
"Apa maksud kamu Ren?" Tanya Cindy bingung.
"Jadi apa Arya itu adalah mantan kekasih ibumu?" Tanya Irene pada Ruby.
"Darimana Tante tahu?" Tanya Ruby.
"Sekarang aku tahu motifnya. Kemungkinan Arya ingin menjatuhkan Pak Devon karena dia dianggap penyebab putusnya hubungan antara Ibunya Ruby dan Arya."
"Benarkah? Tapi dia terlihat seperti orang baik. Aku sudah tiga kali ditolong olehnya," kata Cindy.
"Jangan tertipu oleh topeng mereka. Orang palsu akhirnya menunjukkan warna aslinya. Tunggu saja sampai topeng mereka perlu dibersihkan," kata Irene.
"Kemungkinan dia hanya mau mendekati kamu mam," imbuhnya. Cindy masih mencerna omongan Irene.
"Aku juga tidak suka pada om Arya, entah kenapa setiap dia menatapku aku merasa risih," sahut Ruby.
...***...
Hari ini Darren sengaja pulang cepat karena dia sedang tidak bersemangat bekerja. "Bay, bisa kau handle kantor hingga jam pulang nanti? Aku sedang tidak enak badan."
"Baik, Pak. Apa perlu saya antar sampai rumah?" Bayu menawarkan tumpangan.
"Tidak, waktumu akan tersita jika bolak-balik mengantarku. Sebaiknya kamu fokus pada pekerjaanmu saja."
Setelah itu Devon ke depan hotel. Bukan pemandangan baru lagi Devon menaiki ojek. Dia tidak merasa minder sedikitpun meski banyak karyawan yang membicarakan dirinya di belakang.
Tak lama kemudian Alan lewat di depan Devon. Alan menepikan motornya. "Wah motor baru Lan?" Tanya Devon.
"Iya pak. Pak Devon mau kemana?"
"Saya mau pulang dan sedang menunggu ojek online pesenan saya," jawab Devon dengan jujur.
Meski tak percaya dengan omongan Devon. Alan menawarkan tumpangan padanya. "Pak, mau bareng saya? Kebetulan kita searah."
"Baiklah, aku nebeng kamu saja," kata Devon tanpa ragu. Alan mengulas senyum karena Devon tidak gengsi naik motor.
"Saya tidak tahu kalau kalian sedang kesulitan masalah uang pak hingga harus naik ojek. Padahal orang sekaya anda bisa saja naik taksi," batin Alan dalam hati.
Sesampainya di depan gerbang rumah Devon Alan mengehentikan motornya. "Sudah sampai pak."
Devon melepas helmnya. "Terima kasih banyak Lan. Berkat kamu saya tidak perlu membayar ojek," kata Devon sambil terkekeh.
Alan tidak pernah sedekat ini dengan suami sahabatnya itu. "Saya permisi," pamit Alan lalu pergi meninggalkan Devon.
Ketika sampai di dalam rumahnya Cindy belum pulang. Devon melempar jasnya ke sembarang arah. Lalu mengendurkan dasi yang ia pakai.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya pengangguran," gumamnya ketika sedang merebahkan diri di atas ranjangnya yang empuk.
"Apa aku juga harus menjual rumah mewahku ini?"
Tak lama kemudian Cindy masuk bersama Cello. Cello memang diajak toko roti tiap habis pulang sekolah karena mereka tidak memiliki baby sister lagi.
"Papa," Cello naik ke atas tubuh ayahnya.
"Hei, kamu baru pulang?"
"Papa kapan sampai?" Tanya Cello.
"Baru saja," jawab Devon sesaat kemudian dia menoleh ke arah istrinya.
"Mas sudah makan?" Tanya Cindy.
Devon menggeleng. "Baiklah, aku siapkan makanan dulu ya, kamu mandi sekalian ajak Cello mandi juga badannya udah bau asem."
"Cello masih wangi mama," jawab Cello.
"Ayo Cello kita main air di kamar mandi," ajak Devon.
Cello tertawa ketika Devon mengangkatnya seperti terbang sampai masuk ke dalam kamar mandi. Ini kali pertama Devon memandikan putranya.
"Rasanya menyenangkan sekali bisa bermain denganmu."
..."Sesibuk apa pun, sejauh apapun pergi, keluarga merupakan tempat pulang. Uang dan popularitas tak mampu membayar kebersamaan dengan keluarga."...
Selama ini Devon telah mengabaikan itu hanya karena waktunya sibuk bekerja di kantor.
"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Cindy pada kedua lelakinya.
"Sudah ma," jawab Devon dan Cello kompak.
"Ayo kita makan bersama mama sudah siapkan makanan yang enak untuk kalian."
Berkumpul dengan keluarga sangat jarang dilakukan oleh Devon. "Melihat senyum kalian sudah membuatku bahagia," batin Devon.
...Ucapkan syukur saat kamu bisa duduk bersama dengan keluarga karena ada seseorang di suatu tempat yang ingin sekali berkumpul bersama keluarganya....
...***...
"Bagas kamu sudah lakukan apa yang aku suruh?" Tanya Darren.
"Sudah pak. Semua saham yang dimiliki Arya sudah jatuh ke tangan kita."
__ADS_1
"Bagaimana caranya?" Tanya Darren.
"Dengan menaikkan harga saham pak."
"Berapa yang kau tawarkan?"
"Saya hanya menawarkan satu setengah kali harga awal dia langsung menyetujuinya."
"Itu berarti dia tak benar-benar menginginkan saham yang dimiliki Devon," Darren berpendapat.
"Betul Pak. Bahkan yang saya dengar kalau Bu Siska pernah menawari harga yang lebih tinggi dia tidak mau menjualnya. Karena dia tahu Bu Siska bekerjasama dengan pak Devon."
"Jadi dia tidak tahu kalau uang membeli sahamnya saat ini adalah kakaknya Devon?" Tanya Darren.
"Tidak pak. Sepertinya dia kurang teliti."
"Bagus, itu menguntungkan untuk kita. Ayo ikut aku ke kantor anak sialan itu," kata Darren seraya melangkahkan kaki menuju ke kantor Devon.
Brak
Devon kaget ketika Darren tiba-tiba menggebrak mejanya. "Kau ini bodoh atau apa? Mengelola bisnis saja tidak mampu," cibir Darren.
Devon hanya mendengus kesal. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Devon pada kakaknya.
Darren melempar sebuah berkas ke meja adiknya. "Aku telah membeli seluruh saham yang dibeli oleh Arya. Sekarang aku pemilik saham terbesar di perusahaanmu," kata Darren dengan angkuh.
Devon mengulas senyum lebar di wajahnya. "Terima kasih, Bang," kata Devon. Meski Darren yang memiliki saham terbesar di perusahaannya ia tak jadi masalah karena Darren adalah keluarganya jadi dia tidak akan mengkhianati adiknya sendiri.
"Ingat! Sekarang kau bekerja denganku," kata Darren lalu meninggalkan ruangan Devon.
Devon bersorak girang saat ia mendapat kabar gembira dari kakaknya. "Bay, aku tidak akan miskin lagi Bay. Semua sahamnya sudah dibeli abangku," kata Devon menyampaikan informasi pada asisten pribadinya.
"Selamat pak."
"Aku akan menyampaikan kabar bahagia ini pada istriku."
"Lalu apa rencana kita pada Arya pak? Apa kita perlu membalas perbuatannya?" Tanya Bayu.
"Tidak perlu. Sahamnya sudah beralih jadi tidak masalah bagiku. Lagipula dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya uang hasil penjualan saham aku yakin tidak akan bertahan lama di tangan orang seperti dia.
...***...
Di tempat lain, Arya sedang bersenang-senang dengan wanita penghibur di sebuah bar. "Ayo minumlah semuanya aku yang traktir," teriak Arya dalam keadaan di bawah pengaruh alkohol.
"Sayang darimana kau mendapatkan banyak uang?" Tanya salah seorang wanita yang sedang berada di pelukannya.
__ADS_1
"Aku menjual sahamku dengan harga yang sangat tinggi. Percayalah hartaku tidak habis tujuh turunan," racau Arya.
Tak jauh dari tempat Arya duduk, Lisa mengamati laki-laki Yang sedang mabuk berat itu. "Benarkah hartanya sebanyak itu?" Gumam Lisa seraya menggoyang-goyangkan gelasnya yang berisi alkohol bercampur es batu. Wanita itu menarik ujung bibirnya.