dan penampilannya juga lebih maskulin. Memakai setelan kemeja dan celana bahan membuat Alan tampak begitu mempesona.


Cindy dan teman kosnya sudah menyarankan agar Alan merubah penampilannya agar bawahannya bisa merasakan aura kepemimpinannya.


Sampai-sampai ibu-ibu yang tadinya marah itu merendahkan intonasi suaranya yang awalnya tinggi.


"Mas pemilik roti di sini ya?" Tanya ibu itu.


Alan tersenyum menanggapinya. "Bukan, saya salah seorang karyawan di sini."


"Oh jadi gini Mas. Anak saya mual dan muntah setelah makan roti yang dibeli di sini jadi saya khawatir apakah roti yang jual di sini itu sudah kadaluarsa? soalnya gejalanya mirip keracunan makanan."


"Apakah ibu menyimpan roti yang dimakan kemarin kalau tidak ada bukti Ibu tidak bisa menuduh penyebab mual muntah anak ibu itu akibat memakan roti yang dibeli di sini," sanggah Alan.


Ibu itu mengeluarkan roti dari dalam tasnya dan memperlihatkannya pada Alan. "Maaf Bu, ini bukan roti yang diproduksi di sini. Kami tidak memproduksi roti jenis ini, mungkin anda membelinya di toko lain?"


"Benarkah, Apa kamu tidak berbohong?"


"Anda bisa tanya karyawan di sini, kalau masih tidak percaya anda bisa mengecek roti yang ada di etalase. Pasti anda tidak akan menjumpai roti jenis ini."


Ibu itu pun menuruti saran Alan. Dia berkeliling mencari jenis roti yang sama tapi tak ditemukannya. Dia merasa malu karena apa yang dikatakan Alan itu benar sedangkan dirinya tadi sempat ngotot mengatakan bahwa penyebab mual muntah anaknya itu karena keracunan.


"Sepertinya saya keliru, maaf saya telah menuduh kalian," ucapnya dengan penuh penyesalan dan malu.


"Saya akan maafkan Ibu tapi dengan satu syarat."


"Apa itu? asalkan kalian tidak menuntut saya."


"Ibu harus membeli roti yang dijual di sini. Ibu bisa mencobanya dan membandingkan rasanya dengan toko lain."


"Oh itu, saya tidak keberatan. Saya akan membeli roti yang dijual di sini."


Setelah itu ibu-ibu itu pergi.

__ADS_1


Alan mencoba untuk mempromosikan rotinya secara tidak langsung. "Mas Alan pinter banget jualannya," puji salah seorang pegawai.


"Itu namanya teknik pemasaran terselubung. Dia hampir saja merugikan kita dengan menuduh kita menjual roti kadaluarsa jadi dia harus bertanggung jawab. Setidaknya kita untung setelah dia memborong banyak roti yang dijual di sini."


"Daebak mas Alan is the best." Pegawai wanita itu mengacungkan dua jempol ke arah Alan.


Tak lama kemudian Cindy tiba-tiba datang ke tokonya. "Selamat siang bu," sapa Alan dan seluruh pegawai yang melihat kedatangan Cindy.


"Bagaimana pekerjaan hari ini apakah ada masalah?" Tanya Cindy.


"Tadi kami sempat mengalami masalah kecil namun bisa kami selesaikan," jawab Alan.


"Benar Bu untung saja ada mas Alan."


"Masalah apa itu? coba ceritakan kepadaku!" Pinta Cindy yang penasaran.


"Tadi ada seorang ibu-ibu yang menuduh kita menjual roti basi di sini katanya anaknya mengalami keracunan setelah memakan roti yang menurutnya dibeli di sini. Tapi setelah aku mengajaknya berkeliling, ternyata roti itu dijual di toko lain."


"Lalu bagaimana cara kamu menyelesaikannya?"


"Dia meminta maaf setelah mengaku keliru lalu aku menyarankan dia untuk membeli roti-roti yang dijual di sini. Mungkin karena tidak enak dia memborong roti hari ini."


Cindy memberikan tepuk tangan kepada Alan. "Kerja bagus pertahankan prestasimu!"


Setelah itu Cindy keluar dari toko karena dia hanya mampir sebentar sebelum menjemput Cello.


"Bukankah anda dulu pernah membuka biro jodoh?" Tanya salah seorang wali murid yang juga menunggui anaknya.


"Ibu siapa? apakah ibu mengenal saya?" tanya Cindy.


"Tentu saja saya mengenal anda. Mungkin anda lupa pada saya. Saya menikah dengan suami saya karena anda yang membantu menjodohkan."


"Benarkah? Maaf saya sudah lupa karena sudah lumayan lama."


"Apakah sekarang anda tidak bekerja sebagai Mak comblang lagi?"


Cindy menggelengkan kepalanya. "Tidak, saya hanya seorang ibu rumah tangga sekarang."


"Mama" panggil Cello sambil berhambur ke pelukan ibunya.


"Apa dia anak anda?"Cindy mengangguk.


"Berarti anak anda satu kelas dengan anak saya. ltu dia anaknya," ibu-ibu itu menunjuk seorang anak laki-laki yang usianya kurang lebih sama dengan Cello.


"Baiklah kami permisi," pamit Cindy.

__ADS_1


"Tunggu! Ini kartu nama saya, mungkin kita akan sering bertemu. Kalau ada kesempatan saya ingin mengajak anda minum teh bersama."


Cindy menerima kartu nama itu lalu dia membukakan pintu mobil untuk Cello. Setelah itu dia menyalakan mesin mobilnya menuju ke sebuah mall.


"Kita mau apa Ma ke sini?" Tanya Cello.


"Kita mau merayakan ulang tahun papa. Bantu Mama cari kado untuk papa!"


Cindy masuk bersama Cello. Ketika dia memasuki sebuah toko Cindy, berpapasan dengan Ruby.


"Ruby ngapain kamu ada di sini? Bukankah ini masih jam sekolah." Ruby tampak gugup di depan ibunya.


"Mama, Cello. Hari ini kita pulang lebih awal ma karena guru-guru sedang ada acara." Ruby menoleh ke arah temannya untuk mendapatkan dukungan. Temannya mengangguk cepat.


"Benarkah?" Ruby mengangguk.


"Kalau gitu kamu temani Mama untuk cari kado papa." Ruby meluruhkan bahunya kecewa karena tidak bisa jalan dengan teman-temannya


"Nanti malam kita merayakan ulang tahun papa. Bagaimana kamu setuju?" Cindy meminta pendapat pada Ruby.


"Oh ya kalau begitu aku ikut mama saja, teman-teman Maaf ya." Ruby melambaikan tangan ke arah teman-temannya.


"Kita mau beli apa nih, Ma?" Tanya Cello.


"Bagaimana kalau sepatu?" Cindy meminta pendapat anak-anaknya.


"Bukankah papa sudah memiliki banyak koleksi sepatu di rumah?" Tanya Ruby memastikan.


"Ya kamu benar juga. Bahkan koleksi sepatunya melebihi mama," ucap Cindy sambil terkekeh.


"Bagaimana kalau jam tangan ma?" usul Ruby.


"Boleh juga idemu itu. Ayo kita ke toko jam tangan," ajak Cindy sambil menggandeng tangan Cello.


"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Payan toko itu.


"Tolong perlihatkan jam tangan model terbaru yang kalian miliki," perintahnya pada pelayan tersebut.


"Ini adalah model terbaru kami,"



"Bagaimana menurut kalian apakah akan cocok bila dipakai oleh papa?" Cindy meminta pendapat anak-anaknya.


"Bagus juga ma," jawab Ruby.

__ADS_1


"Ya sudah kita ambil yang ini," putus Cindy.


__ADS_2