
Tommy baru saja tiba di rumah orang tuanya. Akhir-akhir ini lebih sering pulang ke rumah orang tuanya dibanding ke apartemen.
Ia menjatuhkan pantatnya di sofa. Lelah setelah bekerja seharian. Tommy pun mengendurkan dasinya.
"Tom, kapan kamu akan membawa calon istri kemari?" Tanya Maya pada putranya. Maya tahu Tommy sudah mulai melupakan Cindy tapi dia tak pernah sekalipun menggandeng seorang wanita.
"Kau masih normal kan Tom?" Tanya Maya memastikan.
Tommy memicingkan matanya seolah tak terima dengan tuduhan sang ibu.
"Apa maksud mama, aku tersinggung dengan pertanyaan mama itu," sungut Tommy.
"Kalau gitu buktikan pada mamamu ini kalau kau bisa memberikan keturunan pada kami. Aku tidak mau orang-orang menganggapmu gay karena kau tidak pernah sekalipun dekat dengan wanita kecuali Tania, sekertaris mu itu.
"Hanya masalah waktu ma," jawab Tommy dengan enteng.
"Tapi waktunya kapan? Mama nggak sabar pengen jalan sama menantu mama?"
Tommy mendesah pelan."Kenapa tidak jalan saja sama kakak ipar?"
"Kau tidak ingat kalau dia itu wanita karir, jalan sama suaminya saja sangat jarang apalagi sama mama."
"Ya sudah ajak jalan Cindy saja kalau mama kesepian," usul Tommy sambil merangkul mamanya.
"Nggak ah lebih enak kalau sama mantu sendiri kaya temen gitu, hehehe," Maya tergelak. Tommy hanya bisa menggelengkan kepalanya.
...***...
Pada saat jam makan siang karyawan Alan makan bersama Irene di kantin kantor.
"Lan elo serius mau pindah kerja?" Tanya Irene pada sahabatnya.
"Iya Ren, gue udah nahan selama dua tahun. Dan gue mau kerja di bidang yang gue sukai, elo tahu kan gue lebih suka nyalon daripada bersih-bersih. Capek hati kalau di sini, ditindas mulu sama atasan."
Irene mendesah. "Gue cuma bisa berdoa supaya elo betah di tempat kerja lo yang baru," kata Irene dengan nada sendu. Sebenarnya ia tidak rela Alan pergi karena dia akan kesepian tanpa Alan.
"Meskipun kita nggak satu kantor tapi kita kan masih tetanggaan Ren. Tempat kos gue masih sama kaya yang dulu. Kita bisa jalan bareng sewaktu-waktu," Alan bergitu menyayangi sahabatnya hingga ia memeluk Irene dengan posesif.
Hari ini Tommy datang ke kantor Devon sebagai kunjungan rutin kerjasama. Ia tak sengaja melihat Alan dan Irene berpelukan di kantin. Tommy mengepalkan tangannya karena menahan amarah. Dadanya bergemuruh melihat kedekatan mereka meskipun kami tahu kalau Alan dan Irene adalah sahabat.
Tak mau berlama-lama berdiri di sana Tommy segera menuju ke ruangan Devon. "Maaf menunggu lama," kata Tommy ketika sampai di ruangan Devon.
__ADS_1
"Tidak apa bisa kita mulai sekarang?" Tanya Tommy.
...***...
Alan menyerahkan surat pengunduran diri kepada Bayu. "Kenapa kamu mengundurkan diri?" tanya Bayu.
"Saya mau pindah kerja Pak," jawab Alan sedikit gugup.
"Apa ada masalah dengan pekerjaanmu sehingga kamu sampai mengundurkan diri?" Tanya Bayu lebih lanjut.
Alan menggeleng. "Saya cukup senang bekerja di sini tapi saya memiliki cita-cita jadi saya ingin mengejarnya ya pak," jawab Alan dengan yakin.
"Baiklah nanti saya akan sampaikan pada Pak Devon." Bayu menerima surat pengunduran diri Alan.
Tok tok tok
"Masuk," kata Devon.
"Maaf Pak saya mengganggu," sela Bayu ketika Devon dan Tommy sedang membicarakan masalah bisnis.
"Ada apa Bay?"
"Saya ingin menyampaikan surat pengunduran diri dari Alan." Bayu meletakkannya di atas meja Devon.
"Jadi tadi dia hanya berpamitan pada Irene," batin Tommy.
"Kenapa tiba-tiba dia mengundurkan diri?" Tanya Devon tak mengerti.
"Dia bilang ingin pindah kerja Pak?" lapor Bayu.
"Apa gajinya kurang?"
"Bukan pak katanya dia ingin mengejar cita-citanya." Devon mencoba mengerti dengan apa yang dikatakan Bayu.
"Baiklah, terserah dia saja. Aku tidak mungkin memaksanya untuk bekerja di sini jika dia tidak mau."
"Hah, selamat. Jadi aku bisa mendekati Irene lagi," batin Tommy.
Devon melihat Tommy melamun lalu dia menegurnya. "Ah tidak apa-apa, aku rasa meeting hari ini sudah cukup akan keluar sekarang," pamit Tommy.
Ketika Tommy baru turun dari lift dia melihat Irene sedang berjalan. "Irene tunggu!" panggil Tommy. Dia mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Irene merasa gugup ketika Tommy mendekat. Setelah Tommy mengungkapkan perasaannya di restoran waktu itu, Irene meminta waktu untuk menjawab. Tapi sampai hari ini Irene belum memberikan jawaban kepada Tommy.
"Ya, pak."
"Kamu ada waktu sebentar?" Tanya Tommy dengan mengulas senyum. Jantung Irene berdegub kencang ketika melihat senyum sejuta watt Tommy. Irene sampai memegangi bagian dadanya.
Tommy mengamati Irene wajahnya terlihat pucat. "Apa kamu sakit?" Tanya Tommy yang khawatir terhadap keadaan Irene.
"Iya Pak. Saya sakit, lama-lama saya sakit jantung jika berdekatan dengan anda," gumam Irene dalam hati.
"Apa Anda ingin membicarakan sesuatu dengan saya?" Tanya Irene dengan hati-hati.
Tommy menarik sudut bibirnya. "Apakah kau lupa? kau belum memberikan aku jawaban atas pertanyaan ku ketika di restoran waktu itu," Tommy coba mengingatkan Irene.
Deg
"Sa-saya..." ! Irene bingung harus menjawab apa. Kalau boleh jujur ia juga menyukai Tommy
Tommy memegang tangan Irene dan menariknya hingga memeluk dirinya. Sontak Irene terlihat amat malu karena menjadi pusat perhatian. "Katakan! Katakan kalau kau mencintaiku juga!" Kata Tommy denga suara yang lembut.
Irene merasa nyaman Tommy memeluknya seperti itu. Ia bisa mencium parfum Tommy yang maskulin. "Ah, saya mau, saya mau jadi kekasih anda, Pak." jawab Irene tiba-tiba.
Tommy merasa senang. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Terima kasih, sayang."
Blush
"Apa aku tidak salah dengar? dia memanggilku sayang?" batin Irene yang berbunga-bunga.
Tommy mengurai pelukannya. "Mulai sekarang kamu hanya akan menjadi milikku," ucap Tommy dengan lembut.
"Mas ini masih di kantor jangan buat aku malu," kata Irene dengan lirih.
Tommy terkekeh. "Mereka tidak akan berani padaku. Oh ya nanti malam aku jemput kamu di tempat kosmu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," kata Tommy lalu ia pergi meninggalkan Irene.
Setelah kepergian Tommy, teman-teman Irene mendekat. "Ren kamu pacaran ya sama pak Tommy?" Selidik salah satu temannya. Irene tak menjawab. Ia malu karena ia hanya karyawan rendahan sedangkan Tommy adalah bos besar di perusahaannya.
"Dih, sombong bener," Irene tak menghiraukan lagi.
Meski ia malu berkerja di kantor Devon saat ini tapi ia mencoba bertahan sampai bisa mendapatkan pekerjaan lain seperti Alan.
...***...
__ADS_1
"Apa? Kamu melihat anak saya berpelukan di tempat umum?" Tanya Maya pqda seseorang yang ia tugaskan mengawasi Tommy.
"Aku mau tahu siapa gadis yang bersamanya tadi, aku akan menanyainya ketika ia sampai di rumah." Gumam Maya.