
"Sampai kapan kamu menyembunyikan kenyataan kalau aku tidak bisa memberikan anak untukmu, Mas?" Tanya Irene dengan nada bergetar.
"Entahlah," jawab Tommy cuek. Laki-laki itu hendak melangkah ke kamar mandi tapi tangannya dicekal oleh Irene. "Jangan menggantungku, beri aku kepastian!" Tegasnya seraya menatap Tommy dengan mata yang merah.
"Kamu tahu apa yang akan terjadi padamu setelah aku menceraikanmu?" Tommy meminta Irene menebak.
"Ya, meskipun tak akan ada yang menikahiku nanti tidak masalah, aku tidak mengkhawatirkannya. Aku hanya mengkhawatirkanmu Mas. Apa jadinya dirimu jika keluarga besarmu tahu kau tidak bisa memiliki keturunan?" Irene berbalik memberikan pertanyaan yang menyudutkan Tommy.
"Kenapa kamu bersikeras untuk cerai?"
"Aku tahu kamu sudah tidak menginginkanku jadi untuk apa kamu mempertahankan ku?" Tanya Irene dengan nada bergetar.
"Hentikan omong kosongmu! Jangan suka membuat kesimpulan sendiri!" Tommy memperingatkan istrinya. Lalu ia meninggalkan Irene masuk ke dalam kamar mandi.
Tommy segera menyalakan shower lalu mengguyur badannya yang masih berbalut pakaian lengkap di tubuhnya. Ia menangis di bawah guyuran air itu. Sekarang ini Tommy merasa dilema. Di satu sisi ia tak mau berpisah dengan Irene tapi di sisi lain ia tak tahu bagaimana reaksi keluarganya nanti jika tahu Irene tak bisa memiliki anak.
Irene memberanikan diri untuk menemui ibu mertuanya. "Ma, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Irene meminta waktu.
"Kemari dan bicaralah sambil duduk!" Maya menepuk bagian sofa yang kosong. Irene duduk perlahan di samping ibu mertuanya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Apa tidak sebaiknya besok saja?"
"Mama sebelumnya aku minta maaf karena apa yang aku bicarakan ini akan sedikit melukaimu." Irene terus mereemaas tangannya yang dingin. Sebenarnya dia sangat gugup di depan Maya tapi kenyataan tak selamanya bisa ditutupi. Irene memilih mengungkapkan kenyataan terlebih dulu dari pada ibu mertuanya tahu dari orang lain.
"Ayo katakan saja jangan sungkan!" Desak Maya sambil memegang tangan Irene yang dingin.
"Ma, sebenarnya kemaren kami bukan pergi ke kampung halamanku untuk menjenguk orang tuaku yang sakit melainkan akulah yang sakit."
"Kau sakit apa, nak?" Maya terlihat mencemaskan Irene.
Belum sampai ia berbicara Irene menangis duluan. Entah kenapa lidahnya kelu saat ia ingin mengungkapkan apa yang ia alami pada ibu mertuanya.
Satu jam Tommy menghabiskan ritual mandinya. Namun, saat ia keluar ia tak melihat sang istri. Tommy pun panik dan segera keluar dari kamar, beruntung dia telah memakai pakaian usai mandi. Tommy menuruni anak tangga setengah berlari.
"Irene," panggil Tommy ketika Irene terlihat membuka mulut.
__ADS_1
Irene dan Maya menoleh pada Tommy. Tommy menggelengkan kepalanya guna melarang Irene buka mulut. "Aku tidak bisa memiliki anak, Ma." Ucapan Irene membuat Maya terkejut.
"Apa yang kamu katakan, Nak. Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Cukup, Ren. Ma jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh Irene." Tommy tak mau sesuatu yang buruk menimpa Irene. Ia takut Maya akan menyuruhnya menceraikan istrinya.
"Mas, kita tidak bisa menyembunyikan rahasia ini terus menerus." Irene beralih menatap Mata. "Maafkan aku Ma sebenarnya aku mengidap kanker rahim sehingga dokter mengangkat rahimku untuk menyelamatkan nyawaku." Ucapan Irene membuat Maya terkejut tapi hal yang tak terduga terjadi.
"Hanya itu masalahnya?" Tanya Maya. Irene dan Tommy saling bertukar pandang.
Maya mendekat pada Irene lalu mengusap wajahnya. "Aku tahu pasti berat untukmu karena tidak bisa memiliki anak, tapi kalian bisa mengadopsi anak bukan?"
"Ma, mama tidak marah padaku?" Tanya Irene dengan perasaan campur aduk.
"Mama marah, mama marah karena kamu tidak bilang kalau kamu sakit. Kamu ingat ketika mama sedang stroke siapa yang merawat mama, bukankah kau sampai cuti kerja untuk merawatku. Kenapa di saat kamu sakit, kamu tidak bilang sama mama? Mama bisa merawatmu."
Irene merasa terharu dan menangis ketika mendengar ucapan ibu mertuanya. Maya memeluk Irene untuk menenangkannya. Tommy yang awalnya merasa khawatir akhirnya merasa lega. Ia tidak ingin berpisah dengan Irene meskipun mereka tidak akan memiliki anak.
Apa yang dikatakan Maya benar. Mereka bisa saja mengadopsi anak. Karena banyak anak-anak di luar sana yang membutuhkan perhatian orang tua dan sayangnya nasib mereka yang kurang beruntung.
"Sstt jangan ucapkan kata-kata itu. Tidak akan ada kata perpisahan di antara kita. Kita ini satu keluarga jadi harus saling mendukung dan menguatkan. Yang kalian alami juga banyak dialami oleh orang lain di luar sana. Yang terpenting abaikan omongan-omongan yang dapat membuat telingamu sakit. Jangan hiraukan orang lain." Irene mengangguk mendengar nasehat ibu mertuanya.
*
*
*
Cindy menanyakan kabar Irene pada Tommy. Lalu Tommy menceritakan semuanya. Cindy merasa lega ketika Maya menerima kekurangan Irene.
"Kamu beruntung Ren memiliki ibu mertua sebaik Tante Maya," gumam Cindy setelah mengobrol lama di telepon dengan Tommy.
"Ada apa sayang?" Tanya Devon.
"Irene mas dia habis operasi pengangkatan rahim karena waktu itu dia terkena kanker rahim."
__ADS_1
"Apa? Jadi dia tidak kan bisa memiliki anak?" Cindy mengangguk.
"Lalu bagaimana tanggapan keluarga Tommy?"
"Kabar baiknya, Tante Maya tidak amarah padanya dia malah kasihan dengan nasib menantunya."
"Dengan kata lain dia menerima kekurangan Irene?" Lagi-lagi Cindy hanya mengangguk.
"Beruntung ya dia memiliki ibu mertua sebaik Tante Maya. Sebenarnya aku iri karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang ibu. baik ibu kandungku maupun ibu mertuaku." Wajah Cindy berubah sendu.
"Sayang, aku pun tidak pernah merasakan kasih sayang ibuku, karena beliau meninggal sewaktu aku masih balita dalam sebuah kecelakaan."
"Tapi apa kau tahu di mana makam ibumu, Mas?" Tanya Cindy. Devon menggeleng. "Entahlah, aku pernah menanyakannya pada ayahku ketika aku mulai beranjak dewasa. Dia bilang ibuku meninggal dalam kecelakaan pesawat jadi mayatnya tidak ditemukan sampai sekarang. Aku pun tidak tahu bagaimana wajahnya."
"Kalau abangmu? Apa dia pernah melihat wajah ibumu?"
"Entahlah apa dia masih ingat, karena usia kami tidak terpaut jauh jadi kurasa saat itu dia tidak mengingatnya."
"Ah, kenapa jadi sedih begini. Mari kita ajak anak-anak sarapan. Bukankah sudah waktunya mereka berangkat sekolah." Cindy berjalan lebih dulu sambil menggendong bayinya.
Cello dan Ruby terlihat sarapan lebih dulu di ruang makan. "Kami sudah selesai," kata Ruby.
"Baiklah, mintalah supir mengantarmu!" Perintah Devon. Ruby menggandeng tangan Cello lalu mereka keluar bersamaan.
Tiga puluh menit kemudian, "Pak, nanti siang tidak usah jemput saya, soalnya saya ada kegiatan tambahan di sekolah," kata Ruby sebelum ia turun.
"Da kakak," Cello melambaikan tangan pada kakaknya. Lalu sang sopir mengantarkan anak laki-laki itu ke sekolahnya.
Ketika di sekolah, Ruby tiba-tiba mendapatkan sambutan tak ramah dari teman-temannya.
Byuur
Seorang temannya mengguyur pakaian Ruby dengan seember air.
Kira-kira apa motif teman-temannya? Apakah mereka akan membully Ruby?
__ADS_1
Kalian bisa komen sebanyak-banyaknya ya