Click Your Heart

Click Your Heart
Part 46


__ADS_3

Cindy menjalani kehidupannya dengan bahagia walau banyak omongan tentang dirinya. Tapi ia tak menggubris. Toh bukan mereka yang akan membiayai kelahiran anaknya. Menanggapi omongan orang tidak akan ada habisnya. Daripada makan hati Cindy memilih aman. Ia seolah tuli agar omongan orang yang jelek tentangnya terutama karena hamil tanpa suami tidak mempeengaruhi kandungannya.


Meski tiap hari harus berkutat di dapur, Cindy tetap bersemangat. Walaupun tak jarang punggungnya merasa pegal karena sedang berbadan dua, tapi ia masih memaksakan diri untuk membuat kue pesanan customernya.


Mau bagaimana lagi jika tidak ada orang yang bisa diandalkan. Bahkan untuk meminta bantuan dari sahabatnya pun ia tak bisa karena ia tidak pernah berkirim kabar semenjak Cindy pindah. Ia tak mau merepotkan siapa pun.


Hanya pada Tommy ia bersandar. Tapi itupun karena Tommy yang selalu mendekatinya. "Hari ini kamu mau antar kue kemana?" Tanya Tommy yang meihat Cindy sibuk di dapur.


"Nanti orangnya yang ambil sendiri ke sini, aku sudah tidak bisa mengantarkan kue kemana-mana karena aku mudah lelah akhir-akhir ini," akunya.


"Apakah kamu sudah periksa ke dokter kandungan?" Cindy menggeelng.


"Apa karena masalah biaya?" Tanya Tommy. Cindy tidak bisa berbohong. Uangnya tidak cukup untuk pergi ke dokter karena uang yang ia pegang diputar untuk modal membuat kue.


"Ayo aku antar kamu ke dokter kandungan," ajak Tommy.


"Tidak, jika orang lain tahu kamu mengantar seorang wanita yang sedang hamil nanti dikira aku istrimu," kata Cindy sambil terkekeh.


"Kenapa sih kamu nggak mau nikah smaa aku?" Tanya Tommy yang masih penasaran dengan alasan Cindy. Padahal laki-laki itu sudah sering melamarnya.


"Emangnya keluarga kamu bakal menerima aku yang hamil anak orang lain? Aku bisa bayangin kecewanya meraka pada anak lelakinya jika kamu terus memaksa aku menikah denganmu."


Apa yang dikatakan Cindy ada benarnya, terlebih keluarga Tommy adalah keluarga terpandang. Orang lain akan menilai buruk tentang keluarga mereka.


"Aku yakin orang tuaku tidak sepicik itu, aku kenal mamaku," kata Tommy sambil melahap kue yang dibuat oleh Cindy.


"Dari tadi cemilin kue aku, nanti kan mau dikirim sama pembeli," protes Cindy sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Kalau lihat bibir kamu maju bawaannya pengen dicipok deh," goda Tommy.


"Huu, dasar buaya," umpat Cindy lalu ia mengoleskan coklat ke pipi Tommy.


"Yagh jadi cemong kan," Tommy pura-pura protes. Lalu ia membalas Cindy.


Pada akhirnya Cindy menerima tawaran Tommy untuk memeriksakan kandungannya ke dokter. Saat ini Tommy duduk bersama Cindy di ruang tunggu yang ada di depan poli kandungan di sebuah rumah sakit ternama. Cindy memakai masker agar wajahnya tidak dikenali oleh siapa pun. Ia tak mau Tommy mendapat omongan yang tidak sedap.


Jodoh Cindy memang tidak pernah putus dari Devon. Mereka seolah masih terikat benang merah yang samar. Saat itu Devon sedang mengantarkan Julian untuk periksa gigi di rumah sakit. Julian ngotot minta diatar oleh Devon karena Celine sedang pergi ke luar kota bersama suaminya.


Tak sengaja mata Devon melihat Tommy memasuki poli kandungan bersama seorang wanita yang sedang hamil. Tapi ia tak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu sebab ia mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Devon mengerutkan kening. Ingin sekali ia menghampiri Tommy dan menanyakan kabar Cindy tapi Julian memanggil namanya.


"Om Devon liat apa?" Tanya Julian yang memperhatikan pamannya itu sedang melamunkan sesuatu.


"Ah, Tidak. Kalau sudah selesai ayo aku antar kamu pulang," ucapnya pada sang keponakan.


...***...


"Apa anda tidak ingin melihat anak anda?" imbuhnya.


Tommy nampak gugup, apa dia pantas melihat Cindy yang sedang di USG, pikirnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Ah maaf Dok saya mendapat telepon penting, saya angkat dulu," Tommy pun keluar dari ruangan itu untuk mengusir kegugupannya.


Dokter itu hanya menggelengkna kepalanya melihat sikap Tommy. Ia pun melanjutkan pemeriksaan. "Usia kandungan anda sudah mencapai 20 minggu ya, Bu. Apa anda masih mengalami mual muntah?" Tanya dokter tersebut pada Cindy.


"Sudah berkurang dok," akunya.


"Baiklah, kondisi kandungan anda baik-baik saja tapi berat badannya harus ditambah ya, Bu. Kurangi stress agar tidak mengganggu kondisi janin," pesan dokter itu pada Cindy.

__ADS_1


Setelah itu Cindy keluar. "Bagaimana hasil pemeriksaanya?" Tanya Tommy.


"Bagus, cuma berat janinku saja yang harus ditambah," ungkap wanita itu.


"Ayo aku antar pulang, hati-hati jalannya," kata Tommy dengan lembut.


"Senangnya punya suami yang perhatian kaya gitu, tampan lagi," terdengar suara bisik-bisik di sekitar Cindy saat mereka berjalan.


Tommy terkekeh mendengarnya. "Kenpaa kamu tertawa?" Tanya Cindy.


"Aku hanya merasa lucu mendengar omongan ibu-ibu itu," jawab Tommy.


"Ih, GR memang kamu yang sedang dibicarakan?" ledek Cindy pada laki-laki yang berjalan di sampingnya itu.


"Di sini tidak ada orang lain yang setampan diriku," kata Tommy dengan percaya diri. Cindy terkekeh mendengarnya.


...***...


Usai mengantar Cindy, Tommy kembali ke rumah orang tuanya. "Ada apa, Ma memanggilku ke sini?" Tanya Tommy pada Maya.


"Kamu habis darimana? Tadi pas mama telepon sepertinya berisik sekali," Tanya Maya yang penasaran.


"Owh Tommy habis meeting dengan klien Ma," bohong Tommy pada mamanya.


"Tom minngu depan ada pertemuan keluarga, apa kamu tidak berniat memperkenalkan pasangan kamu?" Tanya Maya.


"Lagi-lagi itu yang mama tanyakan," protes Tommy.

__ADS_1


"Mama malu Tom di usia mama yang sekarang mama belum juga menggendong cucu, kakak iparmu belum juga hamil sampai sekarang," keluh Maya menyampaikan isis hatinya.


Tommy menyemburkan minumannya. "Benarkah mama ingin cucu?" Tanya Tommy memastikan.


__ADS_2