
"Bay, bagaimana keadaan sopirku?" Tanya Devon.
"Lukanya tidak terlalu parah, tapi harus dirawat di rumah sakit untuk sementara. Oh ya pak saya menemukan hal menarik tentang pak Arya," lapor Bayu.
"Apa itu?" Tanya Devon penasaran.
"Dia pernah menjalin hubungan serius dengan nyonya Siska. Bahkan mereka hampir saja menikah tapi rencana mereka gagal karena nyonya Siska memutus hubungan secara sepihak. Itu yang saya dengar dari informan saya pak."
"Lalu apa ada hubungannya denganku?" Tanya Devon.
"Saya hanya menduga pak. Kemungkinan karena nyonya Siska menggagalkan pernikahannya dengan anda sehingga Arya membalas dendam pada anda." Bayu memberikan pendapatnya.
"Hmm, kau benar. Tapi kita harus membuktikannya apakah kecurigaanmu itu benar apa tidak. Oh ya, sepertinya kita akan mengurangi karyawan kita Bay, tolong siapkan pesangon yang cukup untuk beberapa karyawan yang diberhentikan. Aku tidak mau ada kericuhan."
"Baik, Pak." Bayu mengangguk paham.
Setelah itu, Devon mengambil jasnya lalu keluar ruangan. Bayu mengekori dari belakang. "Maaf harus merepotkanmu," kata Devon ketika dia menaiki mobil Bayu.
Bayu hanya mengangguk tak banyak bicara.
...***...
Cindy berpikir untuk mencari cara membantu suaminya. "Aku tidak mungkin berpangku tangan, Mas Devon sedang kesulitan keuangan aku sebagai istri yang baik harus membantunya."
Lalu dia berpikir untuk menghubungi Irene. "Ren kamu bisa kerja sama aku nggak?" Pinta Cindy melalui sambungan telepon.
"Maksudnya gimana mam?" Tanya Irene tidak mengerti.
"Kamu bantu aku kerja di toko rotiku, kita kembangkan sama-sama. Oh ya aku juga berencana mengajak Irma."
"Lah kerajaanku di kantornya pak Devon bagaimana?" Tanya Irene.
"Nanti aku yang bilang sama suamiku. Lagipula kenapa Tommy masih membiarkanmu bekerja sebagai cleaning servis? Tega sekali dia membiarkan kekasihnya mengerjakan pekerjaan berat," gerutu Cindy di telepon.
Irene terkekeh mendengar omongan Cindy. Dia tahu kalau Cindy sangat peduli dengannya. "Ya sudah kapan aku mulai kerja?" Tanya Irene.
"Besok pagi."
Ceklek
"Sayang, sedang menelepon siapa?" Tanya Devon yang baru masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Cindy kemudian mengakhiri panggilannya. "Sama Irene mas. Oh ya Mas, aku ingin mengajak Irene bekerja denganku di toko rotiku," kata Cindy.
"Ya boleh, lagipula aku harus mengurangi beberapa karyawan sayang. Aku juga harus mengurangi asisten rumah tangga, apa kau setuju?" Devon meminta pendapat istrinya.
"Harus ya?" Devon mengangguk.
"Baiklah, aku tidak perlu sopir kemana-mana aku bisa naik ojek kok. Lalu aku juga bisa memasak sendiri. Tapi sisakan satu orang untuk mengurus rumah yang besar ini Mas. Aku harus bekerja di toko rotiku kembali jadi aku tidak sempat mengurus rumah. Bayangkan rumah sebesar ini..."
"Baik, tuan putri." Devon menyela omongan istrinya.
Cindy terkekeh malu karena dia sangat cerewet.
Usai membersihkan badan Devon dan Cindy turun ke ruangan tengah. Lalu salah seorang asisten rumah tangganya diminta memanggil teman-temannya.
"Saya ingin bicara sama kalian," kata Devon berat hati.
"Kami sedang kesulitan keuangan jadi kami ingin merumahkan beberapa orang dan hanya menyisakan satu asisten rumah tangga saja," kata Devon.
"Kalian akan mendapatkan gaji utuh bulan ini juga sedikit pesangon dari kami, suatu saat jika kami butuh kalian, maka kalian akan kami panggil kembali untuk bekerja," kata Cindy.
"Baik, nyonya," jawab mereka serempak.
...***...
"Pak, tapi kami ingin bekerja di sini!" Protes salah satu karyawan.
Devon menghela nafas. "Kami pun ingin kalian tetap bekerja pada kami. Tapi apa kalian mau bekerja tanpa menerima gaji?"
Pertanyaan itu membuat semua orang bungkam. "Percayalah kalian pasti akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekarang. Saya akan merekomendasikan kalian ke beberapa pimpinan perusahaan yang saya kenal."
Para karyawan itu tersenyum lebar mendengar keputusan Devon. Mereka seolah mendapatkan harapan.
"Bayu, tolong tanyakan lowongan kerja ke beberapa perusahaan kolega kita agar mereka bisa melamar ke sana!" Ucap Devon dengan ekspresi datar.
"Baik, Pak."
"Anda baik sekali pak. Mungkin pimpinan lain akan memecat tanpa mempedulikan nasib mereka ke depannya. Tapi anda memikirkan nasib mereka Pak." Bayu hanya membatin omongannya di dalam hati.
...***...
Irene datang pagi-pagi ke rumah Cindy. "Tumben rumahnya nggak ada yang jaga," pikirnya.
__ADS_1
Irene masuk lalu mengetuk pintu. "Eh mbak Irene."
"Kok sepi pada kemana mbok?" Tanya Irene pada asisten rumah tangga di rumah Cindy. "Semua orang sedang tidak ada di rumah. Pak Devon bekerja, Bu Cindy mengantarkan anaknya ke sekolah."
"Oh Cello sudah sekolah ya?"
"Iya."
"Eh ada pesan masuk." Irene membaca pesan dari Cindy.
"Kalau gitu saya permisi," pamit Irene pada asisten rumah tangga Cindy.
Irene diminta langsung datang ke toko roti Cindy. Ketika dia sampai di sana Irene sudah melihat Irma.
"Elo di sini juga?" Tanya Irene.
"Gue diajak Cindy buat kerja."
"Emang elo bisa buat kue?" Tanya Irene ragu.
"Kalau Irma nggak bisa buat kue, kita ajari," sahut Cindy yang baru datang.
"Elo nggak salah ngajak dia mam?" Tanya Irene berbisik di telinga Cindy.
Cindy mengerutkan keningnya. "Irma sudah berubah Ren. Lagipula dia tidak ada kerjaan apa salahnya kita ajak kerjasama. Bukan begitu Irma?" Irma mengangguk.
"Bukankah semua orang punya kesempatan memperbaiki diri? Aku ingin kalian bisa membantuku memajukan usahaku ini karena perusahaan suamiku sedang collapse jadi dia butuh suntikan dana untuk memajukan kembali perusahaannya. Aku harap dia tidak sampai berhutang milyaran ke bank. Kalau bisa biar aku saja yang mensuplai dananya."
"Daebak, keren lo Mam." Irene memberikan dua jempol.
"Yuk mulai kerja, nanti jam sepuluh aku harus sudah ada di sekolahan Cello buat jemput dia," kata Cindy.
...***...
Jam menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh menit. "Ya ampun aku hampir lupa menjemput anakku." Cindy melepas apron yang ia pakai lalu berlari ke luar untuk menunggu ojek.
Irene dan Irma miris melihat keadaan Cindy. "Roda itu berputar kan? Ada kalanya di atas ada kalanya di bawah," kata Irma dengan lirih.
"Iya, tapi kapan aku akan berada di atas?" Irene melamun membayangkan nasibnya yang tak kunjung berubah.
"Bukankah kamu pacaran sama Tommy, kenapa dia membiarkanmu bekerja berat?" Tanya Irma.
__ADS_1
"Baru pacaran kan bukan menjadi istri," jawab Irene malas. Kalau diingat-ingat Tommy tidak pernah memberikan perhatian lebih. Mereka hanya bertemu, makan, lalu mengirim pesan lewat handphone.
"Ah sudahlah, aku kesal sendiri kalau ingat dia." Tiba-tiba mood Irene jadi buruk.