
Cindy yang masih kesal dengan sikap Dira akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan ke mall sekedar cuci mata. Meski sendirian dia tidak masalah.
Cindy tak sengaja melihat Devon sedang makan berdua dengan seorang wanita yang tidak dia kenal. Mereka terlihat akrab bahkan Devon tak sungkan melempar senyum pada wanita itu. Lalu Cindy yang penasaran memutuskan untuk mendekati Devon.
"Mas," panggil Cindy.
Devon pun menoleh. "Sini duduk!" Perempuan itu tersenyum saat Cindy menatapnya.
"Hei kalau benar dia istrinya kenapa dia tidak melabrakku saat aku memanggil mas Devon?" Batin Cindy.
Cindy berjalan mendekat meski ragu. "Perkenalkan ini kakak iparku, Celine," kata Devon.
"Celine." Wanita itu mengulurkan tanganny.
Ada perasaan lega di hati Cindy. Ternyata wanita itu bukan istri kekasihnya. "Cindy." Cindy membalas uluran tangan dari Celine.
"Silakan duduk, aku ada urusan jadi kalian lanjutkan saja makannya," pamit Celine.
"Oke, salam untuk Jaden dan Julian," kata Devon. Celine mengangguk. "Next time aku harap kita bisa ngobrol banyak," kata Celine pada calon adik iparnya itu. Cindy membalas dengan senyuman.
"Aku hampir saja salah paham kukira dia istrimu," kata Cindy sambil terkekeh.
Devon juga terkekeh mendengarnya. "Dulu aku memang mencintainya sejak SMA, tapi abangku lebih dulu memilikinya," kata Devon menceritakan sedikit kisahnya dengan Celine. Cindy mengerutkan keningnya. Ia masih belum bisa mencerna kalimat terakhir yang dilontarkan oleh kekasihnya itu.
"Ah sudahlah, itu masa lalu masa depanku adalah kamu." Devon menatap mata Cindy hingga gadis itu salah tingkah. Cindy malah memukul bahu Devon. "Mas bisa aja," kata Cindy sambil terkekeh.
"Kamu mau makan?" Tanya Devon.
"Tidak, aku makan di rumah saja, Bi Mona pasti sudah masak untukku," tolak Cindy dengan halus.
"Baiklah, aku antar pulang," kata Devon. Cindy mengangguk.
...***...
"Terima kasih, Mas," ucap Cindy pada Devon.
__ADS_1
"Aku langsung pulang ya," kata Devon sebelum pergi. Cindy mengangguk.
"Cindy," panggil seseorang. Cindy menoleh.
"Irma. Ngapain lo ke sini?"
"Gue kerja," jawab Irma.
"Sayang." Seseorang merangkul Irma dari belakang. Usianya sudah cukup tua. Cindy menerutkan keningnya. "Elo?" tunjuk Cindy
"Nggak nyangka kerjaan kita sama," cibir Irma lalu pergi bersama laki-laki yang usianya terpaut jauh itu.
"Maksud lo apa sama?' gumam Cindy.
"Hei, kenapa kamu melamun? Nggak naik?" Tanya Tommy yang baru sampai.
"Eh, Tommy. Baru sampai ya?" Tanya CIndy. Mereka berdua memasuki lift. "Iya, aku lihat kamu sedang melamun tadi?"
"Oh enggak apa-apa," elak Cindy.
"Emm mungkin seharian akau akan di rumah untuk mengerjakan skripsiku," kata Cindy.
"Oh baiklah, aku tidak akan mengganggumu."
...***...
"Sayang, kamu kenal penghuni apartemen tadi?" Tanya om-om itu pada Irma.
"Dulu dia teman satu kost denganku, entah kenapa nasibnya tiba-tiba berubah, aku dengar dia juga bekerja sepertiku," jawab Irma.
"Oh, ya? Bisakah kau kenalkan aku padanya lain waktu, dia begitu cantik dan menggoda," kata laki-laki itu tersenyum licik.
"Apa aku kurang menggoda bagimu, hm?" Irma duduk di atas paha laki-laki itu.
"Tentu saja kamu sangat menggoda." laki-laki itu menatap mesum ke arah Irma. Ia pun mulai meraba ke sekujur tubuhnya. Irma mulai membuka baju dan melakukan tugasnya sebagai pekerja komersil.
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya ketika Cindy baru keluar dari lift seseorang yang tidak ia kenal menunggunya di lantai dasar apartemen tersebut.
Laki-laki paruh baya itu sengaja menyenggol bahu Cindy hingga ia terjatuh. Kemudian ia mengulurkan tangannya. "Nona, anda tidak apa-apa?" Tanyanya pura-pura merasa bersalah.
Devon pagi itu sengaja menjemput Cindy di apartemen miliknya. Devon menyipitkan matanya ketika melihat kekasihnya terjatuh. Dengan langkah cepat ia menghampiri Cindy.
Devon berjongkok lalu membantu kekasihnya bangun. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya Devon sambil mengulurkan tangannya. Cindy menyambut uluran tangan kekasihnya sambil tersenyum.
"Mas."
"Maaf, Pak. Sebaiknya anda lebih berhati-hati ketika berjalan," ucap Devon memberi peringatan pada laki-laki itu.
"Maaf," ucapnya lalu pergi.
"Kamu mau keluar?" Tanya Devon.
"Iya, aku ingin ke minimarket sebentar untuk membeli camilan, hari ini aku mau mengerjakan skripsiku jadi aku butuh camikan biar nggak bosan," jawab Cindy.
"Biar aku antar," tawar Devon. Cindy dengan senang hati menyetujuinya.
"Mas benarkah tidak ada yang marah kalau kita jalan bareng? Aku sempat mengira mbak Celine itu adalah istrimu," kata Cindy lalu terkekeh sendiri.
"Tentu saja tidak ada, kamu tahu kan sku tinggal sendiri, apa kamu mau..." sebelum Devon meneruskan kata-katanya Cindy lebih dulu menyela.
"Mas aku turun di sini," pintanya.
Devon pun menghentikan mobilnya. "Mas Devon nggak usah nganter aku, udah siang berangkatlah ke kantor!" Pinta Cindy. Ia pun turun dari mobil.
"Baiklah, pulangnya hati-hati ya," pesannya pada sang kekasih.
"Iya," jawab Cindy dengan mengulas senyum manisnya.
"Fhuh untung aja, gue gak tahu gimana kalau dia ngajak nikah," gumam Cindy
__ADS_1