Click Your Heart

Click Your Heart
Part 36


__ADS_3

Cindy melihat-lihat barang yang akan dibeli di minimarket tersebut. Matanya tak sengaja mengarah pada seorang laki-laki yang mendekati ibu-ibu yang akan membayar di kasir.


"Wah mau nyolong," gumam Cindy.


Cindy pun mengikuti laki-laki itu sampai keluar setelah ia berhasil menggasak dompet ibu-ibu tersebut. Cindy berjalan mendahului laki-laki bertopi itu lalu sengaja menabraknya. Diam-diam ia mengambil dompet yang diselipkan di saku celananya.


"Sorry, Bang," ucap Cindy lalu berjalan menjauh.


Preman itu merogoh saku celananya. Ia menyadari wanita yang menabraknya itu telah mengambil dompet yang ia curi. "Heh, kembaliin dompet itu!" Teriak sang pencopet.


Cindy pura-pura tidak dengar dan mencoba menyembunyikan dompet yang ia ambil di dalam bajunya. Laki-laki itu ingin mengambilnya tapi Cindy menepis tangannya saat tangan pencopet itu memegang bahu Cindy.


"Atau gue teriakin maling nih, biar orang-orang pada gebukin lo, hah?" Ancamnya pada pencopet itu.


"Sialan, awas lo gue inget-inget muka lo!" Pencopet itu mengancam balik tapi Cindy tida takut.


"Huu, dasar!"


Cindy pun kembali ke minimarket dan mengembalikan dompet itu pada pemiliknya.


"Mbak dompet saya hilang," kata ibu-ibu yang menyadari dompetnya tak ada di dalam tas ketika ia akn membayar di kasir. Tak lama setelah itu Cindy datang.


"Bu, maaf ini dompet ibu, saya mengambilnya dari laki-laki yang mau mencopet dompet ibu tadi," Cindy berterus terang.


Ibu itu mengerutkan keningnya. "Kalau ibu tidak percaya ibu bisa lihat CCTV di toko ini," kata Cindy agar qanita di hadapannya itu percaya.


"Baiklah, saya percaya sama kamu. Terima kasih banyak atas bantuannya. Siapa nama kamu, nak?" Tanya wanita bernama Maya itu.


"Saya Cindy," ucapnya memperkenalkan diri.


"Ini untuk kamu Cindy." Maya memberikan sejumlah uang pada Cindy tapi Cindy menolaknya.

__ADS_1


"Saya tidak mengharapkan imbalan, Bu. Saya ikhlas membantu ibu." Tolaknya dengan halus lalu Cindy pergi. Ia tak jadi membeli camilan.


Cindy naik ojek untuk kembali ke apartemennya. Ia naik ke unitnya dan mengerjakan skripsinya.


"Non, makan dulu sudah bibi masakkan untuk non," kata Bi Mona mengingatkan.


"Bentar lagi, Bi. Nanggung ini," kata Cindy. Tatapannya masih ke depan layar laptopnya.


Cindy pun mengabaikan makan siangnya. Bi Mona yang perhatian lalu menyediakan sirup dan camilan buah untuk Cindy. Ia masih sibuk mengetik di depan laptopnya.


Menjelang sore hari Cindy mandi lalu ia kembali bekerja di depan laptopnya. Bi Mona sudah mengingatkan Cindy berkali-kali agar makan dulu tapi tak ia hiraukan.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Cindy berdiri dan membukakan pintu. "Tommy?"


Tommy sengaja membeli pizza kesukaan Cindy. Tommy melihat Cindy begitu menggemaskan ketika ia berpenampilan apa adanya. Gadis itu menyepol rambutnya lalu menggunakan daster lucu rumahan ala anak muda dan sandal jepit. Yang beda kali ini adalah Cindy memakai kacamata bulat tapi cocok sekali dipakainya.


"Yuk, masuk!" Ajak Cindy. Tommy mengangguk.


"Eh Den Tommy," sapa Bi Mona.


"Bi, tolong buatin minum ya!" Pinta Cindy pada asisten rumah tangganya. Bi Mona mengangguk paham. Dia oun pergi ke dapur.


"Duduk!"


"Kamu lagi ngerjain apa?" Tanya Tommy yang mengintip ke laptop Cindy.


"Bahan skripsi."


Kini Tommy membuka jasnya lalu memggulung kemeja yang ia kenakan sampai ke siku. Ototnya yang kekar jelas terlihat dan nampak sek*si di mata Cindy. "Ya ampun gue ngliatin apa sih?" Batin Cindy.

__ADS_1


"Eh aku makan ya pizzanya," Cindy meminta izin.


"Iya makan aja, emang sengaja beli bua kamu," jujur Tommy.


"Omo, baik banget masih inget aku," goda Cindy. Mereka pun tertawa bersama.


Bi Mona merasa lega akhirnya majikannya itu mau makan meski hanya pizza saja. Setidaknya ada yang masuk ke perutnya.


Setelah lama berbincang Tommy pamit pulang. "Makasih ya buat makanannya," ucap Cindy.


"Oke nggak masalah, kalau kamu pengen sesuatu bilang sesuatu bilang aja," kata Tommy. Cindy mengangguk.


Tommy masuk ke dalam unitnya. Ia tersenyum mengingat hari ini ia bisa ngobrol lama dengan wanitaa yang ia sukai.


Tak lama kemudian Tommy mendapat telepon dari mamanya. "Hallo, Ma."


"Tom, kamu kapan pulang ke rumah, mama sudah kangen sama kamu," kata Maya melalui sambungan telepon.


"Tommy masih sibuk, Ma."


"Alah kamu alesan bilang saja kalau kamu malas ditanya soal pacar. Apa sampai sekarang kamu belum menemukan pasangan yang cocok Tom?" Tanya sang ibu.


"Sudah, Ma. Tapi aku belum menyatakan perasaanku padanya."


"Tunggu apa lagi? Asal dia bukan istri orang kejar terus!"


Tommy terkekeh mendengar ocehan sang ibu. "Tommy mau istirahat, Ma. Besok harus kerja lagi." Tommy menutup teleponnya.


Ia meletakkan ponselnya di atas nakas. Pemuda itu mulai membuka baju dan masuk ke dalam kamar mandi. Tommy menyiram keppalanya dengan air yang turun dari shower.


"Cindy, aku harap kamu bisa menjadi milikku suatu hari nanti," ucapnya ketika mandi.

__ADS_1


__ADS_2