
Hari ini Cindy mengajak Alan dan Irene akan di luar. Setelah ia berdandan di depan cermin, Cindy menyambar tas selempangnya. lalu ia keluar dari kamar. "Bi, hari ini tidak usah masak. Saya akan makan di luar bersama teman-teman saya, kalau Bibi sudah selesai beres-beres boleh beristirahat," perintah Cindy pada asisten rumah tangganya.
"Baik, Non."
Setelah itu Cindy keluar dari unit apartemennya. Kebetulan ia berpapasan dengan Tommy yang juga baru menutup pintu. "Hei, kamu mau kemana pagi-pqgi begini?" Tanya Tommy.
"Saya ada janji dengan teman saya," jawab Cindy.
Mereka berdua memasuki lift yang sama. "Mau bareng? Aku bawa mobil." Tommy menawarkan tumpangan.
"Ah tidak usah repot-repot. Saya sudah pesan ojek online."
"Oh, baiklah. Mungkin lain kali aku bisa mengantarmu." Tommy melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Mereka keluar dari lift. "Saya duluan, Nona Cindy."
"Panggil saya Cindy saja!" Tommy mengangguk. Setelah itu mereka pun berpisah. Tommy menuju ke parkiran mobil, sementara itu Cindy mendekat ke arah driver ojek online.
Tommy membunyikan klakson ketika mobilnya melewati Cindy. Saat itu ia baru saja memakai helm yang diberikan oleh driver ojek online. "Yuk, Bang. Jalan sekarang!" Perintahnya.
...***...
Saat ini, Alan sedang menunggu Irene di depan tempat kost Irene. "Ren, cepetan, aelah lama bener bini gue dandannya," gerutu Alan.
Laki-laki setengah jadi itu memang sangat akrab dengan sahabatnya. Mereka sudah berteman sejak SMA. Akan tetapi, keduanya tidak mengikuti jejak Cindy melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi. Alan dan Irene yang sama-sama orang perantauan memilih bekerja di kota besar menyusul Cindy. Jadi mereka berasal dari daerah yang sama dan sekarang berada di kota yang sama pula.
Alan lebih suka bekerja sebagai seorang kapster di salon-salon. Ia sudah menjelajahi berbagai macam salon di kota ini. Sedangkan Irene, dia lebih banyak bekerja di toko-toko retail sebagai kasir.
Pada saat Cindy mendapatkan tugas dari kampusnya, gadis itu menarik keduanya untuk dijadikan karyawan di biro jodoh yang ia dirikan.
"Ren..." teriak Alan untuk kesekian kali.
"Heh, berisik banget lo," tegur penghuni kost lain.
"Maaf, Ses. Habis Irenenya lama bener."
"Yee, gue timpuk juga lo pakai sandal. Seenaknya manggil ses,ses."
__ADS_1
Tiba-tiba Irene datang. "Kabur, Lan!" Alan pun menyalakan motornya dan melaju setelah Irene membonceng.
"Gila lu nenek-nenek jantung gue berasa copot tahu nggak. Galaknya minta ampun," gerutu Alan.
"Ba*cot lo, dia masih muda keles."
Setengah jam berkendara keduanya sampai di tempat mangkal bubur ayam yang dekat dengan kampus Cindy. Cindy sudah sampai duluan di tempat itu.
Gadis cantik itu melambaikan tangan ke arah Alan dan Irene saat mereka mencari-cari lokasinya. Alan pun memarkir motornya tepat di depan tukan bubur ayam itu mangkal.
"Sini duduk!" Cindy menepuk bangku yang kosong di sampingnya.
"Bang, tambah dua mangkok lagi ya buburnya!" Pinta Cindy.
"Baik, Neng."
"Loh, mami makan duluan?" Cindy mengangguk. "Habis nunggu kalian lama banget sih. Jadi aku makan duluan perut aku udah lapar." Cindy mengelus perutnya yang rata.
"Ngomong-ngomong, bagaimana luka mami? Apa sudah sembuh?" Tanya Irene.
"Sudah 70 persen mendingan, kemaren sempat kebuka lagi lukanya soalnya aku kurang hati-hati, tapi udah diganti sih perbannya sama dokter." Perkataan Cindy membuat kedua sahabatnya menjadi lega.
"Rencananya kapan kita buka lagi mam?" Tanya Alan.
"Sebenarnya aku belum tahu, sementara ini aku kurangin aktivitas dulu sampai lukaku sembuh benar. Maaf ya malah bikin kalian jadi pengangguran," ucap Cindy dengan perasaan menyesal.
"Tidak apa-apa mam, santai saja. Kita masih punya cukup uang kok buat bayar kos-kosan." Irene tidak mau membuat temannya itu bersedih.
"Nanti aku coba tanya Mas Devon ya, barangkali di kantornya ada lowongan kerja untuk kalian."
Alan dan Irene bersorak gembira. "Beneran, Mam?" Cindy mengangguk. Irene memeluk Cindy.
Seusai makan mereka berpisah. "Kami pulang dulu ya, terima kasih buat traktiran sarapannya," pamit Irene pada Cindy.
Cindy memegang tangan Irene sebelah. "Iya, aku seneng kok bisa ngajak kalian makan."
Kedua sahabat Cindy pun mulai menginggalkan kekasih Devon itu. Namun, baru sampai di belokan sebuah mobil menyerempet mereka hingga jatuh.
__ADS_1
Brak.
Suara yang keras itu membuatnya menoleh. Cindy melihat kedua temannya terjatuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia segera mengambil langkah seribu untuk menolong mereka.
Pemilik mobil itu turun dari mobilnya. "Ya ampun mobil gue lecet begini," omel Dira yang mengendarai mobil warna hitam tersebut.
"Kok lo yang ngomel sih, lihat nih temen gue jatuh gara-gara elo," sewot Cindy. Ia membantu Alan dan Irene bangun.
"Ada yang luka nggak?" tanya Cindy cemas. Irene menunjukkan sikunya yang lecet. Ia meringis tak tega mendapati siku temannya yang berdarah.
"Kamu gimana, Lan?" Mata Cindy mengarah ke Alan.
"Aku nggak apa-apa mam."
Cindy kembali menoleh ke Irene. "Harus segera diobati nih, ayo aku antar ke klinik!" ajak Cindy pada keduanya.
"Heh, mau kemana kalian?" Dira menghadang langkah Cindy dan teman-temannya. Tanggung jawab mobil gue lecet nih." Tunjuk Dira pada bagian mobilnya yang tergesek motor Alan.
"Kalau disuruh tanggung jawab elo juga harus tanggung jawab, elo nggak lihat tangan temen gue berdarah gini," sungut Cindy tak mau kalah.
"Alah luka kecil gitu doang paling ke dokter habis berapa, nah kalau mobil gue bisa berjuta-juta nih biaya buat ke bengkel," gerutu Dira tak henti-henti.
"Bisa diem nggak?" Sentak Cindy.
Ia tak menghiraukan Dira lalu berjalan melewatinya. Cindy berniat membawa Irene untuk duduk menepi daripada berdiri di tengah jalan.
Namun, tangan Dira tiba-tiba menjambak rambut Cindy. "Gak ada sopan-sopannya ya lo."
Cindy kesakitan menahan rambutnya yang ditarik. "Aw, lepasin!"
"Oke gue lepasin." Setelah itu Dira mendorong Cindy dengan dengan kencang. Tapi naas, gadis yang ia dorong membentur ujung dudukan yang terbuat dari semen.
Cindy tergeletak, perutnya kembali berdarah akibat benturan tadi.
...***...
Apa yang terjadi selanjutnya pada Cindy?
__ADS_1
Ikuti terus ya ceritanya, semoga sesuai ekspektasi kalian.