Click Your Heart

Click Your Heart
Part 30


__ADS_3

Semua orang yang menyaksikan kejadian di luar kampus itu dibuat panik. "Tolongin, tolongin," teriak Irene. Gadis berkacamata itu tak menghiraukan sikunya yang lecet.


"Panggil ambulans woi jangan diem aja!" Tiba-tiba suara Alan jadi maskulin.


"Naik mobil gue aja, nanti gue anterin ke rumah sakit," seorang mahasiswi menawarkan bantuan pada mereka.


Sementara itu, Dira tak menyangka dorongan kuat tangannya menyebabkan kesalahan fatal. Wanita itu pun berniat kabur. Tapi mahasiswa lain menghalangi langkahnya. "Jangan coba-coba kabur lo, udah bikin orang celaka juga nggak mau tanggung jawab," omel mahasiswa lain.


Tangan Dira pun ditarik paksa oleh mahasiswa itu agar dia diadili di ruang dosen. Karena mereka tahu yang dicelakai oleh Dira merupakan salah satu mahasiswi kampus tersebut.


Beberapa orang membopong tubuh Cindy dan membawanya masuk ke dalam mobil. Irene menemani Cindy. Ia memangku kepalanya.


Sedangkan Alan, dia menghubungi Devon.


...***...


Saat itu, Devon sedang meeting di ruang rapat di gedung kantornya. Ia melihat sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Devon mengerutkan keningnya saat nomor yang tidak ia kenal menghubungi dirinya. Saat itu ia mengikuti meeting penting. Jadi, ia mengabaikan panggilan tersebut.


Alan yang tidak mendapat respon dari Devon kemudian mengirim sebuah pesan singkat ke ponsel Devon.


Devon baru mengecek ponselnya ketika dia selesai meeting. Laki-laki menghentikan langkahnya tiba-tiba sehingga membuat Bayu yang berjalan di belakangnya menabrak punggung Devon.


"Maaf, Pak." Saat itu Bayu sedang memeriksa tabletnya.


Devon kaget ketika dia membuka isi pesan yang terbaru. "Bayu, jadwal ulang schedule ku hari ini, aku harus menemui Cindy di rumah sakit."


Devon mempercepat langkahnya menuju ke parkiran mobil. Setelah memasuki mobil di melajukannya dengan kecepatan tinggi.


...***...

__ADS_1


Cindy meringis kesakitan. "Tahan ya mam," kata Irene mencoba menenangkan Cindy. Mobil yang dikendarai seorang mahasiswi yang satu kampus dengan Cindy akhirnya berhenti di depan ruang UGD rumah sakit.


Irene menuntun Cindy sampai ia membaringkan tubuhnya di atas brankar. "Tolong teman saya," ucapnya pada perawat tersebut.


"Mbak, kalau gitu saya pamit ya," kata mahasiswi yang mengantar Cindy sampai ke rumah sakit.


Irene menggenggam tangan gadis itu. "Terima kasih banyak sudah menolong, semoga Tuhan membalas kebaikan anda, Mbak," ucap Irene tulus dari dalam hatinya.


Tak lama kemudian, Irene mendapatkan telepon dari Alan. "Gue di rumah sakit Mitra Persada, Lan." Irene memberi tahu keberadaannya. Alan pun menyusul kedua temannya.


Di tengah perjalanan Devon baru ingat kalau di dalam pesan tersebut tidak menyebutkan dimana Cindy dirawat. Lalu ia menepikan mobilnya kemudian menelepon nomor yang telah mengirim pesan kepadanya.


"Hallo, dimana Cindy dirawat?" Tanya Devon to the point.


"Di rumah sakit Mitra Persada," jawab Alan.


Devon mematikan ponselnya kemudian melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke rumah sakit.


Tak butuh waktu lama Devon sampai di rumah sakit tempat kekasihnya itu dirawat.


"Bagaimana keadaan Cindy?" Suara berat itu membuat keduany menoleh.


"Sedang ditangani, Pak," jawab Alan dengan nada bergetar karena takut.


"Bagaimana ceritanya bisa sampai masuk rumah sakit lagi?" Devon berbicara dengan nada tinggi membuat Alan dan Irene menciut.


"Aku tidak apa-apa," sahut Cindy yang baru keluar.


"Sayang." Tangan Devon meraih tangan Cindy untuk membantunya berjalan.


"Aku tidak apa-apa, seharusnya Irene juga mendapatkan perawatan, bagaimana dengan sikumu?" Tanya Cindy yang mengkhawatirkan keadaan temannya.

__ADS_1


"Tidak apa, ini cuma luka kecil," jawab Irene.


"Alan sebaiknya kamu antarkan Cindy untuk mengobati lukanya!" Perintah Cindy pada teman laki-lakinya itu. Alan mengangguk.


"Apa kamu yakin tidak perlu dirawat di rumah sakit?" Tanya Devon khawatir. Cindy mengaggeleng.


"Baiklah, ayo sayang aku antar kamu pulang, apa kamu kuat buat jalan?" tanya Devon pada kekasihnya.


"Iya aku sudah lebih baik."


Devon membantu Cindy berjalan sampai masuk ke dalam mobil. Kemudian dia memutar menuju ke kursi kendali mobil. Setelah itu mereka meninggalkan halaman rumah sakit.


"Maaf ya sudah membuat kamu khawatir," ucap Cindy.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa terluka lagi?" Tanya Devon penasaran.


"Oh, aku terpeleset tidak sengaja perutku terbentur sesuatu yang keras," bohong Cindy. Dia tidak mau membahas perkelahiannya dengan Dira.


"Lain kali hati-hati ya!" Devon mengusap rambut kekasihnya sayang.


Tak lama kemudian Cindy dan Devon tova di apartemen. Devon mengangkat tubuh Cindy tiba-tiba. "Eh mau ngapain?" Tanya Cindy yang terkejut saat tubuhnya terangkat.


"Aku akan menggendongmu sampai ke atas."


"Jangan! Aku tidak mau orang-orang melihat kita," tolak Cindy.


"Tenang saja apartemen ini sepi karena ini jam kerja, jadi mereka tidak ada di rumah mereka," kata Devon.


Cindy tidak bisa menolak. Devon mulai memasuki lift naik ke lantai atas. Tangan Cindy mengalung ke leher Devon untuk berpegangan. Wajah Devon sangat dekat dengan wajah kekasihnya. Ia memperhatikan bibir merah merona itu. Laki-laki itu tak tahan untuk tidak menciumnya.


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


Mas Devon mah sukanya nyosor ya dears. Hihihi. Oh iya aku kasih visualisasinya mas Devon ya kita-kira cocok apa gak nih?



__ADS_2